China Lawan Sanksi AS ke Lima Perusahaan yang Beli Minyak Iran

23 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

China melawan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap lima perusahaan yang ditargetkan Negara Paman Sam karena membeli minyak Iran.

Mengutip dari AFP, Kementerian Perdagangan China pada Sabtu (2/5) ini menyatakan tak akan mematuhi sanksi AS tersebut. Alih-alih mematuhi, mereka menegaskan sanksi AS itu melanggar hukum internasional.

China adalah pelanggan utama minyak Iran, terutama melalui kilang "teapot" independen yang bergantung pada minyak mentah dengan harga diskon dari Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu terkait perang yang terjadi sejak akhir Februari lalu, AS terus berupaya memutus pendapatan Teheran. Salah satunya meningkatkan sanksi terhadap kilang-kilang tersebut.

Perintah Kementerian Perdagangan China atas sanksi terhadap lima perusahaan penyulingan itu: "Tidak akan diakui, diterapkan, atau dipatuhi."

Dalam pernyataannya, Kemendag China menegaskan bahwa sanksi AS tersebut, "Secara tidak tepat melarang atau membatasi perusahaan-perusahaan China untuk melakukan kegiatan ekonomi, perdagangan, dan kegiatan terkait lainnya dengan negara ketiga... dan melanggar hukum internasional serta norma-norma dasar yang mengatur hubungan internasional."

"Pemerintah China secara konsisten menentang sanksi sepihak yang tidak memiliki otorisasi PBB dan dasar hukum internasional," demikan sambung pernyataan tersebut.

Adapun lima perusahaan China yang sebelumnya dinyatakan terkena sanksi AS itu adalah tiga perusahaan di provinsi Shandong -- Shandong Jincheng Petrochemical Group, Shandong Shouguang Luqing Petrochemical, dan Shandong Shengxing Chemical.

Kemudian dua perusahaan lainnya yang berbasis di tempat lain di China yakni Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery dan Hebei Xinhai Chemical Group.

Pengumuman pemberian sanksi itu disampaikan Washington pada Jumat (1/5) lalu. Perusahaan-perusahaan China itu dijatuhi sanksi karena  telah mengimpor "puluhan juta barel" minyak mentah Iran sehingga menghasilkan pendapatan miliaran dolar bagi Teheran.

Sanksi terbaru ini muncul ketika Washington dan Teheran berada dalam kebuntuan diplomatik, tanpa solusi permanen yang terlihat untuk konflik yang meletus akibat serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi negara asal Panda itu untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini.

(afp/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi