Cuaca Panas di Makkah, Jemaah Haji Dianjurkan Minum Setiap Jam

2 hours ago 2

CNN Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 06:33 WIB

Cuaca panas ekstrem di Makkah membuat jamaah haji dianjurkan minum 150 ml air per jam untuk mencegah dehidrasi dan heatstroke. Ilustrasi. Jemaah haji diminta perbanyak minum air putih saat menjalankan ibadah. (ANTARA FOTO/Citro Atmoko)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebutuhan cairan jamaah haji meningkat selama cuaca panas ekstrem di Makkah. Bahkan, jemaah disarankan mengonsumsi air mineral sekitar 150 mililiter per jam guna mencegah dehidrasi hingga heatstroke selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Dokter spesialis gizi klinik, Pande Putu Agus Mahendra, mengatakan suhu panas di Makkah dapat membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Kondisi ini terutama terjadi ketika jamaah banyak beraktivitas di luar ruangan dan berjalan kaki dalam waktu lama.

"Usahakan konsumsi air mineral 150 mililiter per jam untuk menjaga hidrasi selama melakukan kegiatan ibadah," kata Pande, seperti dikutip dari Antara, Senin (11/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pande menjelaskan kebutuhan cairan normal orang dewasa umumnya berkisar delapan hingga 10 gelas per hari, dengan ukuran sekitar 250 mililiter per gelas. Namun, kebutuhan cairan dapat meningkat ketika cuaca sangat panas dan aktivitas fisik jemaah lebih tinggi selama ibadah haji.

Jika dihitung, anjuran minum 150 mililiter per jam setara dengan sekitar 3,6 liter cairan per hari apabila jemaah aktif beribadah sepanjang hari di tengah suhu panas ekstrem. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding kebutuhan cairan harian normal orang dewasa pada kondisi biasa.

Sejalan dengan laporan The Atlantic, kebutuhan cairan tubuh memang dapat meningkat saat seseorang aktif di tengah cuaca panas dan kelembapan tinggi. Dalam kondisi tersebut, pria disarankan mengonsumsi sekitar 3,7 liter cairan per hari, sementara wanita sekitar 2,7 liter per hari untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Pande mengingatkan bahwa dehidrasi tidak hanya ditandai dengan rasa haus. Dalam banyak kasus, jemaah dapat mengalami tubuh lemas, limbung, sakit kepala, mual, hingga pandangan buram akibat cairan tubuh yang terus berkurang.

"Risiko terbesar adalah kondisi dehidrasi dan heatstroke. Kondisi dehidrasi akan menimbulkan gangguan pada sistem tubuh yang akhirnya dapat memicu peningkatan kerja jantung serta memperberat kerja ginjal," ujarnya.

Menurutnya, jemaah sebaiknya tidak menunggu haus untuk mulai minum. Sebab, pada kondisi dehidrasi kronis, sensasi haus bisa menurun meski cairan tubuh sudah berkurang.

"Pada kondisi dehidrasi yang kronis bahkan rasa haus sudah tidak dirasakan lagi dan urine sudah berkurang," katanya.

Ia juga menyarankan agar konsumsi cairan dilakukan sedikit demi sedikit, tetapi rutin sepanjang hari, terutama saat banyak beraktivitas di area terbuka dengan paparan sinar matahari langsung.

Selain air putih, jemaah dianjurkan mengonsumsi buah dengan kandungan air tinggi serta makanan berkuah untuk membantu menjaga hidrasi tubuh.

"Air elektrolit dapat diperlukan, tapi bukan menjadi minuman utama dan tetap harus dikombinasikan dengan air mineral," ujarnya.

Pande juga mengingatkan jemaah untuk memantau warna urine sebagai salah satu indikator kondisi hidrasi tubuh. Urine yang berwarna lebih pekat dapat menjadi tanda tubuh mulai kekurangan cairan.

Kementerian Haji dan Umrah juga mengimbau jemaah meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas ekstrem di Tanah Suci.

Jemaah diminta rutin minum air, menggunakan payung atau pelindung berwarna terang, serta beristirahat secara berkala di tempat teduh guna mengurangi risiko heatstroke akibat suhu tinggi.

Banner Microsite Haji 2026

(nga/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi