Rahasia Blok M Bangkit Lagi dari Pusat Belanja Lawas Jadi Magnet Gen Z

14 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Kawasan Blok M kini kembali dipadati pengunjung, terutama saat akhir pekan. Ini berbanding terbalik dengan Blok M beberapa tahun silam yang nyaris tenggelam.

Jika beberapa tahun lalu lorong-lorong pusat belanja di kawasan ini sempat tampak lengang dengan banyak kios tutup, sekarang suasananya berbalik ramai.

Antrean kuliner mengular, kafe dipenuhi anak muda, hingga jalur pedestrian sekitar kawasan nyaris tak pernah benar-benar sepi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena bangkitnya Blok M tak terjadi secara tiba-tiba. Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai kawasan tersebut masih menyimpan memori kuat di benak masyarakat sebagai pusat pertemuan dan simpul transportasi Jakarta sejak puluhan tahun lalu.

"Blok M itu adalah brand masa lalu yang bersinar kembali menjadi brand masa kini. Jadi masa lalu itu memang Blok M itu menjadi hub, hub bagi mobilitas transportasi dan menjadi hub simpul perdagangan dan jasa," kata Yayat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (22/5).

Menurutnya, sejak dulu Blok M memang dirancang sebagai titik temu mobilitas warga sekaligus pusat aktivitas ekonomi. Alhasil, ingatan masyarakat terhadap kawasan tersebut tidak pernah benar-benar hilang meski popularitasnya sempat menurun.

[Gambas:Youtube]

Masa redup Blok M terasa ketika layanan transportasi bus konvensional perlahan tergantikan dan fungsi Terminal Blok M tak lagi menjadi pusat utama aktivitas warga seperti era Metro Mini, Kopaja, Mayasari Bakti, hingga PPD alias Damri.

"Dulu apa sih yang enggak ada di Blok M? Metro Mini, Kopaja, terus Mayasari Bakti, PPD, semua simpul pelayanan ke wilayah selatan itu ada di Blok M," ujarnya.

Kondisi itu kemudian diperparah saat pandemi Covid-19 datang. Aktivitas perdagangan turun drastis, daya beli masyarakat berubah, sementara tren belanja daring berkembang pesat. Peran Blok M sebagai pusat keramaian semakin tergerus.

"Blok M itu tambah cepat mati ketika Covid datang. Tidak ada perdagangan, daya beli kemudian berubah, online itu menjadi semarak. Jadi makin tergeruslah peran Blok M," tutur Yayat.

Transportasi massal hingga gaya hidup

Salah satu pemicunya yakni menguatnya fungsi Blok M sebagai simpul transportasi massal.

Yayat menilai integrasi layanan TransJakarta dan pengembangan TransJabodetabek membuat Blok M kembali strategis, karena menjadi titik pertemuan mobilitas dari berbagai wilayah penyangga Jakarta.

"Blok M menjadi hidup kembali ketika simpul layanan TransJakarta menjadi TransJabodetabek. Artinya ke Bogor, ke Bekasi, ke Cikarang, ke bandara, ke PIK, Alam Sutera, semua dikumpulkan di Blok M," tuturnya.

Selain itu, keberadaan MRT Jakarta juga turut mengubah wajah kawasan tersebut. Konsep transit oriented development (TOD) yang lama diwacanakan mulai terasa dampaknya setelah akses transportasi publik semakin terhubung.

"Sebagian besar bisnis retail, hotel atau kuliner itu berada di stasiun-stasiun angkutan massal," kata Yayat.

Di luar faktor transportasi, kebangkitan Blok M juga didorong perubahan fungsi kawasan yang menekankan gaya hidup dan wisata kuliner dibanding sekadar pusat belanja.

Revitalisasi sejumlah titik menjadi pemicu munculnya kembali keramaian. Salah satunya terlihat di kawasan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang kini ramai dipadati anak muda untuk berkumpul dan menikmati kopi.

Begitu pula dengan M Bloc Space yang lahir dengan memanfaatkan gedung lama percetakan uang milik Peruri, menjadi ruang kreatif baru.

"Revitalisasi di mana? Yang paling menarik adalah wisata kuliner, dengan keragaman masakan nusantara, harga terjangkau, kafe-kafe murah muda. Sasaran paling dicari? Gen Z," ujar Yayat.

Blok M juga disebut mengalami pergeseran identitas. Jika dahulu dikenal sebagai pusat UMKM aksesoris, fesyen, dan pertokoan lawas, kini justru identik dengan nongkrong, kuliner, hingga budaya populer anak muda.

Menurut Yayat, citra sosial Blok M sebagai ruang pergaulan anak muda Jakarta Selatan juga ikut menjaga daya tarik kawasan tersebut. Ia menyebut identitas 'anak Jaksel' masih melekat kuat pada Blok M hingga sekarang.

"Blok M itu kan juga kumpulan anak Jaksel. Jadi dari citra budaya, citra pergaulan enggak jatuh lah," ujarnya.

Kawasan ini juga dinilai berhasil memadukan nostalgia dengan kebutuhan gaya hidup baru. Jejak lama Blok M sebagai kawasan vintage dan pusat kuliner Jepang tetap dipertahankan, namun dikemas ulang dengan tren masa kini.

Dulu, kata Yayat, Blok M identik dengan ekspatriat Jepang dan festival budaya Jepang. Namun ketika kawasan industri seperti Cikarang berkembang, banyak ekspatriat berpindah dan peran Blok M sebagai pusat kuliner lintas budaya ikut memudar.

"Tapi ketika kawasan industri Cikarang berkembang, orang-orang Jepangnya berpindah ke sana. Jadi hilang peran dia sebagai pusat kuliner budaya antar bangsa," katanya.

Kini, kebangkitan Blok M justru datang lewat pendekatan berbeda seperti kuliner viral, kafe estetik, ruang kreatif, hingga aktivitas nongkrong yang dekat dengan budaya generasi muda.

Pada akhir pekan, pengunjung bahkan datang dari luar Jakarta menggunakan transportasi umum untuk berburu kuliner atau sekadar menikmati suasana kawasan.

"Apalagi sekarang orang setiap Sabtu-Minggu itu berwisata bayangkan aja ya dari Bogor, dari Cibinong, dari mana itu," ujar Yayat.

Ia menilai pola kebangkitan kawasan perkotaan seperti Blok M sebenarnya bisa diterapkan di lokasi lain, tetapi tidak mudah dilakukan. Faktor kepadatan pasar, keragaman fungsi kawasan, desain wilayah, hingga dukungan transportasi publik menjadi syarat utama.

Yayat mencontohkan kawasan Pasar Baru yang dulu juga sempat menjadi pusat perdagangan penting Jakarta. Namun kawasan tersebut menghadapi tantangan karena kelas menengah mulai berpindah ke kota penyangga dan akses transportasi publik tidak sekuat Blok M.

"Kalau Blok M orang datang naik angkutan massal semua. Ada MRT, TransJakarta udah enggak terlalu repot," ujarnya.

Karena itu, ia menilai keberadaan transportasi publik tetap menjadi faktor penting dalam menghidupkan kembali pusat-pusat kota lama.

"Sangat penting, di kota-kota besar semuanya begitu. Sebagian besar bisnis retail, hotel atau kuliner itu berada di stasiun-stasiun angkutan massal," ujar Yayat.

[Gambas:Video CNN]

(ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi