Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI) menuturkan dari total sembilan WNI yang ikut kapal relawan Global Sumud Flotilla (GSF) ke Jalur Gaza Palestina, tujuh di antaranya telah diculik Israel.
Juru bicara I Kemlu RI Yvonne Mewengkang menuturkan per Selasa (19/5), dua WNI lainnya diketahui masih berada dalam salah satu armada Global Sumud Flotilla tepatnya di kapal Kasr 1 Sadabat dan rawan turut diculik Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yvonne menuturkan pemerintah Indonesia terus berdialog dengan negara lain terkait untuk mengupayakan pembebasan para WNI. Sebab, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
"Tentunya kita akan terus mengoptimalkan seluruh jalur komunikasi diplomatik untuk mengupayakan pembebasan para WNI, termasuk dengan memperkuat koordinasi bersama negara-negara yang warganya juga tergabung dalam GSF dan terdampak penahanan tersebut," ucap Yvonne melalui pernyataan tertulis kepada CNN Indonesia pada Selasa.
Salah satu negara yang akan menjadi perantara Indonesia untuk bernegosiasi dengan Israel adalah Turki. Duta Besar Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, menuturkan Indonesia akan meminta Turki membantu negosiasi pembebasan WNI yang diculik Israel.
"Atas instruksi Menteri Luar Negeri, Dubes RI lakukan komunikasi dan koordinasi dengan otoritas di Turki dalam rangka pembebasan WNI dimaksud. Warga Negera Turki juga menjadi bagian dari GSF yang juga ditahan Israel," ucap Rizal saat dikonfirmasi CNN Indonesia.
"Saya yakin semua pihak kita ajak bicara untuk bisa membebaskan WNI kita, termasuk dengan Turki," paparnya menambahkan.
Namun, Rizal tak bisa memberi rincian lebih lanjut soal pihak atau negara lain yang diajak bicara Indonesia untuk membebaskan WNI. Dia hanya bisa "mengonfirmasi terkait dengan Turki."
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, mengatakan proses negosiasi Indonesia dan Israel untuk membebaskan WNI tak mungkin dilakukan karena tak punya hubungan diplomatik.
Situasi itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi pemerintah dalam melakukan penanganan cepat.
"Dan ini tentu tidak mudah karena kita tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel kita tidak dapat melakukan perundingan langsung dengan pihak Israel," ujar Yusril.
Sebagai solusi pemerintah Indonesia akan memaksimalkan jalur diplomasi internasional. Yusril menyebut pihaknya bakal menggandeng negara ketiga serta badan-badan internasional guna memberikan perlindungan hukum dan menyelamatkan para WNI yang diculik Israel tersebut.
"Tapi kita tentu akan mengambil upaya-upaya diplomatik dan upaya-upaya hukum melalui negara ketiga dan badan Internasional untuk melindungi warga negara kita yang diculik oleh tentara Israel itu," ujar dia.
Pasukan Israel menyerang dan mencegat armada kapal GSF di perairan internasional dalam beberapa hari terakhir. Mereka menahan ratusan relawan termasuk tujuh WNI yang ikut berlayar untuk menerobos blokade Israel.
Ketujuh WNI itu yakni jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, Andre Prasetyo Nugroho jurnalis Tempo TV, Rahendro Herubowo jurnalis iNews, Andi Angga Prasadewa aktiivis Rumah Zakat, Ronggo Wirasanu dan Herman Budianto dari Dompet Dhuafa.
Mereka ditangkap pasukan Israel dalam pelayaran Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). GPCI merupakan wadah atau delegasi nasional dari Indonesia yang tergabung dalam inisiasi GSF.
Situs web GSF yang melacak lokasi armada tersebut menunjukkan beberapa kapal dicegat di sebelah barat Siprus.
GSF lantas mendesak pemerintah dunia harus bertindak sekarang demi menghentikan tindakan ilegal atau pembajakan yang bertujuan untuk mempertahankan pengepungan genosida Israel di Gaza.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
3

















































