Selular.ID – Dikepung pesaing-pesaing berat seperti TikTok, Telegram, dan Snapchat, hingga kini WhatsApp tetap menjadi aplikasi perpesanan terpopuler di dunia, dengan lebih dari 3 miliar pengguna aktif bulanan.
Bersama dengan Instagram yang juga dimiliki Meta Group, WhatsApp adalah aplikasi perpesanan teratas di lebih dari 100 negara, dengan basis pengguna yang signifikan di India (853,8 juta), Brasil (148 juta), dan Indonesia (112 juta).
Meskipun merupakan platform perpesanan global yang dominan, belakangan WhatsApp menghadapi tantangan yang signifikan dan beragam di banyak negara, mulai dari larangan total hingga kekhawatiran tentang disinformasi dan privasi data.
Selain isu perlindungan generasi muda yang rentan paparan konten negatif dan pornografi, WhatsApp juga menghadapi tantangan signifikan dan beragam di bidang geopolitik.
Sebagai alat komunikasi penting di era digital, WhatsApp kerap menjadi sumber gesekan antara negara, badan keamanan, dan pendukung privasi.
Tantangan ini meliputi larangan total, kerentanan pengawasan, penyebaran informasi yang salah, dan konflik terkait kedaulatan digital.
Dengan alasan melindungi keamanan negara, WhatsApp sepenuhnya dilarang atau sangat dibatasi di sejumlah negara, seperti China, Korea Utara, Rusia, Suriah, dan Iran.
Beberapa negara di Timur Tengah, termasuk UEA, Qatar, dan Yordania, memilih untuk memblokir fitur panggilan suara dan video (VoIP) WhatsApp namun tetap mengizinkan pengiriman pesan teks.
Baca Juga:
Dengan memblokir layanan suara dan video, operator selular setempat tidak sepenuhnya terdisrupsi, sehingga pendapatan tidak terjun bebas, seperti yang terjadi di banyak negara termasuk Indonesia.
Di sisi lain, kebijakan larangan terhadap media sosial besutan Mark Zukerberg itu, sering kali berasal dari peraturan telekomunikasi lokal, masalah keamanan nasional, atau pembatasan konten.
Terbaru, langkah drastis dilakukan oleh pemerintah Rusia. Dari sebelumnya membatasi, negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin itu, sekarang sepenuhnya memblokir WhatsApp.
Sebuah langkah yang menurut perusahaan merupakan bagian dari upaya untuk mendorong orang menggunakan aplikasi pengawasan milik negara.
WhatsApp mengakui hal ini dalam sebuah unggahan di X belum lama ini, merujuk pada aplikasi pesan Max yang telah lama dipromosikan kepada warga sebagai alternatif dari aplikasi Barat.
Seorang perwakilan Kremlin mengatakan kepada BBC News bahwa pemblokiran WhatsApp dilakukan karena keengganan perusahaan induk Meta Platforms untuk “mematuhi norma dan ketentuan hukum Rusia”.
Perwakilan tersebut tampaknya menambahkan bahwa mereka bersedia melonggarkan pemblokiran jika perusahaan tersebut mematuhi hukum dan “berdialog”.
Sebelumnya, Rusia telah mengambil langkah-langkah untuk menurunkan kinerja aplikasi pesan tersebut dengan memperlambat layanannya.
Dua platform media sosial lainnya di bawah naungan Meta, Instagram dan Facebook juga telah dihapus dari direktori internet negara beruang merah itu.
Dalam unggahannya, WhatsApp mengecam upaya pemerintah Rusia untuk “mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi pribadi dan aman”, menggambarkannya sebagai langkah mundur yang membahayakan keselamatan pengguna.
“Kami terus melakukan segala yang kami bisa untuk menjaga agar pengguna tetap terhubung.”
Selain WhatsApp, regulator Rusia Roskomnadzor belum lama ini menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap aplikasi pesan Telegram yang sangat populer karena alasan keamanan.
Di sisi lain, Max secara resmi ditetapkan sebagai “aplikasi pesan nasional” negara tersebut pada 2025. Diluncurkan pada Maret 2025 oleh VK, perusahaan di balik jejaring sosial terkemuka Rusia, VKontakte yang dikendalikan negara, meski secara resmi dipresentasikan sebagai produk swasta.
Menurut saluran populer Nezygar, mengutip sumber, “proyek ini berada di bawah pengawasan khusus blok politik internal Kremlin”.
Aplikasi pesan ini dipromosikan secara besar-besaran melalui kampanye yang didukung negara yang menampilkan pejabat seperti Menteri Pengembangan Digital Maksut Shadayev, serta blogger dan selebriti populer.
Pada Juni 2025, Shadayev membahas pengembangan Max selama pertemuan dengan Presiden Putin.
Kemudian di bulan yang sama, Putin menandatangani undang-undang yang menetapkan “aplikasi pesan multifungsi nasional”, yang dirancang untuk terintegrasi dengan layanan negara, seperti situs web Gosuslugi (Layanan Negara), perbankan, dan pendidikan, menjadikannya sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada 15 Juli 2025, Kremlin melaporkan bahwa Kommunikatsionnaya Platforma (Platform Komunikasi), anak perusahaan dari holding VK, akan mengawasi pengoperasian dan pengembangan “aplikasi pesan nasional” sebagai bagian dari implementasi undang-undang yang ditandatangani oleh Putin.
Peluncuran resmi Max berlangsung pada musim panas tahun lalu. Sebelumnya, versi beta aplikasi pesan ini yang tersedia di App Store (Apple) dan Play Store (Google) memungkinkan pengguna untuk mengobrol, melakukan panggilan, mengirim pesan suara, dan berbagi file.
Fungsionalitasnya diperluas pada musim gugur 2025 untuk mencakup saluran yang mirip dengan yang ada di Telegram.
Para pejabat mengatakan Max akan segera menjadi “aplikasi super” Rusia: platform tunggal untuk pesan, pembayaran, sekaligus layanan pemerintah yang terintegrasi.
Meski baru seumur jagung, Max mengklaim kini terdapat lebih dari 18 juta akun terdaftar dibandingkan hanya 1 juta pada Juni tahun lalu.
Demi mempercepat jumlah pengguna, mulai 1 September 2025, Max harus diinstal sebelumnya di semua ponsel pintar, tablet, komputer, dan TV pintar yang dijual di Rusia.
Waktu yang dipilih Kremlin sangat disengaja. Sejak pertengahan Agustus, pengguna WhatsApp dan Telegram tidak dapat melakukan panggilan suara, dengan koneksi yang langsung gagal atau terputus dalam hitungan detik.
Belakangan, Roskomnadzor secara resmi memblokir fitur panggilan suara di kedua aplikasi pesan tersebut, dengan alasan penggunaannya oleh penipu dan teroris, meskipun langkah ini telah memengaruhi warga biasa yang mengandalkan layanan ini untuk menghemat biaya seluler dan roaming internasional.
“Banyak perusahaan Rusia masih sepenuhnya bergantung pada aplikasi pesan Telegram dan WhatsApp untuk panggilan kerja. Pembatasan panggilan ini sekali lagi menunjukkan bagaimana ketergantungan semacam itu mempertanyakan kelangsungan hidup perusahaan secara keseluruhan,” kata CEO Telecom Daily, Denis Kuskov, kepada RBC Life.
Terlepas dari pro dan kontra, kehadiran Max di Rusia dipastikan menjadi lonceng kematian WhatsApp, sekaligus mengubah landscape media sosial yang selama bertahun-tahun dikuasai barat.
Dengan adanya Max, Rusia kini mengadopsi pola yang sebelumnya sukses dipraktekkan oleh China.
Sejak awal kebangkitan industri internet tiga dekade lalu, kebijakan yang ditempuh Beijing justru lebih ketat. Platform-platform media sosial buatan barat, tak mudah beroperasi.
Sebaliknya, China mendorong berbagai aplikasi lokal yang kini tumbuh meraksasa, berkat kebjiakan perlindungan oleh negara.
Saat ini aplikasi media sosial utama dan khusus di China meliputi WeChat (komunikasi & super app), Douyin (video pendek, versi asli TikTok), Xiaohongshu/Rednote (gaya hidup & e-commerce), dan Weibo (mikroblog).
Berbagai platform tersebut mendominasi ekosistem digital China karena batasan akses ke media sosial Barat.



















































