Jakarta -
Insertizen, pernahkah kalian mendengar ungkapan "Tuntut ilmu sampai ke negeri China"? Ungkapan ini cukup populer dalam konteks pendidikan dan kerap dijadikan sebagai motivasi untuk belajar.
Ungkapan tersebut juga termasuk salah satu hadits yang sering diucapkan dalam ceramah atau kegiatan Islami lainnya. Secara makna, hadits ini mengandung anjuran kepada umat Islam untuk senantiasa menuntut ilmu hingga sejauh mungkin. Ilmu berperan sebagai landasan untuk menjalankan syariat Islam sekaligus membantu manusia untuk membedakan hal yang benar dan salah.
Diketahui bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA. Selain itu, hadits tersebut juga tertulis dalam catatan Ibnu 'Addi dalam Al Kamil, Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbihan, Al Khathib dalam Tarikh Baghdadh, Al Baihaqiy dalam Al Madkhal, dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Jami'.
Berikut ini bunyi haditsnya:
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ يا الْصِيْنِ
Artinya: "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China."
Di samping itu, ternyata hadits ini merupakan potongan dari Hadits Tarbawi oleh Abu Ubaidah. Berikut ini bunyi haditsnya secara lengkap:
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ يا الْصِيْنِ فَإِنَّ الْعِلْمَ فَرِضَة عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَضَعُ أَجْنَحَتِهَا لِطَلِبِ رِضَا عًا بِمَا يَطْلُبُ
Artinya: "Carilah ilmu sekalipun di negeri China, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim laki-laki dan perempuan. Dan sesungguhnya para malaikat menaungkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu karena ridha terhadap amal perbuatannya."
Meski mengandung makna yang memotivasi, beberapa ulama hadits menilai hadits ini lemah atau palsu. Menurut Abdul Bakir, S.Ag dalam bukunya yang bertajuk 150 Hadits Dha'if yang Sering Dijadikan Dalil, hadits ini disebut sebagai hadits dhaif jiddan atau hadits yang sangat lemah.
Lebih lanjut, Al Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman juga mengatakan bahwa hadits tersebut memang populer secara matan, tetapi sanadnya lemah. Artinya, periwayat atau orang yang menyampaikan hadits tersebut tidak diketahui pasti asal-usulnya, sehingga keabsahannya tidak bisa dibuktikan.
Beberapa menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abu Atikah Tharif bin Sulaiman dari Anas bin Malik. Namun, Imam Al-Bazzar justru menegaskan bahwa Abu Atikah merupakan sosok yang tidak dikenal dan tidak diketahui jelas asalnya.
Sependapat dengan hal itu, Imam Al-Bukhari juga menambahkan bahwa Abu Atikah adalah rawi yang lemah.
As-Suyuti dalam Al-La'all' Al-Mashnu'ah berusaha menguatkan hadits tersebut dengan menyebutkan dua sumber. Nyatanya, kedua sumber tersebut justru lebih parah tingkat kelemahannya.
Disebutkan bahwa sumber yang pertama adalah Ya'qub bin Ishaq Al-'Asqalaniy yang dikenal sebagai seorang pendusta. Untuk sumber yang kedua, yaitu Al-Juwaibariy, salah satu perawi yang dikenal suka memalsukan hadits. Oleh karena itu, As-Suyuti menganggap hadits tersebut sebagai hadits yang bathil, tidak boleh diamalkan, dan tidak boleh diyakini kebenarannya sebagai sabda Rasulullah saw.
Kesimpulannya, hadits yang berbunyi "Tuntut ilmu sampai ke negeri China" merupakan hadits palsu yang tidak jelas asal-usulnya. Alih-alih meyakini hadits tersebut, umat muslim lebih dianjurkan mengamalkan hadits lain tentang menuntut ilmu yang sudah disepakati keabsahannya oleh para ulama.
Dalam agama Islam, menuntut ilmu sejatinya adalah perjalanan mencari rida Allah SWT. Maka dari itu, menuntut ilmu harus dilandasi dengan rasa ikhlas di setiap prosesnya agar membawa manfaat yang kekal di dunia dan akhirat.
(Astris Riyani Atmaja/agn)
Loading ...

4 hours ago
3














































