CNN Indonesia
Minggu, 22 Mar 2026 03:00 WIB
Ilustrasi. Penelitian terbaru menemukan ganja baik ganja medis maupun rekreasi tidak terbukti meredakan kecemasan atau masalah kesehatan mental lain. (REUTERS/MATTHIAS RIETSCHEL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di beberapa negara, ganja digunakan secara medis untuk masalah kesehatan. Namun penelitian terbaru menemukan, ganja baik ganja medis maupun rekreasi tidak terbukti efektif untuk masalah kecemasan atau kondisi kesehatan mental lain.
Ganja medis di pasaran mencakup produk dengan cannabidiol atau CBD dan delta-9-tetrahydrocannabinol atau THC. Hanya saja, sebuah analisis terbaru menyebut ganja medis tidak bisa menangani masalah kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak menemukan bukti bahwa bentuk ganja apa pun efektif dalam mengobati kecemasan, depresi, atau gangguan stres pasca-trauma, yang merupakan tiga alasan utama mengapa ganja diresepkan," kata Jack Wilson, peneliti pascadoktoral, Pusat Penelitian Kesehatan Mental dan Penggunaan Zat Matilda, Universitas Sydney, melansir dari CNN.
Wilson, penulis utama studi menganalisis lebih dari 54 uji coba terkontrol acak yang diterbitkan antara 1980-2025.
Sebagian besar ganja medis berupa formulasi oral seperti kapsul, semprotan, atau minyak.
Ia menemukan penggunaan ganja tidak memperbaiki kondisi kesehatan mental lain seperti, anoreksia nervosa, gangguan bipolar, gangguan obsesif-kompulsif atau OCD, kemudian gangguan psikotik seperti skizofrenia.
Meski sedikit bukti soal manfaat untuk kesehatan mental, penggunaan ganja medis dan rekreasi semakin meningkat.
Sekitar 27 persen orang berusia antara 16-65 tahun di AS dan Kanada telah menggunakan ganja untuk tujuan medis. Sekitar setengahnya, kata Wilson, digunakan untuk mengelola kesehatan mental.
"Meskipun kurangnya bukti kemanjuran, dokter terus meresepkan ganja medis untuk mengobati kondisi kesehatan mental," tambahnya.
Para ahli sepakat penggunaan ganja yang kuat secara rutin bisa berbahaya terutama bagi kelompok rentan. Penggunaan ganja selama kehamilan, masa remaja, dan dewasa muda bisa mengganggu perkembangan otak.
Pada individu yang berisiko terkena bipolar atau psikotik, penelitian menunjukkan penggunaan ganja bisa meningkatkan risiko perkembangan gangguan psikotik atau kesehatan mental.
Sementara itu, sebenarnya ada metode yang terbukti untuk mengobati masalah kesehatan mental. Para ahli merekomendasikan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). SSRIs merupakan pendekatan farmasi umum untuk depresi dan kecemasan.
SSRIs sering dikombinasikan dengan bentuk terapi seperti terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT).
(els)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
2

















































