Iran Siapkan Pemakaman Megah Mendiang Ayatollah Ali Khamenei

15 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Iran sedang mempersiapkan upacara pemakaman megah untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Acara pemakaman ini mulai dipersiapkan setelah penundaan yang cukup lama, akibat serangan gabungan yang terus berlanjut oleh Amerika Serikat dan Israel.

Dilansir AFP, meski waktu pemakaman tersebut masih belum pasti, namun sebuah markas khusus telah dibentuk untuk mempersiapkan upacara pemakaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan televisi pemerintah Iran yang mengutip Kepala Dewan Koordinasi Propaganda Islam, Mohsen Mahmoudi, mengatakan berbagai lembaga saat ini sedang merencanakan dan membuat pengaturan.

"Berbagai organisasi sedang berupaya menyediakan kondisi yang diperlukan, agar setelah diumumkan secara resmi, upacara megah dapat diadakan," kata Mahmoudi.

Iran sebelumnya telah mengadakan acara penghormatan kepada mendiang Khamenei pada Aprul lalu. Namun pemakaman kenegaraan belum kunjung diadakan karena perang.

Ayatollah Ali Khamenei yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade, tewas dalam gelombang pertama serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Putra sekaligus penerusnya saat ini, Mojtaba Khamenei, juga dikabarkan terluka dalam serangan itu. Hingga kini dia belum terlihat di depan umum sejak menjabat.

Ali Khamenei Wafat

Pembunuhan Khamenei menandai hari yang berbeda di Teheran, di Iran, dan tentu di kawasan Timur Tengah.

"Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur sebagai syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari," lapor Tasnim News.

Hidup Khamenei berakhir di usia 86 tahun pada Sabtu. Hari itu pula, kekuasaan dia yang sudah berjalan 26 tahun tamat. Selama memimpin Iran, Khameni dicap pahlawan sekaligus tiran oleh warga dan oposisi.

Bagi loyalis, Khamenei dianggap sebagai pahlawan dan membawa perubahan. Namun, bagi oposisi dia adalah tiran.

Khamenei menjadi orang nomor satu di Iran pada 1989 setelah pelopor revolusi Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia.

Khamenei lahir di kota suci Syiah Mashhad pada 1939. Dia anak dari pemimpin Muslim terkemuka dan etnis Azerbaijan dari negara tetangga Irak.

Keluarga Khamenei pertama kali menetap di Tabriz sebelum pindah ke Mashhad. Ibunya, Khadijeh Mirdamadai, adalah sosok yang tekun membaca Al Quran dan buku. Dia juga mendukung anaknya melawan pemerintahan dinasti Pahlavi.

Khamenei memulai pendidikan di usia empat tahun. Ia mempelajari Al-Quran, dan menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah Islam pertama di Mashhad.

Ia tak menyelesaikan sekolah menengah atas, melainkan lanjut di sekolah teologi dan belajar dari ulama Islam terkemuka pada masanya, seperti ayahnya, dan Syekh Hashem Ghazvini. Pada tahun-tahun berikutnya, ia melanjutkan studinya di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah yang lebih bergengsi di Najaf dan Qom.

Di Qom, Khamenei belajar dari dan menjalin hubungan dekat dengan sejumlah ulama Muslim terkenal termasuk Ayatollah Khomeini, yang populer di kalangan seminaris muda karena penolakan dan perlawanan dia terhadap Shah Pahlavi.

Setelah lulus, Khamenei mengajar mata kuliah yurisprudensi dan kelas interpretasi teologi publik. Ia juga ikut menentang pemerintahan Pahlavi dan menjadi aktivis.

Sebagai seorang aktivis, Khamenei berulang kali ditangkap polisi rahasia Shah (SAVAK) dan dijatuhi hukuman pengasingan di kota terpencil Iranshahr. Namun, ia bisa kembali dan ikut protes yang menyebabkan pemerintahan Pahlavi berakhir.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi