Jakarta, CNN Indonesia --
Bayangkan menjadi orang terkaya di Jerman, memiliki kekayaan lebih dari US$60 miliar, memimpin kekaisaran ritel terbesar di Eropa dengan ratusan ribu karyawan, namun tak ada yang mengenali Anda saat berjalan di tempat umum. Itu dilakukan Dieter Schwarz, orang terkaya ke-29 di dunia menurut Forbes Billionaires.
Ketika para miliarder umumnya memamerkan kemewahan di media sosial, pemilik Schwarz Group (induk perusahaan Lidl dan Kaufland) ini justru memilih jadi anomali.
Ini terbukti dengan julukan yang disematkan kepada Dieter, yakni "The Invisible Billionaire" alias "Miliarder Gaib". Sepanjang hidupnya, hanya ada sekitar tiga foto resmi dirinya yang beredar di internet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, ia tidak pernah menerima wawancara, menolak semua jenis penghargaan dan hidup dalam privasi yang sangat ketat di kota kelahirannya, Heilbronn.
Tak jarang, warga lokal berkelakar bahwa mereka bisa saja mengantre di kasir tepat di belakang orang terkaya di Jerman tanpa pernah menyadarinya.
Di balik misteri wajahnya, sosok Dieter dikenal memiliki strategi bisnis genius yang mengubah sebuah toko grosir buah kecil menjadi raksasa ritel global yang dikenal dunia.
Dieter Schwarz lahir pada 24 September 1939 di Heilbronn, Jerman. Ayahnya, Josef Schwarz adalah seorang pedagang yang membangun bisnis grosir buah tropis bernama Lidl & Schwarz KG sejak 1930.
Sebagai anak muda, Dieter tentunya memiliki mimpi yang jauh dari dunia dagang. Dieter muda sangat mencintai sains dan ingin kuliah di jurusan matematika. Namun, takdir berkata lain.
Demi menghormati keinginan ayahnya dan masa depan keluarga, ia merelakan impian akademisnya. Setelah lulus sekolah menengah (Abitur), Dieter langsung masuk ke perusahaan ayahnya sebagai anak magang sejak 1958 hingga 1960 untuk mempelajari seluk-beluk bisnis dari dasar.
Pada 1973, terinspirasi kesuksesan kompetitor mereka, Aldi yang memelopori konsep supermarket diskon, Dieter akhirnya memutuskan untuk membuka toko retail diskon pertamanya di Ludwigshafen am Rhein.
Namun, muncul masalah masalah besar dalam hal penamaan toko barunya tersebut. Jika ia menggunakan nama belakangnya sendiri, toko itu akan dinamai Schwarz-Markt. Dalam bahasa Jerman, kata tersebut berarti "Pasar Gelap" (black market).
Tentu saja, itu akan menjadi nama yang buruk untuk sebuah bisnis legal.
Untuk menyiasatinya, Dieter mencari cara kreatif. Ia enggan menggunakan nama komersial murni, jadi ia mendekati Ludwig Lidl, seorang pensiunan guru sekolah seni yang memegang hak atas nama "Lidl" (mitra awal ayahnya dulu).
Dari sana, Dieter membeli hak paten nama tersebut seharga 1.000 Deutsche Mark atau setara Rp10.600 dengan kurs saat ini. Jumlah tersebut terbilang sangat kecil untuk nilai sebuah merek. Meskipun begitu, dari sana lahirlah toko ritel pertama bernama Lidl.
Pada 1977 saat Dieter berusia 38 tahun, Josef Schwarz meninggal dunia. Kondisi tersebut membuatnya harus memegang kendali penuh atas perusahaan sebagai CEO tunggal. Tak pikir panjang, ia pun langsung melakukan perombakan strategis dengan fokus pada dua lini bisnis utama yakni di Lidl dan Kaufland.
Untuk bisnis Lidl, ia menerapkan konsep diskon pada toko dengan format minimalis dan berbiaya operasional rendah. Toko ini dikenal menjual barang kebutuhan pokok berkualitas tinggi dengan harga yang tidak masuk akal murahnya.
Bisnis berikutnya adalah Kaufland yang diluncurkan pada 1984. Bisnis ritel satu ini memiliki konsep seperti supermarket besar, yang menyediakan segala kebutuhan dalam satu tempat (one-stop shopping).
Ketika Tembok Berlin runtuh pada 1989/1990, Dieter melihat peluang emas. Ia bergerak sangat cepat mengekspansi Kaufland dan Lidl ke wilayah Jerman Timur yang baru terbuka, sebelum merambah ke seluruh Eropa seperti Inggris, Prancis, bahkan menembus pasar Amerika Serikat pada 2017.
Berbagai upaya tersebut sukses menggiring Dieter masuk jajaran orang terkaya versi Forbes Billionaires, dengan total kekayaan US$61,8 miliar atau setara Rp1.118,27 triliun (kurs Rp18.095) per Sabtu (6/6).
Kunci utama yang membawa Dieter ke puncak daftar orang terkaya dunia versi Forbes adalah kombinasi dari efisiensi ekstrem dan struktur kepemilikan yang unik.
Ia juga tak ragu melakukan efisiensi, sebagaimana tampak pada bisnis Lidl yang memangkas semua biaya tidak perlu. Desain toko juga dibuat sederhana, barang dipajang langsung di atas palet kardus tanpa rak mewah. Selain itu, negosiasi dengan pemasok juga dilakukan dalam skala sangat besar untuk mendapatkan harga termurah.
Di samping itu, ia juga melakukan diversifikasi mandiri, alih-alih hanya bergantung pada merek luar, kelompok bisnis Schwarz memproduksi air minum kemasan, cokelat, hingga kertas tisu mereka sendiri. Ini membuat margin keuntungan mereka jauh lebih tebal.
Pasca sukses membangun kerajaan bisnis retail, pada 1999 Dieter memutuskan mundur dari jabatan operasional harian. Itu dilakukan demi mengamankan keberlanjutan bisnisnya dari pajak warisan yang tinggi dan konflik keluarga, ia menyerahkan seluruh kepemilikan saham Schwarz Group kepada Dieter Schwarz Stiftung (sebuah yayasan amal).
Yayasan tersebut kemudian mendanai berbagai proyek pendidikan, sains, dan universitas di Jerman, sementara Dieter tetap memegang hak suara penuh untuk mengendalikan bisnis.
Kini, usianya telah menginjak kepala delapan, Dieter telah berhasil membangun kekaisaran bisnis dengan pendapatan tahunan melampaui US$200 miliar dan mempekerjakan lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia.
Add
as a preferred source on Google

16 hours ago
5

















































