Apa yang Terjadi setelah Negosiasi Damai AS-Iran Mandek?

13 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai mufakat pada Minggu (12/4).

Pembicaraan maraton selama 21 jam tersebut tidak menghasilkan apapun selain menandai pertemuan tatap muka pertama kedua negara sejak revolusi Islam 1979.

Wakil Presiden AS JD Vance menjelaskan buntunya negosiasi lantaran Iran tidak mau menuruti permintaan AS, salah satunya terkait penghentian penuh program nuklir Teheran. Namun, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, perundingan mandek karena AS mengajukan "tuntutan berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Parlemen Iran selaku pemimpin delegasi, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa AS "pada akhirnya gagal mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini".

Iran mengindikasikan siap untuk terus berdialog meski tak bisa menaruh percaya sepenuhnya pada AS. Vance sementara itu mengatakan gagalnya perundingan kemarin merupakan "kabar buruk" bagi Teheran.

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar telah mewanti-wanti AS dan Iran untuk untuk tetap patuh pada kesepakatan gencatan senjata meski negosiasi damai gagal. Kedua negara sepakat menghentikan perang sementara sejak Rabu (8/4) lalu.

Gagalnya perundingan damai AS-Iran memang memperdalam ketidakpastian akan langgengnya gencatan senjata dua pekan yang disepakati sebelumnya.

Saat ini, masing-masing pihak perlu mengatasi jurang ketidakpercayaan yang dalam untuk bisa mencapai kesepakatan.

Dilansir dari Deutche Welle (DW), para analis memandang bahwa poin-poin perdebatan yang menjadi kendala dalam negosiasi AS-Iran akan sulit diatasi dalam waktu singkat.

"Konflik itu bersifat struktural, bukan taktis. AS menginginkan pembatasan program nuklir Iran, de-eskalasi regional, dan navigasi yang aman, dengan membingkai hal-hal ini sebagai kebutuhan keamanan," kata pakar Iran-Pakistan dan peneliti senior di Atlantic Council, Fatemeh Aman, kepada DW.

"(Sedangkan) Iran menuntut pencabutan sanksi, pengakuan, dan perlindungan. Mereka berunding untuk status daripada hanya pembatasan. Tujuan mereka tidak selaras," lanjutnya.

Menggaungkan pernyataan Aman, direktur inisiatif Asia Selatan di Asia Society Policy Institute, Farwa Aamer, mengatakan "butuh proses jangka panjang" untuk bisa mencapai pemahaman bersama antara kedua belah pihak.

Apakah gencatan senjata bisa bertahan?

Meski amat rapuh, para analis masih meyakini gencatan senjata AS-Iran akan bertahan dan serangan tidak akan berlanjut.

"Gencatan senjata masih berlaku tapi rapuh. Ini tidak didasarkan pada kesepakatan politik. Ini mencerminkan jeda sementara yang dibentuk oleh kehati-hatian dan perhitungan jangka pendek. Kedua belah pihak mengelola situasi daripada menyelesaikannya," ujar Aman.

Aamer juga relatif optimistis bahwa gencatan senjata akan tetap berlaku dan AS-Iran akan melanjutkan proses diplomatik mereka.

Pembicaraan langsung tak akan lanjut

Para analis juga menilai pembicaraan langsung antara AS dan Iran seperti di Islamabad tak akan mungkin terjadi dalam waktu dekat. Sebab, ketegangan kedua negara meningkat dan masing-masing pihak masih keras kepala.

"Pembicaraan lebih lanjut kemungkinan akan dilakukan, tapi tidak dalam waktu dekat," kata Aman.

"Kedua pihak tidak ingin terlihat menyerah setelah putaran pembicaraan kemarin gagal. Kemungkinan akan ada jeda bagi keduanya menilai kembali posisi dan daya tawar mereka," lanjutnya.

"Jika pembicaraan dilanjutkan, kemungkinan besar tidak akan dimulai dengan isu-isu yang paling sulit. Kemungkinan akan dimulai dengan langkah-langkah teknis yang lebih sempit yang mengurangi risiko tanpa memerlukan konsesi besar."

Bagi Aamer, diplomasi senyap dan mediasi mungkin akan menjadi strategi yang dapat membuka jalan untuk putaran selanjutnya.

"Namun, hal itu akan bergantung pada bagaimana AS dan Iran menentukan langkah selanjutnya," pungkasnya.

Trump blokade Selat Hormuz

Setelah negosiasi gagal, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata selama dua pekan tetap "berjalan dengan baik".

Meski begitu, ia menyatakan bahwa AS kini akan memblokade Selat Hormuz dan mencegat setiap kapal yang kedapatan membayar biaya transit ke Iran, sebagai tanggapan atas penolakan Iran.

Iran baru-baru ini menetapkan tarif transit bagi kapal-kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz.

Komando Pusat AS (CENTCOM) sementara itu merinci pasukannya akan memberlakukan blokade secara imparsial terhadap kapal-kapal yang meninggalkan dan memasuki pelabuhan Iran, termasuk yang berada di Teluk Persia dan Teluk Oman.

Namun, CENTCOM memastikan pihaknya tidak akan menghalangi kebebasan kapal yang melintas ke dari dari pelabuhan non-Iran. Menurut unggahan Truth Social Trump, blokade ini akan dimulai pada Senin (13/4) pukul 10.00 ET.

(blq/dna)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi