Buruh Sebut Ada Sinyal Badai PHK 3 Bulan Lagi

13 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Partai Buruh Said Iqbal mengungkapkan akan ada badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam waktu tiga bulan ke depan.

Said mengatakan badai PHK tersebut disebabkan dua faktor utama, yakni eskalasi perang di Timur Tengah dan kebijakan impor mobil pikap dalam program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih yang dinilai mencekik industri lokal.

"Di tengah ancaman perang ini, ancaman PHK akan terjadi besar-besaran dalam 3 bulan ke depan. Kami mendapatkan informasi tersebut," ujar Said dalam konferensi pers secara daring, Senin (6/4) dikutip Detikfinance.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel membuat harga energi global melonjak hingga berdampak langsung pada biaya produksi. Adapun harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat industri mengikuti harga pasar global meski pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi maupun non subsidi.


Said mengungkapkan perusahaan telah memberikan sinyal PHK kepada serikat pekerja di tingkat pabrik. Jika biaya energi tak terkendali, maka pengurangan karyawan bisa menjadi pilihan yang diambil pengusaha.

"Oleh karena itu, panjangnya perang ini akan memberikan tekanan pada production cost atau biaya produksi di bahan bakar untuk menggerakkan mesin-mesin, turbin-turbin, listrik dan biaya-biaya energi lainnya bagi pengusaha. Yang berujung pada pembengkakan biaya produksi yang tidak bisa menaikkan harga penjualan daripada produk yang mereka produksi," jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung pengadaan impor 160 ribu mobil pikap dalam program Kopdes Merah Putih. Menurutnya, pengadaan impor tersebut dapat menyerap 20 ribu hingga 50 ribu tenaga kerja jika memaksimalkan produksi dalam negeri.

"Harusnya bisa menyerap 20 ribu hingga 50 ribu tenaga kerja. Peluang itu hilang, malah membesarkan tenaga kerja India, walaupun harganya mungkin lebih rendah," singgung Said.

Said menjelaskan dampak mengerikan jika kebijakan impor terus berlanjut, yakni apabila pesanan pabrik berkurang, maka pekerja kontrak menjadi pertama yang akan diputus masa kerjanya.

"Kalau order berkurang, otomatis karyawan kontraknya di-PHK. Tidak diperpanjang kontraknya. Kalau ada mobil impor dari India tadi dikerjakan di Indonesia, akan memperpanjang kontrak, juga menambah tenaga kerja yang baru," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi