CNN Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 13:15 WIB
Ilustrasi pendakian Gunung Everest di Nepal. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Musim pendakian Gunung Everest di perbatasan Nepal dan Tibet, resmi dibuka meski ancaman maut mengintai di jalur utama.
Ratusan pendaki tetap bertekad menaklukkan puncak tertinggi dunia tersebut, mengabaikan risiko bongkahan es raksasa yang tidak stabil serta lonjakan drastis biaya izin pendakian.
Saat ini, sekitar 410 pendaki mancanegara dan jumlah yang sama dari pemandu lokal (Sherpa) telah berkumpul di Base Camp (5.300 mdpl). Mereka tengah bersiap memanfaatkan jendela cuaca cerah pada bulan Mei ini untuk mencapai puncak setinggi 8.850 meter tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pembukaan jalur tahun ini sempat tertunda selama dua minggu akibat adanya serac, bongkahan es raksasa yang menggantung, di area Khumbu Icefall. Jalur baru yang digali oleh tim penyelamat "Icefall Doctors" terpaksa melintas tepat di bawah bongkahan es yang dipenuhi retakan tersebut.
Lembaga komite lingkungan Nepal (SPCC) merilis peringatan keras soal musim pendakian Gunung Everest kali ini.
"Bongkahan es tersebut memiliki banyak retakan dan dapat runtuh kapan saja. Kami mendesak seluruh operator ekspedisi dan pendaki untuk berhati-hati secara ekstrem," bunyi pernyataan SPCC, seperti dilansir The Independent.
Khumbu Icefall sendiri dikenal sebagai salah satu bagian paling mematikan dalam pendakian Everest karena gletsernya yang terus bergeser dan bongkahan es sebesar gedung 10 lantai yang sewaktu-waktu bisa memicu longsoran salju.
Pemandu gunung ternama, Lukas Furtenbach, mengungkapkan kekhawatirannya dari Base Camp. "Siapa pun yang mengatakan tidak khawatir, berarti dia tidak berpengalaman atau tidak memperhatikan. Jalur tahun ini lebih kompleks dan terbuka dibandingkan tahun lalu," ujar Furtenbach.
Untuk meminimalisir risiko, tim ekspedisi menerapkan beberapa strategi ketat di antaranya, mengurangi berat logistik agar pendaki bisa bergerak lebih cepat.
Strategi lain yakni melintasi area berbahaya hanya pada pagi hari saat es masih membeku kencang. Para pendaki juga diminta mengandalkan penilaian risiko dari para Sherpa paling berpengalaman.
Meski biaya perjalanan meningkat akibat dampak Perang Iran dan kenaikan tarif izin pemerintah Nepal, minat terhadap Everest tetap tinggi.
Ang Tshering Sherpa dari Asian Trekking mencatat adanya pergeseran demografi pendaki tahun ini. Jumlah pendaki dari AS dan Eropa mengalami penurunan.
Namun, terjadi lonjakan pendaki dari negara-negara Asia. Karena China menutup jalur utara tahun ini, seluruh pendaki terpusat di jalur selatan melalui Nepal.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
1

















































