Selular.ID – Vida mengingatkan masyarakat terhadap meningkatnya risiko penipuan digital menjelang Iduladha 2026, terutama pada transaksi kurban online yang kini semakin banyak digunakan masyarakat Indonesia.
Vida menilai pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan tingginya aktivitas transaksi digital saat musim hari raya untuk menjalankan berbagai modus penipuan yang semakin kompleks.
Tren digitalisasi layanan kurban memang memberi kemudahan bagi masyarakat, namun di sisi lain membuka peluang baru bagi pelaku fraud memanfaatkan kelengahan pengguna.
Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA mengatakan aktivitas digital masyarakat cenderung meningkat signifikan menjelang Iduladha.
Sehingga pengguna perlu lebih waspada terhadap tautan mencurigakan, dokumen palsu, hingga modus social engineering yang menyasar data pribadi dan akses akun pengguna.
“Iduladha menjadi momen ketika masyarakat berlomba-lomba menebar kebaikan salah satunya melalui kurban dan sedekah. Di saat yang sama, aktivitas transaksi digital juga meningkat. Karena itu, penting untuk lebih cermat memeriksa setiap transaksi dan tidak terburu-buru mengklik tautan yang mencurigakan,” ujar Niki.
Menurutnya, ancaman fraud digital kini berkembang lebih terorganisasi dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Berdasarkan Whitepaper Vida 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, pelaku penipuan mulai menggabungkan beberapa metode serangan.
Sekaligus dalam satu skenario, termasuk penggunaan deepfake, account takeover, hingga manipulasi psikologis melalui social engineering.
Deepfake sendiri merupakan teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dapat memalsukan wajah, suara, atau identitas seseorang secara digital.
Teknologi ini mulai banyak dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meyakinkan korban agar memberikan akses akun, kode OTP, atau data identitas pribadi.
Vida menilai pola serangan seperti ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan transaksi asli dan palsu, terutama ketika dilakukan melalui pesan instan, media sosial, atau platform digital yang tampak meyakinkan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Vida meminta masyarakat memastikan transaksi kurban dilakukan melalui lembaga resmi dan platform dengan identitas yang jelas.
Pengguna juga diminta mewaspadai penawaran hewan kurban dengan harga yang terlalu murah dibanding harga pasar karena sering digunakan sebagai umpan penipuan.
Selain itu, pengguna diminta tidak sembarangan membuka tautan maupun dokumen dari sumber tidak dikenal.
Menurut Niki, file atau link mencurigakan dapat menjadi pintu masuk malware yang mencuri data pengguna maupun mengambil alih perangkat korban.
Perusahaan juga kembali menegaskan pentingnya menjaga kerahasiaan kode OTP dan data sensitif lainnya.
Penyelenggara kurban resmi disebut tidak akan pernah meminta OTP atau informasi pribadi rahasia kepada pelanggan.
Tidak hanya masyarakat, Niki juga mengingatkan penyedia layanan kurban digital untuk lebih teliti dalam memverifikasi pembayaran pelanggan.
Hal ini penting untuk mencegah penggunaan bukti transfer palsu atau manipulasi transaksi yang dapat merugikan pelaku usaha maupun lembaga penyalur kurban.
Sebagai bagian dari penguatan keamanan digital, Vida memperkenalkan ID FraudShield, solusi keamanan yang menggabungkan biometric intelligence, device intelligence, dan sistem deteksi fraud dalam satu integrasi.
Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi pola penipuan secara lebih menyeluruh, termasuk ketika pelaku telah memiliki foto identitas, kode OTP, atau akses perangkat pengguna.
Menurut Niki, sistem keamanan digital perlu terus berkembang mengikuti perubahan pola transaksi masyarakat dan evolusi metode serangan siber.
Karena itu, pendekatan keamanan kini tidak hanya berfokus pada identitas pengguna, tetapi juga pada keamanan perangkat dan jaringan yang digunakan saat bertransaksi.
Peningkatan aktivitas digital di Indonesia menjelang hari besar keagamaan memang kerap diikuti lonjakan ancaman siber, mulai dari phishing hingga penyalahgunaan identitas digital.
Baca Juga:Vida ID FraudShield Jadi Teknologi yang Bisa Deteksi Penipuan Identitas
Kondisi tersebut membuat perlindungan berbasis verifikasi identitas dan deteksi fraud real-time semakin menjadi kebutuhan penting bagi platform digital maupun pengguna individu.



















































