CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 06:15 WIB
Masjid Kayu Bondan di Indramayu. (DetikJabar/Sudedi Rasmadi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah perkampungan pesisir Desa Bondan, Kecamatan Sukagumiwang, Indramayu, berdiri sebuah masjid kayu yang menua bersama waktu.
Namanya Masjid Kuno Bondan. Usianya disebut telah mencapai 600 tahun, menjadikannya salah satu penanda awal penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Barat.
Bagi sebagian orang, masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Darussajidin. Namun, ada satu julukan yang paling melekat dan memantik rasa ingin tahu, yakni Masjid Sapu Angin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama itu bukan tanpa sebab. Ia terhubung dengan legenda ilmu kanuragan Jawa yang konon dikuasai oleh sang pendiri.
Sejarah lisan menyebut masjid ini didirikan pada 1414 oleh Syekh Dzatul Kahfi, yang juga dikenal sebagai Syekh Majagung atau Pangeran Atas Angin. Ia diyakini berasal dari Yaman dan menjadi salah satu tokoh penting penyebaran Islam di wilayah Indramayu.
Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, Pangeran Atas Angin disebut menguasai ilmu 'Sapu Angin', sebuah kemampuan spiritual dalam tradisi kanuragan Jawa.
Dari situlah julukan Masjid Sapu Angin lahir. Legenda ini terus hidup, melekat dalam ingatan kolektif warga, dan menjadi bagian dari identitas kultural masyarakat setempat.
Lebih tua dari struktur pemerintahan Cirebon maupun Indramayu, Masjid Kuno Bondan kerap disebut sebagai salah satu 'masjid moyang' di Jawa Barat. Ia bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu transformasi sosial dan spiritual masyarakat pesisir.
Pada 2022, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Indramayu resmi menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya. Status ini menegaskan nilai historis dan arkeologis masjid yang telah berdiri sejak abad ke-15 tersebut.
"Masjid ini kala itu berfungsi sebagai pusat dakwah, tempat masyarakat pesisir belajar agama sekaligus membangun peradaban baru," ujar perwakilan TACB Indramayu, Dedy S. Musashi, dikutip dari Detik.
Secara arsitektural, Masjid Kuno Bondan memancarkan karakter kuat bangunan tradisional Jawa. Struktur panggungnya bertumpu pada rangka kayu jati tanpa paku atau besi.
Sistem pasak yang digunakan menjadi bukti kecanggihan teknik konstruksi masa lampau yang selaras dengan alam.
Atapnya berbentuk limasan dengan penutup sirap kayu. Meski telah beberapa kali mengalami perbaikan, bentuk aslinya tetap dipertahankan.
Di bagian dalam, tiang-tiang penyangga berdiri kokoh menopang bangunan, sementara ornamen-ornamen sederhana memadukan unsur budaya lokal dan nilai-nilai Islam.
Dominasi material kayu memang membuat bangunan ini tampak hangat dan autentik. Namun, di sisi lain, ia juga rentan terhadap cuaca dan usia. Karena itu, perawatan rutin tak pernah berhenti dilakukan.
Pada 2024, Pemerintah Kabupaten Indramayu mengucurkan dana untuk pemugaran bersama tim konservasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Barat.
Perbaikan difokuskan pada bagian atap serta pembersihan kimiawi memolo, elemen puncak atap yang menjadi identitas penting bangunan.
Pendataan dan penelitian berkala juga terus dilakukan untuk memastikan keaslian dan kestabilan struktur masjid tetap terjaga. Hingga kini, Masjid Kuno Bondan masih aktif digunakan warga.
Setiap Ramadan, suasana masjid semakin semarak. Warga berdatangan untuk berbuka puasa bersama, salat tarawih, tadarus, hingga mengikuti bazar Ramadan.
Serambi masjid kerap menjadi ruang berbincang, tempat warga menunggu waktu sahur sambil menikmati angin malam pesisir.
Di sanalah, di antara kayu-kayu tua dan legenda yang tak lekang waktu, Masjid Kuno Bondan tetap berdiri, menjaga cerita tentang iman, sejarah, dan identitas yang telah berusia enam abad.
(ana/tis)

2 hours ago
1
















































