Eks Ajudan Utama Zelensky Ditahan dalam Kasus Korupsi

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Pengadilan di Kyiv, Ukraina, menahan mantan ajudan utama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Andriy Yermak, dalam kasus dugaan korupsi besar yang kembali mengguncang lingkaran dalam pemerintahan Ukraina.

Pada Kamis (14/5), pengadilan memutuskan Yermak ditahan selama 60 hari sambil menunggu proses penyelidikan berjalan. Ia bisa dibebaskan jika membayar uang jaminan sebesar 140 juta hryvnia atau sekitar US$3,2 juta.

Jaksa menuduh Yermak terlibat dalam pencucian uang berskala besar melalui proyek pembangunan kawasan perumahan elite di luar ibu kota Kyiv.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya tidak siap menghadapi ini," kata Yermak usai mendengar putusan hakim, mengutip AFP.

Ia kemudian mengaku berharap bantuan dari rekan dan kenalannya untuk membayar uang jaminan tersebut.

"Saya pikir saya punya cukup banyak kenalan dan teman. Saya berharap mereka bisa membantu," ujarnya.

Yermak membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan memastikan akan mengajukan banding atas keputusan pengadilan.

Datang ke ruang sidang mengenakan setelan jas dengan pin berwarna bendera Ukraina, Yermak menegaskan dirinya tidak berniat melarikan diri.

"Saya tetap pada posisi saya. Saya akan terus melawan. Saya akan tetap berada di Ukraina. Saya tidak punya apa pun untuk disembunyikan," katanya.

Saat ditanya apakah dirinya siap secara mental menghadapi kemungkinan berada di sel penjara, Yermak mengaitkannya dengan awal invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

"Sebagai seseorang yang tetap berada di Kyiv, di kantor presiden pada 24 Februari 2022, ketika banyak orang mengatakan Kyiv akan jatuh dalam hitungan jam atau hari, saya adalah orang yang cukup kuat," ujarnya.

Sebelum mundur dari jabatannya pada November lalu, Yermak dikenal luas sebagai salah satu figur paling berpengaruh di Ukraina, bahkan disebut sebagai orang kedua terkuat setelah Zelensky.

Selama perang dengan Rusia berlangsung, Yermak disebut memiliki kendali besar terhadap akses ke Presiden Zelensky dan menjadi bagian inti dari pengambilan keputusan pemerintahan.

Dalam sejumlah laporan media internasional, Yermak dan Zelensky bahkan dikabarkan sempat tidur hanya beberapa meter terpisah di bunker bawah tanah di bawah kantor presiden saat serangan udara Rusia meningkat.

Kasus terbaru ini menambah tekanan terhadap pemerintahan Zelensky yang citranya mulai tergerus akibat sejumlah skandal korupsi di tengah perang berkepanjangan dengan Rusia.

Hingga kini, Zelensky belum memberikan komentar terkait kasus hukum yang menjerat mantan sekutu dekatnya tersebut.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi