Selular.ID – Cloudera melalui Country Manager Indonesia, Sherlie Karnidta, menegaskan bahwa kesiapan dan tata kelola data menjadi faktor kunci agar perusahaan dapat menuai manfaat maksimal dari adopsi agentic AI dalam skala besar pada 2026.
Pernyataan ini sejalan dengan temuan laporan Deloitte bertajuk “The State of AI in the Enterprise” yang menunjukkan jumlah perusahaan dengan lebih dari 40% proyek AI berjalan di lingkungan produksi diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam enam bulan ke depan.
Di kawasan Asia Tenggara, laporan McKinsey & Company mencatat hampir separuh perusahaan telah melampaui tahap uji coba AI.
Indonesia dan Singapura tercatat sebagai pasar terdepan, dengan 56% perusahaan di Singapura dan 51% di Indonesia melaporkan kemajuan dalam pengadopsian AI skala besar.
Data ini menunjukkan pergeseran dari fase eksperimen menuju implementasi operasional yang lebih matang.
Sherlie Karnidta menjelaskan, setelah melalui berbagai tahap proof-of-concept (POC) dan pengembangan prototipe, organisasi kini menuntut agen AI memberikan dampak bisnis nyata. Tantangan utama yang selama ini dihadapi meliputi skalabilitas, tata kelola, serta pengendalian biaya infrastruktur dan operasional.
Menurutnya, integrasi agen AI dengan data real-time yang terkelola baik serta penyelarasan dengan alur kerja bisnis menjadi prasyarat untuk mendorong adopsi penuh.
Perkembangan teknologi juga bergerak cepat. Anthropic, misalnya, memperkenalkan kemampuan orkestrasi tim agen melalui model Claude untuk mendukung tugas-tugas kompleks di bidang keuangan dan legal.
Integrasi Claude ke dalam platform Cloudera Lakehouse menjadi bagian dari arsitektur Cloudera AI yang dirancang untuk menjalankan model AI di lingkungan on-premise maupun hybrid.
Pendekatan ini memungkinkan organisasi tetap memegang kendali atas data dan model AI, sekaligus memenuhi persyaratan regulasi.
Namun, tantangan data silo masih menjadi hambatan umum. Banyak organisasi memiliki data tersebar di berbagai sistem, baik on-premise maupun cloud, yang menyulitkan konsistensi tata kelola dan kontrol akses.
Tanpa pendekatan terintegrasi, setiap departemen berpotensi mengadopsi tools dan model AI berbeda, memicu fragmentasi serupa dengan era awal Business Intelligence.
Deloitte juga mencatat bahwa meski penggunaan agentic AI diperkirakan melonjak dalam dua tahun ke depan, baru sekitar 20% perusahaan yang memiliki kerangka tata kelola matang untuk mengelola agen AI otonom secara efektif.
Di Asia Tenggara, hampir 90% perusahaan berencana menguji agentic AI pada 2026 berdasarkan laporan McKinsey. Saat ini, implementasi AI masih terkonsentrasi pada fungsi teknis seperti IT dan software engineering, dengan lebih dari sepertiga perusahaan telah memperluas atau sepenuhnya mengadopsinya.
Sebaliknya, pada fungsi yang berinteraksi langsung dengan pelanggan—seperti sales, marketing, pengembangan produk, dan manajemen risiko—adopsi masih berada pada tahap awal.
Kompleksitas integrasi dan risiko reputasi membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mendelegasikan keputusan pada agen otonom.
Cloudera mendorong pendekatan “Private AI”, yaitu arsitektur yang memprioritaskan keamanan, kontrol akses, dan kepatuhan residensi data. Di Indonesia, urgensi ini semakin relevan setelah diberlakukannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang mewajibkan organisasi menjaga keamanan dan kendali atas data pribadi.
Melalui model Private AI, perusahaan dapat menjalankan AI di infrastruktur sendiri tanpa ketergantungan penuh pada satu vendor, sekaligus memastikan visibilitas menyeluruh atas siklus hidup data dan model.
Sherlie menekankan tiga aspek utama yang perlu diperhatikan organisasi: memastikan kedaulatan data agar tetap berada dalam yurisdiksi yang sesuai regulasi; meningkatkan keamanan dengan membatasi paparan data sensitif ke pihak eksternal; serta mempertahankan kendali penuh atas model dan proses AI guna menjaga akuntabilitas.
Fondasi data yang terstandarisasi, metrik yang konsisten, dan tata kelola berkelanjutan dinilai menjadi pembeda antara proyek AI eksperimental dan implementasi yang memberikan dampak bisnis terukur.
Dengan semakin banyaknya pilihan model dan agen AI di pasar, integrasi yang mulus ke dalam data fabric perusahaan menjadi faktor strategis.
Cloudera memandang organisasi yang mampu menyatukan data, tata kelola, dan orkestrasi AI dalam satu arsitektur terpadu akan berada pada posisi lebih siap untuk memanfaatkan potensi agentic AI secara optimal dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Prediksi Cloudera 2026: Perusahaan Tinjau Ulang Metode Adopsi AI Mereka



















































