Piala Dunia 1938: Ambisi Mussolini, Hindia Belanda Ikut Serta

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Piala Dunia 1938 di Prancis bukan sekadar turnamen biasa, melainkan panggung politik Benito Mussolini yang ingin membuktikan supremasi fasis Italia kepada dunia.

Italia tampil sebagai juara bertahan setelah sukses merenggut trofi di kandang pada 1934. Selang empat tahun kemudian, mereka datang ke Prancis dengan misi yang sama: mempertahankan trofi demi kebanggaan rezim.

Pelatih Vittorio Pozzo kembali memimpin Gli Azzurri meski hanya empat pemain tersisa dari skuad juara 1934. Keempat pemain itu adalah Giuseppe Meazza, Giovanni Ferrari, Guido Masetti, dan Eraldo Monzeglio.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tekanan dari Mussolini menyertai langkah Italia sepanjang turnamen. Konon, menjelang final, Mussolini mengirim telegram kepada skuad dengan pesan singkat: "Vincere o morire" yang artinya, menang atau mati.

Namun sejumlah pemain Italia, termasuk Pietro Rava, membantah kebenaran telegram itu saat diwawancarai pada 2001. Rava menegaskan yang dikirim Mussolini hanyalah pesan ucapan selamat biasa, bukan ancaman.

Italia juga tampil kontroversial saat menghadapi Prancis di perempat final. Mereka mengenakan kostum hitam, simbol yang identik dengan gerakan fasis. Langkah itu memicu protes dari warga Prancis, termasuk para eksil Italia yang melarikan diri dari rezim Mussolini.

Terlepas dari kontroversi itu, Italia melibas Prancis 3-1 di depan puluhan ribu penonton saat bertemu di babak perempat final. Lanjut menggilas Brasil di semifinal, Italia memastikan dua kaki menapak di partai puncak.

Di final, mereka menekuk Hungaria 4-2 lewat dua gol yang masing-masing dilesakkan Silvio Piola dan Gino Colaussi.

Keberhasilan Italia menjuarai turnamen akbar di Prancis pada 1938 menjadikan Gli Azzuri sebagai tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar Piala Dunia.

Di sisi lain, Piala Dunia 1938 tentu tak hanya bercerita tentang gegap gempita Italia. Turnamen empat tahunan itu juga menyimpan cerita penting dari tim debutan, Hindia Belanda (Indonesia). Ini menjadikan mereka tim Asia pertama yang tampil di Piala Dunia.

Keikutsertaan Hindia Belanda terbilang berliku. Awalnya mereka dijadwalkan melawan Jepang di babak kualifikasi, namun Jepang mundur akibat meletusnya perang dengan Tiongkok.

Selanjutnya FIFA menjadwalkan playoff antara Hindia Belanda dan Amerika Serikat di Rotterdam pada 29 Mei 1938. Amerika Serikat pun ikut mundur, sehingga Hindia Belanda lolos ke putaran final tanpa sekalipun bermain.

Hindia Belanda menempuh perjalanan jauh dengan kapal laut selama beberapa pekan dari Batavia menuju Eropa. Skuad yang dipimpin kapten Achmad Nawir itu memadukan pemain keturunan Belanda, Tionghoa, dan pribumi.

Achmad Nawir memimpin pasukan Hindia Belanda yang teridiri dari Tan Mo Heng, Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermandji, dan Anwar Sutan.

Pada 5 Juni 1938 di Reims, Hindia Belanda menghadapi Hungaria di babak 16 besar dan kalah telak 0-6. Meski tersingkir dalam satu pertandingan, kehadiran mereka di Prancis 1938 tetap tercatat sejarah sebagai tonggak pertama wakil Asia di panggung Piala Dunia.

[Gambas:Video CNN]

(afr/nva)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi