BCA Tinggalkan Era Antre Bank, Nasabah Serbu myBCA di 2026

6 hours ago 5

Selular.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bank swasta terbesar di Indonesia, mulai beroperasi sebagai bank pada 21 Februari 1957 di Jakarta dengan nama NV Bank Central Asia, hasil transformasi dari perusahaan tekstil NV Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory yang berdiri di Semarang pada 1955.

Pendirian bank ini tidak lepas dari peran pengusaha Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, yang kelak membesarkan Grup Salim menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara. Izin usaha sebagai bank diperoleh lewat Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 42855/U.M.II tertanggal 14 Maret 1957.

Perjalanan panjang itu diwarnai transformasi bisnis dari bank konvensional menjadi institusi keuangan berbasis teknologi digital, seiring kebutuhan nasabah yang terus berubah dari generasi ke generasi.

Pada 2 September 1975, nama perusahaan resmi berganti menjadi PT Bank Central Asia setelah pengusaha Mochtar Riady bergabung sejak 1 Mei 1975 dan membenahi sistem kerja internal bank.

Dua tahun kemudian, pada 1977, BCA melakukan merger dengan dua bank lain, termasuk Bank Gemari milik Yayasan Kesejahteraan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sekaligus memperoleh status sebagai bank devisa yang dapat melayani transaksi valuta asing.

Era Internet Banking hingga Ekosistem Digital Sakuku dan OneKlik
Titik awal transformasi digital BCA dimulai pada 2001 dengan peluncuran KlikBCA, layanan internet banking pertama BCA yang memungkinkan nasabah bertransaksi lewat komputer di tengah masih rendahnya penetrasi internet Indonesia kala itu.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Pada 2007, BCA memperluas layanan digitalnya dengan meluncurkan kartu prabayar Flazz serta merintis layanan mobile banking.
Rentang 2014 hingga 2016.

BCA mengembangkan sejumlah layanan berbasis self-service, termasuk versi awal MyBCA, aplikasi dompet elektronik Sakuku, fitur transfer peer-to-peer berbasis kode QR, layanan pembayaran daring OneKlik, serta asisten virtual VIRA.

Pada periode yang sama, BCA menyempurnakan platform KlikBCA Integrated Business Solution untuk kebutuhan transaksi nasabah bisnis, dan memperoleh izin layanan asuransi jiwa lewat anak usahanya, PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life). BCA Learning Institute dan Galeri BCA sebagai fasilitas riset dan pengembangan diresmikan pada 23 Januari 2017.

myBCA Jadi Tulang Punggung Superapp Digital BCA
BCA memperkenalkan myBCA sebagai platform digital banking generasi baru pada 3 Mei 2021, dilengkapi BCA ID sebagai single user ID untuk mengakses berbagai layanan elektronik BCA, termasuk myBCA dan Welma, platform investasi reksa dana serta obligasi dan Surat Berharga Negara (SBN) besutan BCA.

Melalui myBCA, nasabah dapat melakukan transfer sesama BCA, antarbank, ke virtual account, maupun ke Sakuku, dengan limit akumulasi hingga Rp300 juta per hari per BCA ID, selain fitur pembayaran QRIS, transaksi tanpa kartu (cardless) di ATM, hingga pembukaan rekening e-Deposito.

Dalam empat tahun terakhir sejak diluncurkan, frekuensi transaksi myBCA disebut telah meningkat hingga 30 kali lipat, sementara jumlah penggunanya melonjak 26 kali lipat. Hera menyebut myBCA dan BCA mobile akan terus dikembangkan mengikuti tren digital serta gaya hidup masyarakat.

Sepanjang pengembangannya, BCA menambahkan sejumlah fitur baru pada myBCA, di antaranya akses lewat perangkat smartwatch berbasis WearOS dan Apple Watch, pembayaran QRIS lewat teknologi near field communication (NFC) bertajuk QRIS Tap.

Papan ketik khusus transaksi myBCA Keyboard, fitur penyimpanan valuta asing Poket Valas dan Poket Rupiah, hingga Layanan Cabang untuk pemesanan uang kertas (banknotes) dan transaksi cabang lainnya secara digital.

Dari sisi keamanan, BCA menerapkan verifikasi berlapis berupa kode OTP di setiap transaksi penting, enkripsi data, serta autentikasi biometrik sidik jari dan wajah pada perangkat mobile nasabah.

Perkuat Ekosistem Hybrid Banking dan AI di Layanan Nasabah
Pada Konferensi Pers Paparan Kinerja Full Year 2025 BCA yang digelar secara virtual pada 27 Januari 2026, yang dikutip dari berbagai sumber, Gregory Hendra, Presiden Direktur BCA Lembong menyampaikan bahwa transformasi BCA ke depan tidak hanya menyasar ekspansi jaringan fisik, tetapi juga penguatan ekosistem hybrid banking yang menggabungkan kanal digital dan fisik

Investasi berkelanjutan diarahkan ke berbagai kanal layanan, mulai dari mobile banking, internet banking, point of sales, kantor cabang, ATM, hingga contact center.

BCA turut mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) pada layanan contact center guna memberikan respons yang lebih cepat kepada nasabah, seiring komitmen perseroan menjaga keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Perjalanan BCA dari perusahaan tekstil di Semarang pada 1955 hingga menjadi bank swasta dengan basis nasabah digital terbesar di Indonesia mencerminkan pola adaptasi bisnis perbankan nasional terhadap perubahan kebutuhan transaksi masyarakat.

Arah pengembangan layanan BCA selanjutnya akan bergantung pada eksekusi strategi hybrid banking dan integrasi teknologi AI yang telah diumumkan manajemen dalam paparan kinerja tahunan perseroan.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi