Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat hilirisasi subsektor perkebunan nasional guna meningkatkan nilai tambah komoditas serta kesejahteraan pekebun.
Langkah ini dilakukan melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Fokus hilirisasi diarahkan pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete yang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat perekonomian pekebun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas tersebut dengan target 870 ribu hektare kebun rakyat pada periode 2025-2027.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan hilirisasi menjadi langkah penting agar komoditas perkebunan tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah.
"Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memberikan keuntungan lebih bagi pekebun dan perekonomian nasional," ujar Amran dalam keterangan resmi, Senin (16/3).
Ia menambahkan pemerintah terus memastikan kesiapan berbagai aspek, mulai dari lahan, kelompok tani, hingga ekosistem industri agar program hilirisasi dapat berjalan berkelanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat mengatakan penyiapan program dilakukan melalui pemetaan potensi lahan serta verifikasi langsung di lapangan.
"Kami turun langsung ke daerah untuk memastikan kesiapan CPCL, memetakan potensi lahan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pekebun, dan pemangku kepentingan lainnya. Proses ini memang tidak sederhana, namun menjadi langkah penting agar program hilirisasi dapat berjalan optimal," ujar Roni.
Selain penguatan budidaya, Kementan juga mendorong pengembangan produk turunan dari komoditas perkebunan, seperti gula dari tebu, produk olahan kelapa, cokelat dari kakao, hingga berbagai produk rempah dari pala dan lada.
Melalui langkah tersebut, subsektor perkebunan diharapkan tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga berkembang menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu membuka peluang usaha baru serta meningkatkan kesejahteraan pekebun di seluruh Indonesia.
(lau/inn)
Add
as a preferred source on Google

11 hours ago
4

















































