6 Pekerjaan yang Mulai Ditinggalkan Gen Z, Ini Alasannya

2 hours ago 1

Jakarta -

Gen Z kerap dianggap sebagai generasi yang pilih-pilih soal pekerjaan. Tak jarang juga generasi ini dianggap 'malas' karena tidak ambisius.

Namun sebenarnya, Gen Z memiliki standar baru terkait keseimbangan hidup alias work-life balance, kesehatan mental, dan nilai ekonomi sehingga mempengaruhi dalam memilih pekerjaan.

Beberapa pekerjaan umum yang digeluti generasi sebelumnya bahkan ada yang ditinggalkan karena alasan-alasan tertentu.

Berikut adalah 6 jenis pekerjaan yang mulai ditinggalkan Gen Z beserta alasan di baliknya:


1. Pekerjaan Korporat Konvensional

Bagi Gen Z, duduk di kubikel selama 8-9 jam sehari dengan pengawasan ketat terasa sangat membatasi. Mereka lebih menyukai model kerja Remote atau Hybrid.

Alasannya tak lain adalah fleksibilitas adalah prioritas utama. Mereka merasa produktivitas tidak diukur dari kehadiran fisik, melainkan hasil kerja.

2. Industri Manufaktur dan Buruh Pabrik

Pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik secara repetitif di lingkungan pabrik kini semakin sulit menarik minat anak muda.

Selain faktor kelelahan fisik, ada kekhawatiran mengenai otomatisasi (AI/Robot) yang bisa menggantikan peran mereka kapan saja, serta kurangnya jenjang karier yang kreatif menjadi alasan.

3. Sektor Layanan Pelanggan (Customer Service) Tradisional

Pekerjaan di call center atau layanan tatap muka langsung mulai dijauhi karena tingkat stres yang tinggi. Gen Z sangat peduli pada kesehatan mental. Menghadapi komplain pelanggan setiap hari tanpa perlindungan kesejahteraan emosional dianggap tidak sebanding dengan upah yang diterima.

4. Administrasi Data Entry

Pekerjaan yang bersifat administratif murni dan membosankan kini mulai ditinggalkan oleh tenaga kerja muda. Gen Z tumbuh besar dengan teknologi. Mereka tahu bahwa pekerjaan data entry bisa (dan seharusnya) dilakukan oleh sistem otomatis atau AI, sehingga mereka lebih memilih peran yang membutuhkan pemikiran kritis.

5. Pekerjaan dengan Budaya Hustle Culture yang Toksik

Pekerjaan di agensi atau perusahaan start-up yang menormalisasi lembur tanpa dibayar dan tekanan tinggi demi pertumbuhan cepat mulai kehilangan pesonanya.

Fenomena Quiet Quitting berakar dari sini. Gen Z menolak mengidentifikasi diri mereka hanya berdasarkan pekerjaan dan tidak ingin mengorbankan kehidupan pribadi demi loyalitas perusahaan.

6. Industri Ritel Konvensional

Bekerja sebagai staf toko fisik atau kasir kini kurang diminati dibandingkan menjadi reseller online atau pengelola toko digital. Alasannya, gaji yang diberikan sering kali berada di angka minimum dan jadwal kerja yang tidak menentu (termasuk akhir pekan) membuat industri ini kalah saing dengan gig economy (pekerjaan lepasan).

(dia/fik)

Loading ...

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi