1 Juta Satelit AI SpaceX Bisa Jadi Sampah Antariksa, Simak Risikonya

4 hours ago 3

Selular.ID – Rencana SpaceX menaruh hingga 1 juta pusat data AI di orbit Bumi mulai membuat ilmuwan cemas.

Mengutip laporan CNET, Minggu (14/6/2026), proyek ambisius Elon Musk itu dinilai berisiko menambah sampah antariksa, mengganggu lapisan ozon, hingga menciptakan “kuburan satelit” di luar angkasa.

Rencana itu muncul dalam dokumen yang diajukan SpaceX ke Komisi Komunikasi Federal AS atau FCC pada 29 Mei.

Sepuluh hari kemudian, Musk memberi penjelasan tambahan lewat wawancara video di X.

“Ruang angkasa itu sangat besar. Bukan berarti ruang angkasa akan penuh sesak,” kata Musk.

Ia menyebut satelit-satelit itu sangat kecil dibandingkan Bumi.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Bagi SpaceX, pusat data di luar angkasa bisa menjadi jawaban atas dua masalah besar industri AI di AS.

Banyak warga menolak pusat data dibangun di sekitar tempat tinggal mereka. Pusat data juga menyedot listrik dan air dalam jumlah besar.

Risiko yang Dihadapi

Namun, para ilmuwan melihat sisi lain. Saat ini saja sudah ada lebih dari 15.000 satelit aktif di orbit.

Jika jumlah itu melonjak menjadi 1 juta, risikonya bukan main-main.

Jonathan McDowell, astrofisikawan yang melacak peluncuran satelit, awalnya sulit membayangkan angka sebesar itu.

Namun ia mengingatkan, meremehkan SpaceX juga sering keliru. Perusahaan ini berkali-kali mengubah cara industri antariksa bekerja.

Kekhawatiran terbesar ada pada ketinggian orbit yang dipilih. SpaceX menyatakan lebih dari 500.000 satelit akan ditempatkan di ketinggian 946 hingga 1.002 kilometer.

Menurut Hugh Lewis, profesor astronautika University of Birmingham, wilayah itu sudah lama bermasalah.

“Ini tidak akan berakhir baik,” kata Lewis dikutip CNET.

Di ketinggian tersebut, serpihan satelit sulit jatuh kembali ke atmosfer untuk terbakar. Hambatan atmosfer terlalu rendah.

Artinya, jika satelit rusak, bangkainya bisa bertahan ratusan tahun.

CNET menulis, NASA pada 2006 pernah memperkirakan sampah antariksa akan terus bertambah selama 200 tahun, bahkan tanpa peluncuran baru.

Penyebab utamanya adalah aktivitas tabrakan di ketinggian 900 hingga 1.000 kilometer.

Celakanya, di area itulah SpaceX ingin menaruh hingga separuh pusat data orbitnya.

Satelit pusat data itu disebut AI1. Dalam wawancara Musk, ukurannya disebut 70 meter panjang dan 20 meter tinggi, dengan luas sekitar 1.400 meter persegi.

Itu kira-kira sebesar arena hoki NHL dan sekitar 12 kali lebih besar dari satelit Starlink yang umum beredar sekarang.

Baca juga:

Hanno Rein, astrofisikawan University of Toronto, menyebut skala itu sulit dibayangkan.

Jika rencana serupa diajukan di Bumi, tantangan logistiknya saja sudah besar. Di luar angkasa, masalahnya berlipat.

Risiko lain adalah Sindrom Kessler. Istilah ini merujuk pada keadaan ketika satu tabrakan satelit menciptakan ribuan serpihan.

Serpihan itu lalu memicu tabrakan berikutnya. Jika memburuk, orbit bisa terlalu berbahaya untuk satelit dan perjalanan antariksa.

Masalah tidak berhenti pada satelit aktif. Setelah lima tahun, aturan FCC mewajibkan satelit keluar dari orbit.

SpaceX selama ini menurunkan satelit Starlink hingga terbakar di atmosfer. Namun, cara itu juga menimbulkan persoalan.

Menurut CNET, satelit yang terbakar dapat melepas partikel aluminium dan litium ke atmosfer.

Studi yang didanai NASA dan diterbitkan di Geophysical Research Letters pada 2024 menemukan satelit seberat 550 pon dapat melepas sekitar 66 pon nanopartikel aluminium oksida saat keluar orbit.

Partikel ini dikhawatirkan mengganggu ozon dan memperparah perubahan iklim.

SpaceX menyebut satelit AI1 akan berbobot sekitar 6.600 pon. Jauh lebih berat dibanding satelit V2 yang sekitar 1.760 pon.

Untuk menghindari masalah atmosfer, SpaceX mengusulkan opsi lain yaitu memindahkan satelit mati ke “orbit pembuangan Bumi” atau orbit heliosentris.

Orbit pembuangan berarti satelit didorong ke luar orbit rendah Bumi, yakni wilayah orbit yang relatif dekat dengan Bumi, hingga sekitar 2.000 kilometer.

Orbit heliosentris berarti satelit dikirim keluar dari pengaruh gravitasi Bumi untuk mengorbit Matahari.

Kedengarannya rapi. Praktiknya berat. Lewis menyebut opsi keluar dari gravitasi Bumi butuh bahan bakar besar atau waktu bertahun-tahun.

Selama proses itu, satelit tetap harus menghindari tabrakan.

Ada pula risiko di darat. Dalam dokumen ke FCC, SpaceX menyebut peluang korban akibat serpihan jatuh “kurang dari 0,0001” dan dianggap nol.

Rein tidak sepakat. Menurutnya, angka itu per satelit. Jika dikalikan 1 juta, risikonya menjadi jauh lebih serius.

Promosi IPO SpaceX

Kasus serpihan bukan cerita kosong. Tahun lalu, petani dekat Saskatoon menemukan potongan satelit Starlink seukuran laptop besar di ladang mereka.

Bagian roket juga pernah jatuh di Australia, Argentina, Aljazair, dan Polandia.

Rencana ini datang saat SpaceX saat bersiap melantai di bursa Nasdaq.

Rein menilai sebagian angka dalam dokumen SpaceX ke FCC terasa belum solid.

Ia sulit membedakan mana rencana teknis serius dan mana yang lebih mirip bahan promosi IPO.

Rencana SpaceX memang menawarkan jalan keluar dari masalah pusat data AI di Bumi.

Namun, menurut para ilmuwan yang dikutip CNET, menaruh 1 juta satelit besar di orbit berisiko menciptakan masalah baru yang jauh lebih sulit dibersihkan.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi