Terkuak, Stok Rudal Iran Masih Banyak di Wilayah Ini

17 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Intelijen Amerika Serikat (AS) menyimpulkan Iran masih memiliki banyak stok rudal dan peluncur rudal yang disimpan di sepanjang Selat Hormuz.

Penilaian rahasia yang diungkap secara tertutup ini menyatakan Teheran telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi rudalnya di Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut orang-orang yang mengetahui penilaian intelijen tersebut, Iran saat ini bisa menggunakan mobile launcher yang berada di dalam situs-situs tersebut untuk memindahkan rudal ke lokasi lain.

Dalam beberapa kasus, Teheran bahkan bisa meluncurkan rudal langsung dari landasan peluncuran yang merupakan bagian dari fasilitas tersebut.

Penilaian intelijen ini cukup mengkhawatirkan para pejabat AS karena mengancam kapal perang dan tanker minyak AS yang lalu lalang di jalur air tersebut.

Pasalnya, Iran terbukti masih memiliki sekitar 70 persen mobile launcher yang tersebar di seluruh negara itu. Iran juga masih mengamankan sekitar 70 persen persediaan rudal pra-perangnya.

Stok-stok rudal ini meliputi rudal balistik, yang bisa menargetkan negara lain di kawasan, serta sejumlah kecil rudal jelajah, yang bisa digunakan terhadap target jarak pendek di darat atau laut.

Badan intelijen militer juga menyatakan berdasarkan informasi dari berbagai sumber pengumpulan data termasuk citra satelit, Iran telah mendapatkan kembali akses ke sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal bawah tanahnya di seluruh negeri.

Sebagian atau seluruh fasilitas ini dinilai telah beroperasi, demikian menurut orang-orang yang mengetahui informasi intelijen tersebut.

Dilansir dari New York Times, temuan ini melemahkan klaim Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth selama ini bahwa militer Iran sudah "dihancurkan" dan "tidak lagi" menjadi ancaman.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales telah merespons temuan ini dengan menegaskan kembali pernyataan Trump bahwa militer Iran sudah sepenuhnya dihancurkan.

Ia menekankan siapa pun yang "berpikir Iran berhasil membangun kembali militernya adalah orang-orang delusional atau juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)."

Penilaian intelijen terbaru ini sendiri menunjukkan bahwa Trump dan pemerintahannya sudah melebih-lebihkan kerusakan yang ditimbulkan militer AS terhadap Iran. Pemerintahan Trump juga tampaknya meremehkan ketahanan serta kemampuan Iran untuk bangkit kembali.

Washington Post bulan lalu merilis laporan serupa bahwa penilaian intelijen AS menyimpulkan Iran masih mempertahankan sekitar 75 persen mobile launchernya dan sekitar 70 persen stok rudal pra-perangnya.

Temuan-temuan ini menggarisbawahi dilema yang akan dihadapi Trump jika gencatan senjata AS-Iran yang baru berusia satu bulan runtuh dan pertempuran kembali pecah.

Militer AS sudah menghabiskan banyak stok amunisi penting demi memerangi Iran. Namun, penilaian intelijen justru menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan militer yang cukup besar, termasuk di sekitar Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur air vital yang mengangkut seperlima minyak global. Angkatan Laut AS saat ini berada di sekitar kawasan tersebut untuk melintas dan berpatroli. Menurut Komando Pusat AS selaku unit yang bertanggung jawab atas wilayah Timur Tengah, ada lebih dari 20 kapal perang AS di Selat Hormuz.

(blq/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi