Red Hat Dorong Hybrid Cloud untuk Transformasi Infrastruktur TI

8 hours ago 4

Selular.ID – Red Hat mendorong perusahaan untuk mempercepat transformasi infrastruktur teknologi informasi (TI) melalui pendekatan hybrid cloud dan platform terpadu (unified platform).

Menurut Ashesh Badani, Senior Vice President and Chief Product Officer Red Hat, organisasi saat ini menghadapi tantangan baru dalam mengelola sistem legacy, aplikasi cloud-native, serta beban kerja Artificial Intelligence (AI) secara bersamaan, sehingga membutuhkan model operasional yang lebih fleksibel dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Ashesh Badani dalam ulasan mengenai arah transformasi infrastruktur digital di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat.

Ia menilai tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini tidak lagi sebatas memilih platform virtualisasi, tetapi bagaimana membangun fondasi teknologi yang mampu mendukung inovasi bisnis dalam jangka panjang.

Menurut Ashesh, selama sekitar satu setengah tahun terakhir industri menghadapi perubahan besar pada lapisan virtualisasi yang selama hampir dua dekade menjadi fondasi utama pusat data perusahaan.

Perubahan kondisi pasar tersebut mendorong banyak organisasi untuk mengevaluasi kembali strategi infrastruktur mereka, terutama terkait biaya operasional, fleksibilitas, dan kesiapan menghadapi adopsi AI.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Ia menjelaskan bahwa infrastruktur modern kini harus mampu menjalankan berbagai jenis beban kerja secara bersamaan.

Selain virtual machine (VM), organisasi juga mengoperasikan container untuk aplikasi cloud-native serta workload AI yang membutuhkan sumber daya komputasi tinggi, termasuk penggunaan graphics processing unit (GPU).

Dalam kondisi tersebut, pendekatan modernisasi yang hanya berfokus pada migrasi teknologi dinilai tidak lagi memadai.

Banyak perusahaan masih memiliki investasi besar pada aplikasi lama yang belum tentu dapat dimodernisasi dengan mudah atau memiliki nilai ekonomis jika dipindahkan ke platform baru.

Sebagai alternatif, Red Hat mengusulkan pendekatan unified platform, yaitu model operasional yang memungkinkan virtual machine, container, dan workload AI berjalan dalam satu lingkungan yang konsisten.

Menurut perusahaan, penyatuan platform dapat membantu mengurangi kompleksitas pengelolaan infrastruktur sekaligus menjaga standar keamanan yang seragam di seluruh lingkungan TI.

Ashesh menilai tantangan terbesar transformasi digital justru berada pada aspek organisasi, bukan semata-mata teknologi.

Tim teknologi informasi harus memastikan sistem lama tetap beroperasi dengan tingkat ketersediaan tinggi sambil membangun arsitektur baru tanpa mengganggu layanan yang sedang berjalan.

Kondisi tersebut membuat proses migrasi sering kali dipandang sebagai proyek teknis biasa, padahal sebenarnya merupakan perubahan yang berdampak langsung terhadap operasional bisnis.

Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan visibilitas terhadap seluruh sistem yang dimiliki, disertai mekanisme pemulihan (fallback) apabila terjadi kendala selama proses transisi.

Red Hat juga menyoroti penggunaan public cloud sebagai salah satu opsi modernisasi.

Meski menawarkan kemudahan dan skalabilitas, Ashesh menilai pendekatan yang sepenuhnya bergantung pada satu penyedia cloud dapat mengurangi fleksibilitas organisasi, terutama terkait portabilitas aplikasi, kepatuhan terhadap regulasi, serta kebutuhan kedaulatan data.

Dalam konteks tersebut, hybrid cloud dipandang sebagai pendekatan yang memberikan keseimbangan antara fleksibilitas dan kendali.

Organisasi dapat memanfaatkan sumber daya cloud publik untuk menjalankan beban kerja tertentu, seperti model AI yang membutuhkan kapasitas komputasi besar, sementara aplikasi yang bersifat sensitif tetap dijalankan di pusat data internal.

Menurut Red Hat, model hybrid cloud juga memungkinkan perusahaan mengelola berbagai jenis workload dalam satu ekosistem operasional.

Pendekatan ini dinilai mampu menyatukan aplikasi legacy, layanan cloud-native, dan implementasi AI tanpa harus membangun lingkungan yang terpisah.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Red Hat mengembangkan Red Hat OpenShift Virtualization sebagai platform untuk menjalankan virtual machine dan container secara terpadu.

Berdasarkan data perusahaan, sepanjang tahun lalu jumlah virtual machine yang berjalan di OpenShift Virtualization meningkat lebih dari 400 persen.

Red Hat juga menyebut telah melakukan penilaian terhadap lebih dari 1 juta virtual machine yang direncanakan untuk dimigrasikan.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 400.000 virtual machine telah berhasil dipindahkan ke platform baru sebagai bagian dari proses transformasi infrastruktur pelanggan.

Ashesh menjelaskan bahwa peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak organisasi yang memanfaatkan momentum perubahan di industri virtualisasi untuk membangun fondasi TI yang lebih siap menghadapi kebutuhan masa depan, termasuk adopsi AI.

Sejumlah organisasi dari berbagai sektor telah menerapkan pendekatan tersebut, di antaranya ARSAT, BNP Paribas, EUROCONTROL, NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), serta Telenet.

Menurut Red Hat, organisasi-organisasi tersebut memanfaatkan platform perusahaan untuk memigrasikan virtual machine sekaligus mempersiapkan infrastruktur bagi implementasi AI di masa mendatang.

Red Hat menilai transformasi infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan penggantian teknologi, tetapi juga perubahan model operasional.

Dengan menggabungkan virtualisasi, container, hybrid cloud, dan AI dalam satu platform, perusahaan berharap organisasi dapat membangun lingkungan TI yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan bisnis sekaligus mendukung inovasi jangka panjang.

Baca Juga: Red Hat dan NVIDIA Luncurkan Platform AI Factory Enterprise

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi