AI Jadi Penyelamat Inovasi Smartphone 2026

3 hours ago 1

Selular.ID – Strategi industri smartphone global pada 2026 akan bertumpu pada kecerdasan buatan (AI), di tengah keterbatasan inovasi hardware dan tekanan biaya chipset akibat dinamika geopolitik.

Dalam kondisi tersebut, diferensiasi produk bergeser dari spesifikasi fisik ke kemampuan perangkat mengintegrasikan fitur AI secara luas, termasuk pada segmen menengah hingga entry-level.

Hal tersebut diungkapkan Aryo Meidianto, Pengamat Gadget, dalam bincang eksekutif baru-baru ini. Menurut Aryo, perubahan ini terjadi setelah model lama industry membawa fitur flagship ke kelas menengah tidak lagi sepenuhnya relevan.

Kenaikan harga komponen, terutama chipset, serta gangguan rantai pasok global membuat produsen menghadapi keterbatasan dalam mendorong inovasi berbasis hardware.

Di sisi lain, AI menawarkan jalur alternatif untuk meningkatkan nilai produk tanpa ketergantungan penuh pada peningkatan spesifikasi.

“AI menjadi satu-satunya elemen yang masih bisa dibawa lintas segmen secara efektif. Ini karena pengembangannya lebih berbasis software dan komputasi, bukan semata hardware,” ujar Aryo, di Bincang Eksekutif di Jakarta, (02/04/26).

Ia mencontohkan fitur seperti AI eraser yang sebelumnya hanya tersedia di perangkat flagship, kini mulai dihadirkan di smartphone dengan harga lebih terjangkau.

Fitur ini memungkinkan pengguna menghapus objek dalam foto secara otomatis dengan bantuan algoritma pemrosesan gambar berbasis AI.

Adaptasi semacam ini menjadi strategi penting bagi vendor untuk menjaga daya saing di tengah tekanan biaya produksi.

Perkembangan ini sejalan dengan kematangan teknologi AI generatif, yaitu sistem kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten baru seperti gambar, teks, dan suara berdasarkan data yang dipelajari.

Dalam konteks smartphone, AI generatif digunakan untuk meningkatkan kualitas foto, menyempurnakan teks, hingga menghadirkan asisten digital yang lebih kontekstual.

Implementasi AI di perangkat mobile, menurut Aryo, tetap menghadapi sejumlah tantangan teknis.

Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas penyimpanan dan kemampuan komputasi di perangkat kelas bawah.

AI yang semakin kompleks membutuhkan sumber daya yang lebih besar, sehingga tidak semua fitur dapat berjalan optimal secara lokal atau on-device.

“AI yang semakin kompleks tidak bisa sepenuhnya berjalan optimal di perangkat low-end jika tidak didukung storage dan komputasi yang memadai,” kata dia.

Karena itu, produsen mulai mengombinasikan pemrosesan lokal dengan komputasi berbasis cloud, di mana sebagian beban kerja AI dipindahkan ke server untuk meningkatkan efisiensi.

Selain komputasi, konsumsi daya menjadi faktor penting dalam pengembangan AI di smartphone.

Pemrosesan AI, terutama yang berlangsung secara real-time seperti pengenalan gambar atau suara, membutuhkan energi lebih besar dibandingkan fungsi konvensional.

Hal ini mendorong vendor untuk mengembangkan teknologi baterai yang lebih efisien serta sistem manajemen daya berbasis software.

Di sisi lain, kesiapan infrastruktur jaringan menjadi elemen yang tidak terpisahkan dari pengembangan AI.

Aryo menyoroti bahwa pemanfaatan AI generatif secara optimal membutuhkan dukungan jaringan berkecepatan tinggi dan latensi rendah, seperti 5G.

Jaringan ini berperan penting dalam mendukung komunikasi antara perangkat dan layanan cloud.

“Tantangan terbesar bukan hanya di perangkat, tetapi juga pada infrastruktur jaringan yang belum sepenuhnya siap mengakomodasi kebutuhan AI,” jelas Aryo.

Ia menambahkan bahwa pengalaman pengguna akan sangat bergantung pada stabilitas dan kecepatan jaringan, terutama untuk fitur yang mengandalkan komputasi jarak jauh.

Perubahan arah industri ini juga tercermin dalam strategi bisnis para vendor smartphone global.

Alih-alih berfokus pada peningkatan spesifikasi seperti kamera atau prosesor, perusahaan mulai membangun ekosistem AI sebagai nilai jual utama.

Strategi ini mencakup integrasi layanan cloud, pengembangan model AI internal, serta kolaborasi dengan penyedia teknologi untuk mempercepat adopsi.

Langkah tersebut menjadi respons terhadap stagnasi inovasi hardware yang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan siklus inovasi yang semakin pendek, AI memberikan ruang diferensiasi yang lebih fleksibel dan berkelanjutan bagi produsen.

Ke depan, integrasi AI diperkirakan akan menjadi fondasi utama dalam pengembangan smartphone, mencakup berbagai aspek seperti fotografi, produktivitas, keamanan, hingga personalisasi pengalaman pengguna.

Baca Juga:Google Uji Fitur Baru, Pengguna Bisa Ubah Alamat Gmail

Pernyataan Aryo menunjukkan bahwa transformasi industri tidak hanya bergantung pada kemampuan perangkat, tetapi juga kesiapan ekosistem yang lebih luas, termasuk jaringan dan infrastruktur digital yang menopang operasional AI.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi