CNN Indonesia
Sabtu, 28 Mar 2026 18:45 WIB
Ilustrasi. Terlihat rajin bekerja di kantor membuat pekerja dibebani lebih banyak tugas oleh atasan. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Terlalu terlihat antusias di tempat kerja ternyata tidak selalu berdampak positif. Alih-alih demikian, jadi pekerja yang terlalu rajin bisa jadi bumerang bagi karyawan itu sendiri.
Melansir dari Newsweek, sebuah penelitian yang dipimpin profesor manajemen dari Northeastern University, Sangah Bae, menemukan bahwa karyawan yang dianggap menikmati pekerjaannya justru lebih sering dibebani tugas tambahan oleh atasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggapan ini muncul dari keyakinan sederhana bahwa pekerja yang bersemangat akan bersedia menerima lebih banyak tanggung jawab. Padahal, temuan tersebut menunjukkan bahwa persepsi itu tidak selalu tepat.
Dalam salah satu eksperimen yang melibatkan ribuan partisipan lintas industri, sekitar 55 persen manajer memilih memberikan tugas tambahan kepada karyawan yang dinilai lebih termotivasi secara intrinsik.
Dalam eksperimen lain, angkanya bahkan meningkat hingga 74 persen. Tugas tambahan ini bukan sekadar pekerjaan inti, melainkan juga tugas administratif atau pekerjaan tambahan yang justru bisa mengurangi peluang karyawan mendapatkan insentif atau bonus.
Penelitian ini menyebut fenomena tersebut sebagai motive oversimplification, yaitu kecenderungan atasan menyederhanakan motivasi karyawan. Artinya, jika seseorang terlihat menikmati pekerjaannya, maka diasumsikan ia juga akan menikmati semua tugas tambahan yang diberikan.
Alih-alih meningkatkan kinerja, beban tambahan yang terus diberikan justru berdampak negatif bagi karyawan.
Berdampak negatif
Penelitian menemukan bahwa tingkat kepuasan kerja karyawan yang memiliki semangat tinggi justru turun setelah menerima tugas tambahan. Penurunan ini bahkan lebih besar dari yang diperkirakan oleh para manajer.
Mengutip dari HRD America, dalam jangka panjang mengambil pekerjaan tambahan dapat membuat hubungan yang kurang nyaman dengan atasan.
Selain itu, kondisi ini juga berpotensi memicu beberapa hal seperti berikut:
- burnout (kelelahan kerja) akibat beban berlebih,
- stres berkepanjangan karena ekspektasi tinggi,
- penurunan performa kerja,
- rasa tidak adil di lingkungan kerja.
Karyawan yang awalnya bisa diandalkan justru berisiko mengalami kelelahan secara diam-diam.
Dalam budaya kerja, karyawan yang terlihat rajin, responsif, dan tidak pernah menolak sering kali menjadi pilihan utama atasan untuk diberi tugas tambahan. Istilah seperti 'anak emas kantor' atau 'andalan tim' kerap melekat pada orang yang akhirnya justru kewalahan.
Selain itu, budaya sungkan atau tidak enak menolak juga membuat banyak pekerja menerima tugas tambahan tanpa mempertimbangkan kapasitas mereka.
Peneliti menekankan bahwa kondisi ini bukan sepenuhnya kesalahan atasan. Banyak manajer mengambil keputusan cepat berdasarkan siapa yang dianggap paling bisa diandalkan.
Namun, tanpa disadari, pola ini dapat menciptakan ketimpangan beban kerja dalam tim. Karyawan yang terlihat 'biasa saja' cenderung tidak diberi tambahan tugas, sementara yang aktif justru terus dibebani.
Ilustrasi. Pekerja yang terlalu rajin dan antusias cenderung dibebani lebih banyak tugas oleh atasan. (Istockphoto/skynesher)
Karena itu, penting bagi karyawan untuk mulai menetapkan batasan dan berani menyampaikan kondisi jika beban kerja sudah berlebihan.
Terlihat antusias di tempat kerja memang bisa menjadi nilai tambah. Tapi, jika tidak dikelola dengan baik, hal tersebut justru bisa merugikan.
Pada akhirnya, produktivitas yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada semangat, tetapi juga pada kemampuan menjaga batas yang sehat dalam bekerja.
(nga/asr)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
5

















































