Pemanasan Global Bikin Orang Mager, Risiko Kesehatan pun Meningkat

2 hours ago 3

CNN Indonesia

Selasa, 28 Apr 2026 18:45 WIB

Sebuah penelitian memaparkan pemanasan global membuat orang malas bergerak yang akhirnya bisa meningkatkan risiko sejumlah penyakit. Ilustrasi. Sebuah penelitian memaparkan pemanasan global membuat orang malas bergerak yang akhirnya bisa meningkatkan risiko sejumlah penyakit. (iStock/PraewBlackWhile)

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemanasan global yang terus meningkat tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga memengaruhi gaya hidup manusia secara signifikan.

Berdasarkan sebuah penelitian terbaru, salah satu dampak yang mulai terlihat, yakni meningkatnya kecenderungan orang menjadi malas bergerak atau mager untuk beraktivitas di luar rumah. Kondisi ini berpotensi menaikkan risiko kesehatan yang serius di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemanasan global dan penurunan aktivitas fisik

Sebuah penelitian terbaru yang menganalisis data dari 156 negara selama periode 2000 hingga 2022 menunjukkan, kenaikan suhu rata-rata di atas 27,8 derajat Celsius selama satu bulan dapat meningkatkan angka ketidakaktifan fisik sebesar 1,5 persen secara global.

Angka ini bahkan lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yakni sekitar 1,85 persen.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Global Health pada April 2026 ini, seiring dengan memburuknya pemanasan global, kemampuan dan keinginan orang untuk bergerak diprediksi akan makin menurun pada tahun-tahun mendatang.

Menurut Christian García-Witulski, peneliti utama studi tersebut, aktivitas fisik yang rendah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, beberapa jenis kanker, serta gangguan kesehatan mental. Semua kondisi ini berkontribusi pada penurunan harapan hidup.

Saat ini, sekitar sepertiga populasi dunia belum memenuhi standar aktivitas fisik mingguan yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO). Kondisi ini sudah menyebabkan sekitar 5 persen kematian pada orang dewasa secara global.

Diperkirakan, jika tren pemanasan global terus berlanjut, peningkatan ketidakaktifan fisik dapat menyebabkan setengah juta kematian dini tambahan setiap tahun dan kerugian produktivitas mencapai US$2,4 miliar hingga US$3,68 miliar pada 2050.

"Ini bukan hanya cerita tentang iklim, tetapi juga cerita tentang ketidaksetaraan. Tempat-tempat yang diperkirakan akan menghadapi peningkatan terbesar dalam ketidakaktifan akibat perubahan iklim sering kali adalah tempat-tempat yang memiliki sumber daya lebih sedikit untuk beradaptasi," kata García-Witulski, seperti dilansir The Guardian.

Wilayah yang dimaksud, yakni Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan Asia Tenggara ekuator yang suhunya lebih panas.

Sejumlah wilayah tersebut diperkirakan akan mengalami peningkatan ketidakaktifan fisik lebih dari 4 persen per bulan. Wilayah-wilayah ini juga sering kali memiliki sumber daya yang lebih terbatas untuk menghadapi perubahan iklim.

"Di lingkungan di mana orang memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pendingin ruangan, lebih sedikit alternatif tempat berlindung yang aman di dalam ruangan, dan kurangnya fleksibilitas dalam jadwal harian mereka, panas tampaknya lebih mungkin menyebabkan penurunan aktivitas fisik," tutur García-Witulski.

Penelitian ini menegaskan, aktivitas fisik harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat yang sensitif terhadap iklim, bukan hanya pilihan gaya hidup individu.

Agar masyarakat bisa tetap aktif di dunia yang makin panas, diperlukan perencanaan kota dan infrastruktur mendukung.

Beberapa solusi yang diusulkan, antara lain memperbanyak pohon dan area teduh di jalan serta taman, menyediakan fasilitas olahraga ber-AC yang terjangkau, dan memberikan edukasi tentang cara aman beraktivitas di cuaca panas ekstrem.

Dampak perubahan iklim lainnya pada kesehatan

Selain memengaruhi aktivitas fisik, perubahan iklim juga memperburuk berbagai risiko kesehatan lain. Menurut laman World Meteorological Organization (WMO), penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti nyamuk, termasuk demam berdarah, bisa meningkat pesat.

Stres akibat panas juga menjadi masalah serius, terutama bagi pekerja di sektor pertanian dan konstruksi.

Lebih dari sepertiga tenaga kerja global, yakni sekitar 1,2 miliar orang, menghadapi risiko kesehatan akibat paparan suhu tinggi setiap tahun. Hal ini tentu berdampak pada produktivitas dan mata pencaharian mereka.

Sayangnya, hingga 2023 hanya sekitar setengah negara di dunia yang sudah menyediakan layanan peringatan dini panas yang disesuaikan untuk sektor kesehatan. Adapun lebih sedikit lagi negara yang mengintegrasikan informasi iklim dalam pengambilan keputusan kesehatan.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi