Ericsson Wanti-Wanti Agar Operator Tidak Kehilangan Kesempatan Mendulang Pendapatan dari 5G dan AI

4 hours ago 2

Selular.ID – Riset terbaru dari Ericsson mengungkapkan bahwa meskipun operator selular optimistis terhadap potensi pendapatan dari AI dan layanan 5G canggih, kesenjangan antara ambisi dan tindakan mengancam untuk membuat aspirasi mereka tidak terwujud.

Studi global dari Ericsson, yang didasarkan pada 455 eksekutif senior telekomunikasi, menemukan bahwa 90% yakin dengan kemampuan organisasi mereka untuk menangkap peluang pendapatan baru.

Meski demikian, sebanyak 70% belum mulai menerapkan teknologi yang mereka identifikasi sebagai penting untuk mewujudkan pertumbuhan.

Riset vendor teknologi asal Swedia itu, menemukan adanya konsensus luas tentang di mana peluang tersebut berada. 5G privat dan konektivitas perusahaan menduduki peringkat teratas dalam daftar prioritas dengan 49%.

Kemudian diikuti oleh layanan digital konsumen dan perusahaan dengan kinerja yang disesuaikan sebesar 44% dan konektivitas IoT area luas sebesar 40%.

Temuan riset tersebut menyoroti bahwa penerapan beberapa teknologi pendukung utama tertinggal dari ambisi industri.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Dua pertiga eksekutif belum memulai implementasi operasi jaringan berbasis AI, sementara 61% belum mulai menerapkan kemampuan 5G canggih seperti arsitektur mandiri dan pemisahan jaringan (network slicing).

Selain itu, sebanyak 68% belum mengadopsi platform TI berbasis SaaS.

Baca Juga: Ericsson Puncaki Frost Radar 5G Enam Tahun Beruntun

SaaS (Software as a Service) adalah model komputasi awan di mana perangkat lunak dihosting secara terpusat oleh penyedia pihak ketiga dan diakses oleh pengguna melalui internet melalui peramban web atau aplikasi seluler, alih-alih diinstal secara lokal di komputer masing-masing.

Laporan lain menunjukkan, lebih dari 80% mengakui pertumbuhan di masa depan bergantung pada peningkatan skala layanan secara cepat, sementara menyatakan bahwa kemampuan untuk bereksperimen dengan lebih mudah akan menjadi keuntungan utama.

Hal terakhir ini menggarisbawahi betapa jelasnya operator memahami urgensi tersebut meskipun banyak yang belum bertindak.

Razvan Teslaru, Head of Strategy for Cloud Software and Services Ericsson, menyatakan bahwa industri telekomunikasi memiliki peluang pertumbuhan yang jelas dalam layanan berbasis AI, 5G privat, dan IoT, dan mereka secara umum sepakat tentang kemampuan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

“Tantangannya adalah adopsi kemampuan tersebut masih terbatas, dan kesenjangan eksekusi ini pada akhirnya akan menentukan siapa yang menerjemahkan ambisi menjadi pertumbuhan nyata,” kata Razvan.

“Ini akan membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel, dengan mitra teknologi dan ekosistem baru yang memungkinkan operator untuk bergerak lebih cepat dan membuka nilai.”

Untuk diketahui, pada awal 2026, 5G telah berkembang menjadi teknologi seluler yang dominan, dengan koneksi global yang diproyeksikan melebihi 3 miliar.

Pada akhir tahun 2026, 5G diperkirakan akan mencakup sekitar 60% populasi dunia, dengan sekitar sepertiga dari semua langganan seluler menggunakan 5G.

Di sisi lain, penetrasi 5G di sejumlah negara berjalan lambat, termasuk Indonesia, karena kombinasi biaya infrastruktur yang tinggi, keterbatasan teknis pita frekuensi tinggi, dan transisi yang lambat dari jaringan 4G yang ada.

Meskipun 5G menjanjikan kecepatan tinggi, penyebaran infrastruktur yang diperlukan rumit dan mahal, yang menyebabkan cakupan yang tidak merata dan pengalaman pengguna yang beragam.

Baca Juga: Ericsson Soroti Percepatan 5G untuk Ekonomi Digital Indonesia

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi