Jarang Bercinta Setelah Menikah, Normal atau Masalah?

4 hours ago 1

CNN Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 21:00 WIB

Frekuensi bercinta menurun setelah menikah kerap terjadi. Seksolog menilai bukan soal angka, tapi komunikasi dan keselarasan kebutuhan pasangan. Ilustrasi. Jarang bercinta setelag menikah, bisa jadi beberapa hal ini penyebabnya. (iStockphoto)

Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah menikah, kehidupan seksual kerap dianggap sebagai salah satu indikator keharmonisan hubungan. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit pasangan yang justru semakin jarang berhubungan seks seiring berjalannya waktu.

Kondisi ini sering memunculkan pertanyaan, apakah hal tersebut masih tergolong normal, atau justru menjadi tanda adanya masalah dalam hubungan?

Seksolog Febrizky Yahya menjelaskan, tidak ada standar baku mengenai seberapa sering pasangan harus berhubungan seks. Dalam ilmu seksologi, frekuensi bukanlah ukuran pasti untuk menentukan normal atau tidaknya kehidupan seksual seseorang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dibilang normal atau tidaknya, dalam seksologi itu sebenarnya tidak ada. Itu bebas," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/4).

Meski ada penelitian yang menyebut ejakulasi rutin sekitar 21 kali per bulan dikaitkan dengan penurunan risiko kanker prostat, Febri menegaskan bahwa hal tersebut bukan satu-satunya indikator kesehatan. Artinya, frekuensi hubungan seksual tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai kualitas hubungan.

Yang justru perlu diperhatikan adalah adanya kesenjangan atau gap libido antara pasangan. Libido sendiri merujuk pada hasrat atau dorongan seksual.

Misalnya, ketika salah satu pasangan menginginkan hubungan seksual tiga kali dalam seminggu, sementara yang lain hanya mampu satu kali. Perbedaan ini berpotensi menimbulkan ketegangan jika tidak dikomunikasikan dengan baik.

[Gambas:Video CNN]

"Yang jadi masalah itu bukan frekuensinya, tapi kalau ada gap. Ibaratnya lapar, tapi tidak tersalurkan," jelasnya.

Sebaliknya, jika kedua pasangan memiliki tingkat keinginan yang selaras, meski frekuensinya jarang, kondisi tersebut tidak menjadi masalah.

Banyak faktor memengaruhi penurunan frekuensi

Penurunan frekuensi hubungan seksual setelah menikah merupakan hal yang umum terjadi, dengan penyebab yang beragam. Salah satu faktor yang paling sering adalah perubahan peran setelah memiliki anak.

Masa menyusui, misalnya, dapat memengaruhi hormon dan menurunkan libido.

"Hormon prolaktin meningkat saat menyusui, itu bisa menurunkan libido. Belum lagi kelelahan, kurang tidur, dan fokus ke bayi," kata Febri.

Selain itu, kondisi kesehatan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga kenaikan berat badan juga dapat memengaruhi gairah seksual.

Faktor emosional pun tak kalah penting. Konflik yang tidak terselesaikan, pertengkaran yang dibiarkan, hingga luka batin yang terpendam dapat membuat pasangan enggan untuk menjalin kedekatan fisik.

Dalam banyak kasus, pasangan yang telah memiliki anak sering kali terlalu fokus pada peran sebagai orang tua, hingga melupakan peran sebagai pasangan. Akibatnya, kedekatan emosional dan seksual perlahan memudar.

"Kadang mereka merasa hubungan sudah jauh atau tidak cinta lagi. Padahal bisa jadi yang redup itu passion-nya," ujar Febri.

Ia menekankan, 'api' dalam hubungan sebenarnya masih bisa dibangun kembali, selama ada kesadaran dan usaha dari kedua belah pihak.

Bukan soal frekuensi, tapi komunikasi

Tak sedikit orang yang mengaitkan frekuensi hubungan seksual dengan kadar cinta dalam hubungan. Padahal, menurut Febri, keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Pasangan yang jarang berhubungan belum tentu kehilangan rasa cinta. Bisa jadi mereka sedang lelah, mengalami perubahan hidup, atau menghadapi masalah yang belum terselesaikan.

"Bisa saja mereka lagi capek, lagi fokus ke anak, atau kehilangan koneksi sebagai pasangan. Tapi itu bisa dibangun lagi," katanya.

Salah satu faktor yang kerap memperparah kondisi adalah kurangnya komunikasi. Ketika kebutuhan dan keinginan tidak dibicarakan secara terbuka, kekecewaan dapat menumpuk dan menciptakan jarak dalam hubungan.

"Masalahnya bukan semata-mata frekuensi, tapi apakah ada komunikasi dan usaha memahami satu sama lain," tegasnya.

Kehidupan seksual dalam pernikahan bukan soal angka atau seberapa sering dilakukan. Yang lebih penting adalah kesepakatan, kenyamanan, serta keterhubungan antara kedua pasangan. Sebab, hubungan yang sehat tidak ditentukan oleh frekuensi, melainkan oleh seberapa dalam pasangan saling memahami.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi