Jakarta, CNN Indonesia --
Pasukan Israel menembak mati anak perempuan usia 9 tahun yang sedang belajar di kelas di salah satu sekolah Gaza Utara, Palestina, pada Kamis (9/4).
Kala itu, Ritaj Abdulrahman Rihan dan 40 murid lain tengah berlatih soal matematika berupa pengurangan angka empat digit di Sekolah Abu Ubaida Bin Al Jarrah, Beit Lahia, Gaza utara.
Ritaj menulis soal-soal itu, tetapi dia tak bisa menyelesaikannya. Bukan karena tak sanggup, melainkan dibunuh pasukan Israel. Ruang yang tersisa dalam bukunya bercak-bercak darah, bukan jawaban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia ditembak secara brutal oleh pasukan Israel di bagian kepala saat sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Ritaj sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi meninggal sebelum orang tuanya mengucapkan perpisahan. Ibu anak itu, Ola, tak menyangka putrinya tewas.
"Pagi ini saya sudah memakaikan seragam, menyisir rambut, dan mengikatnya untuk sekolah," kata Ola, ke Middle East Monitor.
"Tapi, dia dikembalikan ke saya dalam keadaan meninggal, dengan wajah berlumuran darah. Saya masih belum bisa menerima kenyataan ini," imbuh dia.
Ola lalu menunjukkan catatan terakhir anaknya yang berisi darah ketimbang tinta.
"Ini buku catatannya, dan ini pelajaran yang dia pelajari hari ini, tapi tak bisa diselesaikan. Ini adalah halaman-halaman yang ternoda darah putri saya. Ini bukan tinta; ini darah putri saya," kata dia.
Ola lalu berujar, "Buku catatan ini adalah bukti terbesar kejahatan Israel terhadap anak-anak kita."
Ayah Ritaj, Abdulrahman, sama terkejutnya. Setiap hari, dia mengantar putri pertamanya ke sekolah agar bisa belajar seperti anak-anak lain di dunia.
"Hari ini, sekitar satu jam setelah saya mengantarnya, saya menerima kabar bahwa putri saya dibunuh," kata Abdulrahman.
"Saya tidak pernah menyangka akan menerima kabar pembunuhannya saat dia berada di tempat belajar. Itu adalah kejutan yang tak terkatakan," imbuh dia.
Abdulrahman mengenang anaknya sebagai putri yang sehat, cerdas, dan tangguh karena bisa melewati agresi Israel selama lebih dari dua tahun. Dia juga mengungkapkan Ritaj gemar belajar dan selalu antusias untuk berangkat ke sekolah.
"Ritaj adalah anak pertama kami, kebahagiaan pertama kami," ujar dia.
Keluarga Abdulrahman tinggal di tenda darurat setelah rumah mereka hancur akibat serangan Israel. Meskipun demikian, mereka bersikeras agar Ritaj tetap bersekolah, dan dia harus berjalan kaki sekitar 1 km setiap hari.
Selama dua tahun terakhir, Ritaj tak sekolah karena agresi brutal Israel. Ini adalah tahun ajaran pertama yang bisa dia ikuti setelah perjanjian gencatan senjata pasukan Zionis dan Hamas.
Meskipun kelas diadakan di bangunan yang rusak atau tenda darurat, ayahnya mengatakan itu masih lebih baik daripada tidak sekolah sama sekali.
Sekolah itu terletak di daerah yang disebut area relatif aman di Gaza utara, sekitar 2 km dari "Garis Kuning" yang diberlakukan Israel. Batas wilayah ini ditetapkan dan ditandai secara sepihak oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Deklarasi tersebut menetapkan sebagian area yang disebut zona terlarang tak mengizinkan warga Palestina memasukinya.
Namun, unit artileri dan penembak jitu Israel yang ditempatkan di sepanjang "Garis Kuning" secara rutin melepaskan tembakan ke lingkungan permukiman di dalam zona yang seharusnya aman.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
1













































