Penjelasan BI soal Rupiah Jatuh ke Atas Level Rp17 Ribu

15 hours ago 4

Bandung, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) buka suara soal pelemahan nilai tukar rupiah dalam yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. 

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya mengatakan bahwa pelemahan itu dipicu oleh perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran selama lebih dari sebulan belakangan ini.

Perang mendorong Amerika Serikat menggelontorkan belanja yang lebih besar dari seharusnya. Gelontoran biaya perang membuat defisit fiskal mereka membesar hingga mendorong imbal hasil US Treasury meningkat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan imbal hasil itulah yang kemudian mendorong pergerakan arus modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia sehingga menekan nilai tukar rupiah.

"Rentetan perang memang berdampak ke sektor keuangan, pergerakan arus modal dari negara berkembang ke AS menjadi lebih kencang, dampaknya apresiasi dolar. Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang dunia termasuk rupiah," katanya di Bandung, Jumat (24/4) sore.

Nah, untuk menahan agar tekanan tidak semakin dalam, Juli menambahkan BI meningkatkan intervensinya.

"Tidak hanya di spot tapi di forward juga, baik dalam negeri dan luar negeri. Kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas rupiah," katanya. 

Nilai tukar rupiah melemah dalam ke atas level Rp17 ribuan beberapa waktu belakangan ini.

Per Jumat (24/4) kemarin, mata uang garuda berada di level Rp17.229 per dolar AS.

Bukan semata tugas BI 

Ekonom senior Ryan Kiryanto mengatakan dalam menjaga stabilisiasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan besar imbas gejolak geopolitik belakangan ini sejatinya BI tak bisa kerja sendiri.

Bank sentral harus juga mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan lain termasuk pemerintah.

Dukungan salah satunya bisa dilakukan dengan kebijakan pengendalian impor.

Ia mengatakan pemerintah sudah memiliki kebijakan mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk membendung banjir barang impor. Menurutnya, kebijakan itu harus dijalankan secara konsisten supaya kerja BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah bisa lebih ringan.

Selain konsisten menerapkan kebijakan TKDN, pemerintah juga ia dorong dan desak untuk menggencarkan penggunaan bahan substitusi impor. Salah satu dorongan ia berikan terhadap penggunaan bahan baku subsitusi impor di sektor farmasi yang sekarang ini 90 persennya di datangkan dari China dan India.

Dukungan lain bagi BI juga bisa dilakukan dengan mendorong penguatan koordinasi KSSK supaya setiap keputusan dan pernyataan yang mereka keluarkan bisa lebih market friendly.

"BI dalam kondisi sekarang ini sudah mengerjakan yang jadi bagian dan tugasnya dalam menjaga rupiah. Tinggal otoritas lain juga harus kita dorong untuk melakukannya," katanya.

(agt)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi