Sapi Termahal di Dunia Harganya Tembus Puluhan Miliar, Penampilannya Jadi Sorotan

2 hours ago 2

Jakarta -

Sapi identik dengan hewan kurban yang kerap ditemui saat Iduladha.

Namun di berbagai belahan dunia, ada juga sapi dengan harga fantastis yang nilainya bahkan mencapai puluhan miliar rupiah. Bukan tanpa alasan, sapi-sapi ini memiliki gen unggulan, postur tubuh yang tidak biasa, hingga penampilan unik yang membuatnya jadi sorotan publik.

Belakangan, salah satu sapi termahal di dunia kembali ramai dibicarakan setelah penampilannya viral di media sosial. Bentuk tubuhnya yang besar, warna kulit yang mencolok, hingga harga jualnya yang fantastis sukses membuat banyak orang tercengang.

Lantas, seperti apa sosok sapi termahal di dunia dan kenapa harganya bisa semahal itu?


Dilansir dari Independent dan Guinness World Records, Viatina-19 FIV Mara Moveis terjual lewat proses lelang dengan harga mencapai USD4,82 juta atau sekitar Rp78 miliar.

Angka tersebut membuatnya resmi menyandang gelar sapi termahal yang pernah dilelang di dunia. Nilainya bahkan jauh melampaui rekor sebelumnya dan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Sapi ini berasal dari ras Nelore, salah satu jenis sapi Zebu yang sangat populer di Brasil. Ras tersebut dikenal punya daya tahan tinggi terhadap cuaca panas, otot yang kuat, serta kualitas genetik yang sangat baik untuk industri peternakan daging.

Berat Viatina-19 sendiri mencapai sekitar 1.100 kilogram atau hampir dua kali lebih besar dibanding sapi dewasa biasa di jenisnya.

Tak heran jika penampilannya langsung jadi sorotan. Tubuhnya sendiri besar dengan warna putih terang, punuk khas sapi Zebu yang tegap, serta struktur tubuh yang dianggap hampir sempurna oleh para peternak.

Sapi Termahal di Dunia Harganya Tembus Puluhan Miliar, Penampilannya Jadi SorotanSapi Termahal di Dunia Harganya Tembus Puluhan Miliar, Penampilannya Jadi Sorotan/ Foto: Instagram

Karena nilainya yang sangat mahal, Viatina-19 bahkan diawasi kamera keamanan dan penjaga bersenjata untuk menjaga keselamatannya.

Di Brasil, sapi seperti Viatina-19 bukan hanya dianggap hewan ternak biasa, tetapi juga simbol investasi besar di dunia peternakan. Para peternak elite berlomba menghasilkan sapi dengan genetika terbaik untuk dikembangbiakkan kembali.

Sel telur dan sperma dari sapi juara seperti Viatina-19 dijual dengan harga fantastis demi menghasilkan keturunan berkualitas tinggi.

Mereka yang ingin meningkatkan kualitas ternak rela membayar sekitar USD250 ribu hanya untuk memperoleh sel telur Viatina-19. Faktor seperti kemampuan menambah massa otot dengan cepat, tingkat kesuburan, hingga peluang mewariskan gen unggulan menjadi alasan utama kenapa harganya bisa begitu tinggi.

"Ia adalah yang paling mendekati sempurna. Ia sapi yang lengkap, memiliki semua karakteristik yang dicari semua pemilik," ujar dokter hewan setempat, Lorrany Martins.

Salah satu pemiliknya, Ney Pereira, juga menjelaskan bahwa sapi elite seperti Viatina-19 memang diperlakukan berbeda dibanding sapi biasa. "Kami tidak menyembelih sapi elit. Kami mengembangbiakkannya. Dan pada akhirnya, akan memberi makan seluruh dunia," katanya.

Brasil sendiri dikenal sebagai negara dengan populasi sapi terbesar di dunia, mencapai lebih dari 230 juta ekor. Industri peternakan menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di negara tersebut.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva bahkan sempat mendorong ekspor daging sapi ke pasar internasional, termasuk Jepang yang terkenal dengan daging Wagyu premium.

Namun di balik kesuksesan industri ternak itu, muncul pula sorotan soal dampak lingkungan. Aktivitas peternakan sapi disebut menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca dan pembukaan lahan hutan Amazon dalam jumlah besar.

Karena itu, pengembangan genetika sapi seperti Viatina-19 juga dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi produksi ternak di masa depan.

(Steffy Gracia/agn)

Loading ...

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi