AS Fokus ke Timteng, China Dinilai Perluas Manuver di Indo-Pasifik

9 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada aspek kemanusiaan dan keamanan regional, tetapi juga dinilai mulai mengubah lanskap strategis global.

Sejumlah pengamat menilai, fokus Amerika Serikat yang tersedot ke kawasan tersebut membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruhnya di Asia, khususnya Indo-Pasifik.

"Perhatian, sumber daya, dan energi diplomatik Washington yang terpusat di Timur Tengah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi Beijing," ujar Presiden Center for Indo-Pacific Strategic Studies, Profesor Pema Gyalpo, dalam keterangannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"China tidak perlu memicu krisis baru di kawasan Asia, melainkan cukup memanfaatkan momen ketika perhatian global teralihkan," sambungnya.

Pola semacam itu dinilai bukan hal baru, sebut Gyalpo, Dalam dua dekade terakhir, periode keterlibatan intensif AS di Timur Tengah kerap diiringi dengan peningkatan aktivitas strategis China di Asia. Selama perang Irak pada 2003-2008, misalnya, Beijing memperluas kehadirannya di Laut China Selatan dengan relatif minim tekanan eksternal.

Situasi serupa juga terlihat pada 2021, ketika AS menarik pasukannya dari Afghanistan. Pada periode tersebut, Taiwan mencatat lebih dari 900 penerbangan pesawat militer China ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ), angka tertinggi yang pernah tercatat.

"Aktivitas tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan bertahap yang dikalibrasi sesuai kondisi global," tutur Gyalpo, yang pernah menjadi perwakilan Dalai Lama untuk Jepang selama 15 tahun.

Keterbatasan distribusi kekuatan militer AS dinilai menjadi faktor penting. Kehadiran satu kelompok tempur kapal induk, yang melibatkan sekitar 7.500 personel dan kemampuan tempur udara canggih, memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan kekuatan. Ketika aset tersebut difokuskan ke kawasan seperti Mediterania Timur atau Laut Merah, kehadirannya di Pasifik Barat otomatis berkurang.

Padahal, strategi Indo-Pasifik AS-yang dijalankan melalui kerja sama seperti AUKUS dan Quad-sangat bergantung pada kehadiran militer di garis depan serta sinyal deterensi yang kredibel. Gyalpo mengatakan, pengurangan kecil dalam kehadiran tersebut dinilai dapat mengubah kalkulasi strategis di kawasan.

Isu Taiwan dan India

Dampaknya terlihat di sekitar Taiwan dan wilayah sensitif lain di sekitar China. Dalam beberapa tahun terakhir, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) meningkatkan latihan militer yang mencakup simulasi blokade, operasi amfibi, serta manuver gabungan laut dan udara.

Selain itu, pelanggaran berulang terhadap garis tengah Selat Taiwan, yang sebelumnya berfungsi sebagai batas tidak resmi, dinilai telah mengikis norma lama. Gyalpo menilai, setiap pelanggaran yang hanya direspons dengan protes rutin tanpa tindakan lebih lanjut berkontribusi pada normalisasi situasi baru di kawasan.

Pola serupa juga terlihat di perbatasan India-China, meski dalam konteks berbeda. Bentrokan di Lembah Galwan pada Juni 2020 terjadi setelah mobilisasi militer China yang berlangsung selama berminggu-minggu, bertepatan dengan periode ketika India tengah menghadapi dampak awal pandemi Covid-19 dan perhatian global terpecah.

Pascainsiden tersebut, dinamika di kawasan perbatasan berkembang secara lebih senyap, dengan kombinasi penarikan pasukan sebagian dan pembangunan infrastruktur oleh China di sepanjang Line of Actual Control (LAC). Pengamat menilai, langkah-langkah ini secara kolektif mengubah keseimbangan strategis tanpa memicu konflik terbuka.

Strategi global China

"Pendekatan China lebih mengandalkan akumulasi tindakan kecil yang sulit ditentang secara individual, tetapi signifikan jika dilihat secara keseluruhan," sebut Gyalpo.

"Hal ini memungkinkan Beijing membingkai ketegangan sebagai isu bilateral, bukan bagian dari persaingan strategis yang lebih luas di Indo-Pasifik," lanjutnya.

Di sisi lain, kata Gyalpo, dominasi perhatian global terhadap konflik Timur Tengah turut mengurangi sorotan terhadap perkembangan di Asia. Kondisi ini dinilai menurunkan biaya politik dan strategis bagi langkah-langkah bertahap yang dilakukan China.

Dinamika ini disebut Gyalpo bukan sekadar oportunisme jangka pendek, melainkan bagian dari pola struktural dalam strategi China. Ia mengatakan Beijing cenderung memanfaatkan periode ketika pengawasan global melemah untuk melakukan penyesuaian bertahap tanpa memicu eskalasi besar.

"Konflik di Timur Tengah tidak mengubah strategi dasar tersebut, tetapi memperpanjang kondisi yang membuat pendekatannya menjadi efektif," pungkas Gyalpo.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi