Jakarta -
Pernyataan Chef Juna soal sumber daya manusia (SDM) di dapur profesional Indonesia mendadak memicu perdebatan panas di media sosial.
Ucapannya yang blak-blakan dinilai terlalu keras oleh sebagian orang, tetapi juga dianggap realistis oleh banyak pelaku industri kuliner.
Perdebatan itu bermula ketika Juna hadir dalam podcast milik Raditya Dika dan membahas kerasnya dunia bisnis kuliner.
Menurutnya, menjalankan restoran bukan sekadar soal passion terhadap makanan, tetapi juga soal disiplin dan tanggung jawab kerja.
"Manja. SDM kita manja, firm manja," ucap Juna dengan nada tegas.
Ia menegaskan komentarnya itu khusus ditujukan untuk lingkungan professional kitchen atau dapur profesional.
Pengalaman bekerja di restoran ternama Jepang hingga Amerika Serikat membuatnya merasa budaya kerja di Indonesia masih terlalu longgar.
"Memang orang kita agak manja, saya ngomong profesional kitchen ya," lanjutnya.
Salah satu hal yang paling sering ditemuinya adalah karyawan dapur yang tiba-tiba izin kerja karena urusan keluarga, termasuk saat anak sakit.
Menurut Juna, kondisi tersebut membuat ritme kerja dapur langsung kacau karena setiap posisi memiliki tanggung jawab masing-masing.
"Posisi dalam kitchen itu sudah megang tanggung jawab masing-masing, apalagi udah sekelas Chef de Partie, CDP, itu bisa loh pagi-pagi 'Chef sorry saya tidak bisa berangkat kerja, anak saya panas, sakit,'" ungkapnya.
Juna bahkan terang-terangan mengaku sulit memahami alasan tersebut.
"Call me heartless, yang sakit kan anaknya. Istrinya ada di rumah. Terus ngapain kamu ikut-ikutan di rumah? Emang kamu ikutan di rumah, anakmu sembuh gitu tiba-tiba?" katanya.
Menurut Juna, ketika seseorang memutuskan bekerja secara profesional, maka tanggung jawab terhadap pekerjaan juga harus menjadi prioritas.
Ia menilai izin mendadak justru bisa merugikan pekerja itu sendiri karena berpengaruh pada penghasilan.
"Kenapa? Anak sudah sakit, perlu biaya pengobatan, kamu izin lagi tiba-tiba kan potong gaji. Itu kan bukan bagian dari cuti," jelasnya.
Ia lalu membandingkan suasana dapur profesional dengan sebuah orkestra. Semua orang punya peran penting dan kehilangan satu orang saja bisa membuat sistem berantakan.
"Chaotic. Karena profesional kitchen boleh disamakan dengan orkestra," ujar Juna.
"Masing-masing alat musik ada yang pegang, tiba-tiba yang megang flute enggak masuk, mau ngapain," lanjutnya.
Meski begitu, Juna mengaku dirinya tetap mencoba memahami kondisi tersebut karena budaya kerja di Indonesia memang berbeda dengan negara lain tempat ia pernah bekerja.
"Mau enggak mau, karena itu culture di sini," katanya.
"Jadi, agak berat juga," sambungnya.
Pernyataan itu langsung menuai pro dan kontra. Sebagian netizen menilai sikap Juna terlalu keras dan tidak memanusiakan pekerja.
Namun, ada juga yang membela karena memahami tekanan besar dalam industri makanan dan minuman.
Di tengah ramainya perdebatan, Chef Arnold ikut memberikan tanggapan.
Ia menilai dunia F&B memang keras, tetapi tetap harus dibangun dengan empati dan rasa saling menghargai antara pemilik usaha dan pekerja.
"Betul show must go on... F&B ga sekeras itu kalau kita ada empati, simpati dan saling respect both sama rekan kerja, pemilik dan pekerja. Tergantung mau liat sisi yang mana," tulis Chef Arnold.
(ikh/ikh)
Loading ...

7 hours ago
3

















































