Pembatasan Warga China saat Pertemuan Two Sessions Jadi Sorotan

12 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Pertemuan politik tahunan China yang dikenal sebagai "Two Sessions" atau "Dua Sesi" telah digelar di Beijing sejak 4 Maret 2026 lalu.

Forum ini mempertemukan delegasi dari seluruh negeri dalam sidang Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC) untuk menentukan arah kebijakan ekonomi, fiskal, dan prioritas nasional.

Namun di tengah jalannya pertemuan tersebut, Amnesty International Australia melaporkan adanya pengawasan ketat terhadap warga China yang mencoba menyampaikan keluhan kepada pemerintah pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan itu, sejumlah warga yang dikenal sebagai petitioners-yakni individu yang datang ke Beijing untuk mengajukan pengaduan terkait sengketa tanah, dugaan pelanggaran hukum, atau konflik dengan pejabat lokal-mengaku menghadapi penahanan, pengawasan, hingga kehilangan kontak.

Sistem pengaduan dan tekanan lokal

China memiliki sistem pengaduan resmi yang dikenal sebagai xinfang, yang secara teori memungkinkan warga menyampaikan keluhan ke otoritas tingkat lebih tinggi.

Namun kelompok hak asasi manusia menilai mekanisme ini jarang menghasilkan penyelesaian konkret. Para petitioner menyebut mereka sering dicegah oleh aparat sebelum mencapai kantor pemerintah pusat.

Upaya mencegah pengaduan mencapai Beijing disebut sebagai indikator kinerja baik di kalangan pejabat lokal. Selama periode Two Sessions, tekanan meningkat dengan target menjaga kondisi "nol pengaduan."

Para petitioner menceritakan bahwa aparat menggunakan berbagai metode, mulai dari pemanggilan ke kantor polisi, permintaan penandatanganan pernyataan, hingga pengawasan ketat untuk mencegah perjalanan ke ibu kota.

Seorang petitioner dari Baotou, Mongolia Dalam, yang menggunakan nama samaran Qiqi, mengatakan ia dipanggil ke kantor polisi pada 2 Maret.

Ia diminta menandatangani pernyataan untuk tidak mengunjungi lokasi sensitif seperti Lapangan Tiananmen, kompleks Zhongnanhai, dan kedutaan asing selama berlangsungnya pertemuan.

Qiqi juga menyebut aparat memperingatkan bahwa keberhasilan petitioner menyampaikan keluhan ke pemerintah pusat dapat berujung sanksi terhadap pemerintah daerah.

Menurutnya, warga yang mencoba membeli tiket menuju Beijing dapat langsung ditahan.

Laporan serupa juga datang dari sejumlah provinsi lain, menunjukkan adanya upaya yang lebih luas untuk membatasi pergerakan warga.

Laporan penahanan dan hilang kontak

Sejumlah petitioner dilaporkan kehilangan kontak setelah berada di Beijing.

Seorang warga Shandong, Sun Airong, dilaporkan didatangi aparat berulang kali di tempat tinggalnya di Beijing. Menurut kesaksian sesama petitioner, listrik di lokasi tersebut sempat diputus sebelum akhirnya Sun tidak dapat dihubungi.

Kasus lain melibatkan pasangan asal Shandong, Li Yanxiang dan Li Hongcai, yang mengaku berada di bawah pengawasan dan tekanan untuk meninggalkan ibu kota.

Tang Zhaoxing dari Fuzhou juga dilaporkan dibawa kembali ke daerah asalnya oleh aparat.

Dua petitioner asal Chongqing, Liu Chengbi dan Chen Dashu, terakhir terlihat di dekat Kementerian Keamanan Publik sebelum dilaporkan dibawa oleh petugas dari daerah asal mereka.

Keberadaan mereka hingga kini tidak diketahui, menurut jaringan sesama petitioner.

Pengawasan tidak hanya terjadi di Beijing, tetapi juga di daerah.

Sun Jinxiu dari Provinsi Gansu mengatakan ia dihentikan oleh polisi bersenjata pada akhir Februari saat berkunjung ke temannya. Ia kemudian dibawa ke kantor polisi dan ditahan sementara di fasilitas lain.

Ia juga menyebut aparat memasang kamera pengawas yang mengarah ke rumahnya beberapa hari sebelumnya.

Menurutnya, langkah tersebut mengganggu kehidupan pribadinya, terutama karena ia merawat ibunya yang berusia lanjut.

Upaya menghindari pembatasan

Beberapa petitioner mencoba menghindari pembatasan dengan meninggalkan kota asal sebelum Two Sessions dimulai.

Seorang petitioner dari Shanghai, Liu Dongbao, mengatakan ia pergi ke Provinsi Shaanxi bersama istrinya. Namun ia menyebut aparat tetap melacak keberadaannya dan meminta polisi setempat mencatat pergerakannya.

Ia mengaku diperingatkan untuk tidak pergi ke Beijing, serta pernah ditahan selama lebih dari tiga bulan pada tahun sebelumnya.

Kasus lain melibatkan Lu Fuzhong, yang dilaporkan dibawa kembali ke Shanghai oleh aparat setelah mencoba mengajukan pengaduan di daerah lain. Keluarganya kemudian menyatakan kehilangan kontak dengannya.

Pola pengamanan dan implikasi

Para analis menilai laporan tersebut mencerminkan pola pengamanan ketat yang kerap diterapkan selama Two Sessions.

Bagi pemerintah China, pertemuan ini merupakan momen penting untuk menampilkan stabilitas politik. Aksi protes atau pengaduan publik dinilai dapat merusak citra tersebut.

Karena itu, aparat disebut menggunakan langkah pencegahan untuk membatasi potensi gangguan sebelum muncul ke ruang publik.

Dalam struktur pemerintahan China, pejabat lokal juga menghadapi tekanan untuk mencegah pengaduan naik ke tingkat pusat.

Seiring berlangsungnya pertemuan, keluarga sejumlah petitioner yang dilaporkan hilang menyatakan belum mengetahui keberadaan kerabat mereka.

Sebagian berharap bahwa setelah periode politik sensitif ini berakhir, mereka yang ditahan dapat dibebaskan.

Namun untuk saat ini, laporan dari berbagai wilayah menunjukkan pola yang konsisten: upaya warga untuk menyampaikan keluhan melalui jalur resmi sering kali diiringi dengan peningkatan pengawasan dan pembatasan.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi