Kelompok Houthi mengacungkan senjata saat demonstrasi menunjukkan solidaritas untuk Iran dan Lebanon dalam pertempuran melawan Amerika Serikat-Israel, di Ibu Kota Sana'a pada 27 Maret 2026.(AFP/MOHAMMED HUWAIS)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Insiden serangan terhadap markas Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) yang menewaskan satu prajurit TNI memicu berbagai reaksi.
Salah satunya datang dari pegiat media sosial, Herwin Sudikta, yang bicara terkait posisi Indonesia dalam misi penjaga perdamaian tersebut.
Ia mengatakan Indonesia berada dalam situasi yang serba sulit ketika mengirim pasukan ke wilayah konflik, namun memiliki keterbatasan dalam memberikan tekanan saat prajuritnya menjadi korban.
Posisi Indonesia di Misi Perdamaian
Herwin menyebut Indonesia menjalankan misi damai dengan prinsip netralitas dan profesionalisme.
Lanjut dia, kondisi itu menimbulkan dilema ketika terjadi serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.
“Indonesia ada di posisi yang awkward. Indonesia ceritanya ngirim pasukan ke Lebanon untuk misi damai," ujar Herwin dikutip fajar.co.id, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan, kehadiran pasukan Indonesia membawa nama baik negara dan bertujuan menjaga stabilitas kawasan konflik.
“Netral, profesional, bawa nama baik negara," tukasnya.
Indonesia Disebut Berada di Situasi Absurd
Blak-blakan diungkapkan Herwin, situasi tersebut menjadi paradoks. Indonesia terlibat menjaga stabilitas global, namun tidak memiliki daya tekan yang cukup ketika pasukannya sendiri menjadi korban.
“Indonesia seperti sedang ada di posisi paling absurd, ikut jaga stabilitas dunia," sesalnya.
“Tapi gak punya daya tekan saat pasukan kita sendiri jadi korban," sambung dia.
Netralitas Perlu Sikap Tegas
Herwin bilang, netralitas memang merupakan sikap yang mulia dalam misi perdamaian.

















































