Jakarta, CNN Indonesia --
Kawasan Blok M kembali naik daun. Bukan cuma jadi tempat nongkrong anak muda, kawasan legendaris Jakarta Selatan itu kini berubah menjadi ladang cuan baru bagi para pelaku usaha kuliner, fesyen, hingga hiburan kreatif.
Hampir setiap pekan, antrean mengular terlihat di depan toko makanan viral, photobooth estetik, hingga gerai thrifting yang dipenuhi pemburu barang unik. Fenomena ini membuat banyak pebisnis mulai melirik Blok M sebagai lokasi strategis untuk membuka usaha.
Namun di balik ramainya pengunjung dan potensi omzet besar, membangun bisnis di Blok M ternyata tidak murah dan tidak bisa sekadar ikut tren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Joshua Firdaus dari EM Gelato mengatakan kunci awal membangun usaha di Blok M adalah menciptakan sesuatu yang viral dan berbeda dari yang lain.
"Kalau mau bisnis di Blok M menurut saya pribadi sih, lebih ke awalnya mungkin viral. Jadi lebih ke operational dulu dirapikan. Mungkin lama-lama kelamaan lebih ke menu barunya sih. Menemukan yang unik. Itu yang orang bikin penasaran," ujar Joshua kepada CNNIndonesia.com.
Menurut dia, karakter konsumen di Blok M sangat dipengaruhi rasa penasaran dan tren media sosial.
"Karena orang Indonesia kan FOMO-an ya," katanya sambil tertawa.
Joshua menilai bisnis di kawasan tersebut tidak cukup hanya viral sesaat. Pelaku usaha harus terus melakukan inovasi agar pelanggan tetap datang.
"Kalau udah mau sustain sih selalu inovasi," ujarnya.
Namun untuk bisa masuk ke kawasan Blok M, modal yang dibutuhkan juga tidak kecil. Joshua memperkirakan pelaku usaha setidaknya harus menyiapkan dana hingga miliaran rupiah, terutama karena harga sewa ruko ikut melonjak akibat kawasan yang sedang hype.
"Tergantung rukonya ya, mungkin (modalnya) agak sekitar miliaran, karena kan memang takutnya karena ini lagi hype, dari pihak yang punya ruko pun naikin harga," katanya.
Hal senada diungkapkan Ramzul Aghna dari PictureMemories.id atau Pictme Photobooth. Menurutnya, modal usaha di Blok M sebenarnya relatif tergantung jenis bisnis yang dijalankan. Ia mengakui bisnisnya sendiri dibangun dengan modal awal ratusan juta rupiah. Meski tidak menyebutkan secara detail.
"Untuk modal itu kurang lebih awal modal bisnisnya sih 3 digit ya," jelasnya.
Saat itu, bisnis mereka sudah memiliki dua cabang di Bogor dan Bekasi sebelum akhirnya ikut meramaikan Blok M. Bagi Ramzul, lokasi menjadi faktor paling penting sebelum memulai usaha di kawasan tersebut.
"Yang pertama itu tempat sih. Pertama itu kita cari tempatnya, terus juga kita fokusin produk apa yang mau kita jual. Terus yang terakhir itu ya harga," imbuhnya.
Menurut dia, menentukan harga di Blok M juga menjadi tantangan tersendiri. Sebab konsumen di kawasan itu dikenal sensitif terhadap harga, tetapi tetap mencari pengalaman yang menarik.
"Di sini tuh di Blok M itu kita nggak bisa terlalu mahal dan jangan juga terlalu murah," pungkasnya.
(pta/bac)
Add
as a preferred source on Google

16 hours ago
6

















































