Kemenkes Ungkap 8 Persen Kasus Campak Terjadi pada Orang Dewasa

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Selasa, 31 Mar 2026 06:30 WIB

Sejumlah kasus campak di Indonesia tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga menyerang kelompok usia dewasa. Ilustrasi. Sejumlah kasus campak di Indonesia tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga menyerang kelompok usia dewasa. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa kasus campak di Indonesia tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga menyerang orang dewasa.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menyebut sekitar 8 persen kasus campak tercatat pada kelompok usia di atas 18 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat data di Indonesia, jadi 8 persen kasus terjadi pada orang dewasa. Memang paling banyak pada anak-anak, tetapi ada 8 persen yang tercatat adalah kelompok usia dewasa," ujar Andi dalam konferensi pers, Senin (30/3).

Ia menjelaskan, meski proporsi kasus pada orang dewasa lebih kecil dibanding anak-anak, kelompok ini tetap memiliki risiko, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau intensitas paparan yang tinggi.

Kemenkes juga mencatat kasus kematian akibat campak pada kelompok dewasa. Andi mencontohkan, pada 2022 terdapat satu kasus kematian pada pasien berusia 25 tahun dalam periode Januari hingga Juni.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kematian akibat campak lebih banyak terjadi pada kelompok balita.

Andi turut menjelaskan bahwa orang dewasa yang telah menerima vaksin campak tetap bisa terinfeksi, meskipun umumnya memiliki perlindungan imun yang lebih baik.

Menurutnya, dalam program imunisasi nasional, vaksin campak diberikan dua kali pada masa anak-anak, yakni saat usia 9 bulan dan 18 bulan, serta dilanjutkan dengan booster pada usia sekolah dasar untuk memberikan perlindungan optimal.

Namun, sejumlah faktor dapat memengaruhi tingkat keparahan infeksi pada usia dewasa.

"Walaupun sudah diberikan dua kali imunisasi, pada kondisi dewasa ada faktor-faktor yang memengaruhi," ujarnya.

Faktor tersebut antara lain kondisi imun yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS dan kanker, serta penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Selain itu, tingkat paparan virus juga berperan penting, terutama pada tenaga kesehatan yang memiliki kontak intens dengan pasien.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, Yuli Farianti menekankan pentingnya perlindungan bagi tenaga kesehatan yang berisiko tinggi terpapar campak.

Ia mengingatkan agar tenaga kesehatan tidak mengabaikan kondisi kesehatan diri sendiri, termasuk saat mengalami gejala awal penyakit.

Menurut Yuli, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), seperti penggunaan alat pelindung diri (APD), menjadi kunci pencegahan.

"Jangan mengabaikan hal-hal yang dianggap barangkali 'oh ini nggak mungkin kena'" ujarnya.

Selain itu, Kemenkes juga akan memperketat pengawasan kesehatan tenaga medis, termasuk melalui pemeriksaan kesehatan (medical check-up) dan vaksinasi campak ulang bagi peserta program internship.

Kemenkes memastikan pemantauan kasus campak dilakukan secara real-time melalui sistem surveilans nasional.

Andi menjelaskan, data dikumpulkan melalui laporan langsung dari rumah sakit dan puskesmas, kemudian diverifikasi oleh dinas kesehatan daerah untuk memastikan akurasi.

"Kami pastikan bahwa perbedaan-perbedaan data itu terverifikasi dan tervalidasi dengan baik," ujarnya.

Melalui sistem ini, pemerintah berharap dapat mendeteksi kasus secara cepat sekaligus mencegah penyebaran yang lebih luas, termasuk pada kelompok dewasa yang selama ini kerap dianggap berisiko rendah.

(nga/fef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi