Jakarta, CNN Indonesia --
Gangguan besar pada pasokan minyak global akibat krisis di Selat Hormuz diperkirakan merugikan ekonomi dunia hingga 50 miliar euro atau senilai dengan Rp1 triliun (asumsi kurs Rp20.190 per euro).
Kondisi ini dipicu oleh terhentinya distribusi energi dalam skala besar yang menyebabkan defisit fisik minyak di pasar global.
Mengutip laporan penyedia analitik komoditas Kpler, dalam waktu kurang dari dua bulan, pasar global kehilangan lebih dari 500 juta barel minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi dunia kehilangan pasokan minyak senilai lebih dari 50 miliar euro," tulis laporan tersebut melansir laporan kantor berita Rusia RIA Novosti, Jumat (24/4).
Padahal, Badan Energi Internasional (IEA) sempat memproyeksikan surplus pasokan global pada 2026. Namun, blokade Selat Hormuz justru membalikkan kondisi menjadi kekurangan pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Gangguan ini juga memicu kolaps logistik energi global. Volume transit minyak melalui Selat Hormuz anjlok drastis dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi hanya 500 ribu barel. Dampaknya, cadangan minyak global menyusut sekitar 45 juta barel.
Krisis paling parah dirasakan negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada jalur tanker di kawasan tersebut. Kpler mencatat produksi minyak negara-negara Arab pada Maret turun hingga 8 juta barel per hari akibat hambatan distribusi dan kerusakan infrastruktur energi.
Bahkan, produksi minyak dan kondensat Qatar anjlok hampir 80 persen menjadi hanya 370 ribu barel per hari. Perusahaan energi negara, QatarEnergy, juga menghentikan produksi gas alam cair (LNG) dan menyatakan force majeure atas kontrak jangka panjangnya.
Penurunan produksi juga terjadi di negara lain. Irak memangkas produksi hingga dua pertiga, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab mengurangi setengah kapasitasnya. Arab Saudi turut memangkas produksi sebesar 23 persen.
Di sisi lain, negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak karena selama ini menyerap mayoritas ekspor energi dari kawasan tersebut. Sebelum krisis, sekitar 84 persen minyak mentah dan 83 persen LNG dari Selat Hormuz dikirim ke Asia.
Untuk menutup kekurangan, sejumlah negara meningkatkan impor dari Rusia. Ekspor minyak Rusia ke India melonjak hampir dua kali lipat menjadi mendekati 2 juta barel per hari pada Maret.
Korea Selatan dan Filipina juga mulai menerima pasokan, sementara negara seperti Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Sri Lanka mulai membuka cadangan strategis dan menjajaki kontrak baru.
Di Eropa, krisis ini memicu lonjakan harga energi. Harga gas melonjak hingga lebih dari US$600 per 1.000 meter kubik pada Maret, atau naik sekitar 50 persen. Uni Eropa pun meningkatkan impor LNG dari Rusia, dengan volume mencapai 5 juta ton, naik 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Komisi Eropa memperkirakan total biaya energi tambahan akibat krisis ini mencapai 24 miliar euro, atau sekitar 500 juta euro per hari.
Sementara itu, Rusia menjadi salah satu pihak yang diuntungkan. Pendapatan ekspor minyak negara tersebut melonjak menjadi US$19,04 miliar pada Maret. "Pendapatan meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya maupun tahun lalu," tulis IEA.
Di tengah krisis, Iran juga mulai memanfaatkan kendali atas Selat Hormuz. Wakil Ketua Parlemen Iran Hamidreza Hajibabaei mengatakan pendapatan pertama dari tarif transit kapal di selat tersebut telah masuk ke rekening bank sentral Iran.
"Iran menganggap Selat Hormuz sebagai miliknya, dan semua kapal yang melintas harus membayar biaya transit dalam mata uang rial," ujarnya melansir Tasnim News, Kamis (23/4).
Ia menambahkan sekitar 20 persen minyak dunia dan 35 persen gas global melewati Selat Hormuz, sehingga penguasaan jalur ini memberi Iran peran besar dalam ekonomi internasional.
Selain itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyita dua kapal yang melanggar aturan pelayaran di kawasan tersebut. "Jumlah kapal yang disita bisa bertambah jika diperlukan," demikian pernyataan otoritas militer Iran.
(lau/sfr)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3

















































