CNN Indonesia
Rabu, 20 Mei 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Penggunaan helm khusus pada bayi biasanya berkaitan dengan masalah bentuk kepala bayi yang tidak simetris. (Instagram/sadiemarielewis)
Jakarta, CNN Indonesia --
Melihat bayi memakai helm khusus di kepala mungkin membuat sebagian orang tua bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar perlu, atau hanya tren semata?
Praktik ini dikenal sebagai helmet therapy atau cranial orthosis, yang umumnya digunakan pada bayi dengan kondisi kepala datar, seperti plagiocephaly atau brachycephaly. Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama pada bayi yang banyak berbaring dengan posisi kepala yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu helmet therapy?
Helmet therapy adalah penggunaan helm khusus yang dirancang untuk membantu membentuk ulang kepala bayi yang mengalami asimetri atau flat head syndrome.
Helm ini bekerja dengan memberikan ruang pada bagian kepala yang datar, sekaligus mengarahkan pertumbuhan ke area yang masih perlu berkembang. Biasanya, terapi ini dipertimbangkan pada bayi usia di bawah 1 tahun, saat tulang tengkorak masih lunak dan mudah dibentuk.
Banyak orang tua khawatir saat melihat bentuk kepala bayi tidak simetris. Padahal, dalam banyak kasus, kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan.
Sebagian besar kasus plagiocephaly ringan dapat membaik tanpa helm, terutama dengan cara sederhana seperti,
- mengubah posisi tidur,
- memperbanyak tummy time, serta
- fisioterapi bila diperlukan.
Hal ini pun menunjukkan helmet therapy bukan pilihan pertama untuk semua bayi. Lantas, kapan helmet therapy dibutuhkan?
Helmet therapy umumnya direkomendasikan pada kasus sedang hingga berat, atau ketika perbaikan alami dinilai kecil kemungkinannya.
Sebuah systematic review di jurnal Child's Nervous System menyebut helmet therapy dapat efektif, terutama pada bayi dengan deformitas yang lebih jelas. Keputusan tetap harus mempertimbangkan usia bayi, tingkat keparahan, dan kemungkinan perbaikan tanpa intervensi.
Hasilnya bisa berbeda-beda
Meski banyak studi menunjukkan manfaat, para ahli juga mengingatkan bahwa hasil helmet therapy tidak selalu seragam. Perbedaan metode pengukuran dan definisi kondisi membuat hasil antarpenelitian sulit dibandingkan secara langsung.
Dengan kata lain, terapi ini memang bisa membantu, tetapi bukan solusi instan atau pasti berhasil pada semua kasus.
Salah satu hal penting dalam helmet therapy adalah waktu. Manfaat terapi cenderung lebih besar jika dimulai lebih awal, saat pertumbuhan tengkorak masih cepat. Setelah usia sekitar 10 bulan, efektivitasnya bisa menurun karena pertumbuhan kepala mulai melambat.
Oleh karena itu, evaluasi sejak dini oleh tenaga kesehatan menjadi penting untuk menentukan langkah terbaik.
Ilustrasi. Menurut hasil penelitian, helmet therapy bukan solusi instan dan tepat untuk semua masalah bentuk kepala pada bayi. (Instagram @patriciagouw)
Meski sering dianggap hanya soal bentuk kepala, pada beberapa kasus, plagiocephaly bisa berkaitan dengan kondisi lain seperti tortikolis (kekakuan otot leher) atau keterlambatan perkembangan.
Itulah mengapa pemeriksaan dokter diperlukan, untuk memastikan kondisi ini bukan gangguan lain seperti craniosynostosis yang lebih serius.
Helmet therapy bisa menjadi solusi pada kondisi tertentu, terutama pada kasus sedang hingga berat. Keputusan penggunaan helm bukan soal tren, tetapi soal kebutuhan medis masing-masing bayi, yang sebaiknya ditentukan bersama tenaga kesehatan. Karena dalam banyak kasus, pertumbuhan alami bayi sendiri sudah cukup membantu memperbaiki bentuk kepala tanpa intervensi khusus.
(anm/els)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































