OJK Ungkap Dampak Rupiah Jebol Rp18 Ribu ke Industri Perbankan

8 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp18 ribu per dolar AS.

Menurutnya, dampak langsung terhadap sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, sejauh ini masih relatif terkendali. Pada perdagangan Jumat (5/6) sore, rupiah berada di level Rp18.036 per dolar AS.

"Terkait dengan pergerakan nilai tukar rupiah, OJK melihat bahwa dampak langsung terhadap sektor jasa keuangan khususnya di perbankan saat ini masih relatif terkendali," kata Friderica dalam konferensi pers RDKB Mei 2026, Jumat (5/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari ketahanan permodalan perbankan yang masih kuat. Hingga April 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) industri perbankan tercatat sebesar 23,97 persen.

"Hal ini kalau rekan-rekan media bisa lihat dari rasio kecukupan modal perbankan yang masih solid dengan capital adequacy ratio per April tahun ini masih sebesar 23,97 persen, sehingga ini masih memberikan ruang yang cukup, ruang penyangga yang cukup dalam menyerap berbagai potensi risiko," ujarnya.

Selain permodalan yang kuat, OJK juga menilai eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar masih terjaga. Hal itu terlihat dari posisi devisa neto (PDN) yang secara konsisten berada jauh di bawah batas maksimal 20 persen dari modal bank.

Meski menilai kondisi saat ini masih terkendali, Friderica menegaskan OJK tetap mewaspadai berbagai risiko yang dapat muncul apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Salah satunya adalah meningkatnya beban kewajiban valuta asing yang ditanggung korporasi. Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.

OJK juga mencermati kemungkinan kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional perusahaan, terutama jika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga komoditas energi global.

"Dampak kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional termasuk apabila disertai dengan kenaikan harga komoditas energi global, yang tentunya bisa mempengaruhi kualitas aset perbankan, khususnya penurunan kemampuan bayar debitur yang terdampak apabila kondisi keuangan tersebut terus berlanjut," kata Friderica.

Untuk mengantisipasi berbagai risiko itu, OJK akan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas valuta asing di industri perbankan.

Langkah yang dilakukan antara lain memantau posisi devisa neto harian, memastikan kecukupan likuiditas valas, hingga melakukan supervisory dialogue dengan bank yang memiliki akumulasi posisi tertentu.

Menurut Friderica, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan penerapan manajemen risiko pasar dan risiko likuiditas berjalan secara memadai di tengah dinamika nilai tukar. Di sisi lain, OJK juga akan terus mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) guna menjaga kecukupan likuiditas valuta asing dalam sistem keuangan.

"Stabilitas rupiah merupakan kepentingan bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor keuangan dan juga seluruh bangsa Indonesia," ujarnya.

Pernyataan OJK ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap arah pergerakan rupiah. Ekonom Ferry Latuhihin sebelumnya memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi terus melemah hingga mencapai Rp25 ribu per dolar AS pada akhir 2026 apabila tidak ada mitigasi risiko yang memadai dari sisi moneter maupun fiskal.

Menurut Ferry, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga dipicu sentimen domestik dan menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

[Gambas:Youtube]

(del/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi