Jakarta, CNN Indonesia --
Uranium Iran jadi sorotan setelah Teheran disebut sepakat mengurangi dan memindahkan uranium yang sudah diperkaya ke negara ketiga sebagai respons proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Namun, Iran memiliki syarat ketat, yakni jaminan uranium bisa dikembalikan jika perundingan gagal. Mereka juga menolak fasilitas nuklir dibongkar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa hari sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menekankan prioritas pemerintah sangat jelas.
"Untuk saat ini, kami memutuskan untuk fokus mengakhiri perang, karena ini jadi perhatian seluruh kawasan, bangsa kami, dan komunitas internasional," kata Esmail, mengutip Tasnim News Agency.
Lantas, sebenarnya apa itu uranium dan apa saja kegunaannya?
Apa itu Uranium?
Menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), uranium adalah unsur radioaktif yang terdapat secara alami, dengan nomor atom 92. Unsur ini termasuk dalam kelompok khusus unsur yang disebut 'aktinida', unsur-unsur yang ditemukan relatif terlambat dalam sejarah.
Unsur ini mengalami peluruhan seiring waktu dan melepaskan energi dalam proses tersebut. Sifat-sifat khususnya menjadikan uranium sebagai sumber bahan bakar reaktor nuklir.
Uranium identik dengan pengembangan bom nuklir. Namun, dalam bentuk alaminya, uranium tak bisa langsung dijadikan bom, karena perlu melewati proses pengayaan, yakni meningkatkan kadar isotop tertentu di dalamnya.
Uranium alam mengandung sekitar 99,3 persen uranium-238 dan hanya 0,7 persen uranium-235. Menurut Nuclear Threat Initiative, uranium-235 inilah yang bisa memicu reaksi berantai, baik di dalam reaktor pembangkit listrik maupun di dalam bom nuklir.
Iran saat ini disebut memiliki cadangan uranium yang diperkaya hingga 60 persen, jauh melampaui kebutuhan sipil, dan jadi sumber kegelisahan AS dan Israel.
7 kegunaan uranium selain buat senjata
Ribut-ribut mengenai uranium ini pun memunculkan satu pertanyaan, apakah uranium hanya untuk membuat senjata dan jadi alat tawar dalam perang AS-Iran?
1. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
Salah satu kegunaan terbesar uranium di dunia adalah untuk PLTN. Reaksi berantai yang dihasilkan uranium-235 menghasilkan panas luar biasa, yang kemudian diubah menjadi listrik.
Menurut World Nuclear Association, saat ini sekitar 9 persen listrik dunia berasal dari tenaga nuklir, dan tren ini sedang naik daun karena banyak negara mencari energi rendah karbon.
Iran juga memiliki satu PLTN yang beroperasi di Bushehr yang dibangun bersama Rusia.
2. Propulsi kapal selam dan kapal induk
Kapal selam bertenaga nuklir dapat menyelam berbulan-bulan tanpa perlu naik ke permukaan untuk mengisi bahan bakar. Hal ini yang membuat kapal selam nuklir menjadi aset militer paling berharga, dan bukan kebetulan, AS juga mengoperasikan armada kapal selam nuklir terbesar di dunia.
3. Terapi kanker
Melansir Kementerian Energi AS, reaktor nuklir berbahan bakar uranium menghasilkan radioisotop, atom radioaktif yang digunakan dalam dunia medis. Lebih dari 50 juta prosedur kedokteran nuklir dilakukan setiap tahun di seluruh dunia.
Peneliti di Departemen Energi AS bahkan mengembangkan uranium-230 sebagai bahan dasar terapi kanker yang disebut targeted alpha therapy, sebuah terapi yang mengantar partikel radioaktif langsung ke sel kanker, tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
4. Desalinasi air dan panas industri
Panas yang dihasilkan reaktor nuklir tak hanya bisa dikonversi menjadi listrik, tapi juga bisa dimanfaatkan secara langsung. Di beberapa negara seperti Swedia, Rusia, dan China, surplus panas dari reaktor digunakan untuk memanaskan gedung saat musim dingin.
Sejumlah industri juga mulai mengembangkan panas nuklir untuk desalinasi, mengubah air laut menjadi air minum, yang relevan untuk negara-negara yang mengalami krisis air bersih.
5. Penyeimbang pesawat
Uranium deplesi atau 'sisa' dari proses pengayaan yang radioaktivitasnya jauh lebih rendah, pernah digunakan sebagai bobot penyeimbang di pesawat komersial.
Boeing 747 generasi awal, misalnya, menggunakan uranium deplesi di bagian ekor dan sayap untuk menjaga keseimbangan terbang. Alasannya sederhana, uranium sangat padat, sehingga bobotnya besar, tapi volumenya kecil
6. Pelindung radiasi di rumah sakit
Uranium deplesi juga digunakan sebagia pelindung di peralatan radiologi medis dan kontainer pengangkut material radioaktif. Densitasnya yang tinggi membuatnya efektif menahan paparan radiasi, sehingga melindungi pasien dan tenaga medis dari bahaya paparan radioaktif.
7. Tenaga roket
NASA sempat mengembangkan roket berbahan bakar nuklir. Konsepnya disebut Nuclear Thermal Propulsion (NTP), di mana uranium berperan memicu reaksi fisi di dalam reaktor, panas yang dihasilkan kemudian memanaskan hidrogen cair hingga suhu ekstrem, mengubahnya jadi gas bertekanan tinggi yang disemburkan sebagai daya dorong.
Uranium di sini bukan yang keluar dari nosel, melainkan 'kompor'-nya. Efisiensinya dua hingga tiga kali lipat lebih baik dibanding roket kimia konvensional, dan secara teori dapat memangkas waktu perjalanan ke Planet Mars.
NASA dan DARPA sempat serius mengembangkan teknologi ini lewat program DRACO (Demonstration Rocket for Agile Cislunar Operations) senilai US$499 juta, melibatkan Lockheed Martin dan BWX Technologies, dengan target uji terbang ke orbit pada 2027.
Namun proyek ini dibatalkan pada Mei 2025, karena masalah pemotongan anggaran dan penurunan drastis biaya peluncuran roket konvensional akibat dominasi SpaceX.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
1















































