Dokter di Cianjur Meninggal Positif Tertular Campak Diduga Saat Tugas

4 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang dokter internship inisial AMW (25) yang sedang menjalani magang di RSUD Pagelaran meninggal dunia setelah terpapar campak. 

Sebelumnya, korban yang diduga tetap bertugas meski sudah bergejala.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni, berdasarkan hasil penelusuran awal, dokter tersebut diduga telah terpapar sebelum 18 Maret saat pertama kali gejala muncul.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret," sorot Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3) seperti dikutip dari detikHealth.

Andi kemudian memaparkan kronologi gejala yang dialami korban hingga kemudian meninggal dunia.

Pada 18 Maret, AMW mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Ia sempat meminta izin untuk tidak berdinas dan diizinkan beristirahat.

Menangani pasien campak

Namun, pada 19 hingga 21 Maret 2026, korban tetap masuk kerja dan menjalani dinas selama tiga hari berturut-turut, termasuk menangani pasien campak dengan alasan merasa tubuh masih fit.

Kondisinya terus memburuk, hingga pada 21 Maret mulai muncul ruam pada kulit, salah satu gejala khas campak. Meski demikian, ia masih tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak. Setelah itu, ia akhirnya mengajukan cuti karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Memasuki 24 Maret, AMW menginformasikan kepada rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp bahwa dirinya terkena campak, disertai munculnya ruam di tubuh.

Kondisinya terus memburuk dengan cepat. Pada 25 Maret pukul 22.00 WIB, korban dibawa ke IGD RS Cianjur oleh pihak keluarga dalam kondisi penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya.

Saat tiba di rumah sakit, korban dilaporkan mengalami akral dingin, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 144 kali per menit, serta saturasi oksigen yang sangat rendah, yakni 35 persen. Setelah diberi bantuan oksigen sungkup 15 liter per menit, saturasi oksigen korban hanya meningkat menjadi 50 persen.

Kemudian pada Kamis (26/3) dini hari, pukul 00.30 WIB, pasien dirujuk ke ruang ICU. Namun kondisinya tidak kunjung membaik.

Pada pukul 08.15 WIB dilakukan tindakan intubasi. Beberapa jam kemudian, yakni Kamis siang pukul 11.30 WIB, AMW dinyatakan meninggal.

Penelusuran epidemiologis

Andi menjelaskan diagnosis akhir menunjukkan campak dengan komplikasi pada jantung dan otak korban.

Sehari setelahnya, pada 27 Maret 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan penelusuran epidemiologis.

"Hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 28 Maret 2026 dari Bio Farma kemudian mengonfirmasi bahwa pasien positif campak," ujar Andi.

Andi menegaskan kasus ini menjadi pengingat penting bagi tenaga kesehatan. Dia pun menyatakan hal tersebut harus dipatuhi lembaga kesehatan hingga pemangku kepentingan lainnya.

"Tenaga kesehatan yang sudah bergejala sebaiknya tidak bertugas terlebih dahulu untuk mencegah penularan dan risiko perburukan kondisi," katanya.

Baca berita lengkapnya di sini.

(kid/ugo)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi