Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Sabtu, 21 Mar 2026 20:45 WIB
Review film: setelah dua prekuel bagai uji coba, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa tampil lebih matang dan tampak seperti sudah mulai menemukan formulanya. (dok. Soraya Intercine Films via YouTube)
Endro Priherdityo
Naskah Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa ini lebih banyak sebagai penghormatan untuk kisah horor klasik Suzzanna, meski ada banyak ruang untuk hal baru.
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah delapan tahun, Luna Maya bisa dibilang kini sudah luwes memerankan sosok Ratu Horror Indonesia, mendiang Suzzanna Martha Frederika van Osch, yang terlihat dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.
Bukan hanya penampilan Luna Maya yang sudah luwes berakting dengan prostetiknya yang tebal dan kaku bagai botox itu, tetapi film ketiga dari waralaba reboot film horor klasik Suzzanna ini terbilang lebih baik dari dua sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan Sunil Soraya dan produser lainnya menunjuk Jujur Prananto untuk menulis naskah, sementara screenplay dipegang Sunil bersama Ferry Lesmana, dan kursi sutradara dipegang Azhar Kinoi Lubis merupakan hal yang tepat.
Setelah film pertama dan kedua yang terasa masih uji coba, kali ini Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa tampil lebih matang, lebih niat, dan tampak seperti sudah mulai menemukan formula "enak" untuk urusan naskah, akting, produksi, hingga latar.
Untuk urusan naskah --jujur saja-- tangan Jujur Prananto lebih lihai dalam menyusun cerita terbaru warlaba Suzzanna reborn ini. Jujur tampaknya benar-benar jujur setia pada komposisi film horor klasik Suzzanna.
Plot pada Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memang langsung mengingatkan akan film-film sang Ratu Horror Indonesia pada empat dekade lalu, seperti keberadaan pesan moral, tokoh heroik, hingga pakem "yang benar menang, yang batil kalah."
Meski dialog sudah dimodernisasi sehingga tidak sekaku dulu, suasana klasiknya pun masih terasa. Seperti pada racikan horor yang tidak mengandalkan pada jumpscare, apalagi kekerasan dan semburan darah seperti yang mulai mendominasi definisi "horor" saat ini, tetapi lebih pada konteks cerita dan suasana natural yang terbangun.
Setelah delapan tahun, Luna Maya bisa dibilang kini sudah luwes memerankan sosok Ratu Horror Indonesia, mendiang Suzzanna Martha Frederika van Osch, yang terlihat dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. (dok. Soraya Intercine Films via YouTube)
Satu hal yang perlu diapresiasi dari Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa adalah kinerja Rahmat Syaiful sebagai penanggung jawab kamera, Rico Marpaung dan T. Moty D. Setyanto selaku pengarah seni, dan tim desain produksi yang akhirnya membuat film suram tanpa harus minim cahaya sampai terasa mati lampu.
Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa terbilang sukses menemukan lokasi yang sangat sempurna untuk kisah perang dukun santet ini, lengkap dengan bar dangdut lawas, rumah penduduk yang sangat melokal, hingga kondisi sungai yang indah dan alami.
Meski ada beberapa tanda era kiwari di desa tersebut, seperti plang jalur evakuasi tsunami yang masif muncul sejak 2004 lupa untuk dikondisikan saat syuting untuk film berlatar cerita medio '80-an ini, hal tersebut masih terbilang minor.
Tim pencayahaan dan editing serta efek visual juga berjasa membuat visual film ini tetap terasa nyaman meski ada adegan menyusuri tepian hutan desa yang gelap, atau saat mengikuti Reza Rahadian di tengah kegelapan.
Hal ini membuktikan bahwa horor tidak harus selalu berkaitan dengan visual bak cahaya lampu 3 watt sekarat yang membuat penonton harus memicingkan mata hanya untuk memastikan apa yang sebenarnya mereka tonton.
Meskipun begitu, memang naskah Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa masih jauh dari kata "luar biasa". Naskah Jujur masih bisa untuk dipangkas dan dipadatkan hingga tak sampai lebih dari dua jam.
Review film: Naskah Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa masih jauh dari kata "luar biasa". Naskah Jujur Prananto masih bisa untuk dipangkas dan dipadatkan hingga tak sampai lebih dari dua jam. (dok. Soraya Intercine Films via YouTube)
Atau, dieksplorasi lebih dalam berkaitan dengan dunia persantetan itu sendiri sehingga akan lebih 'dark' daripada sekadar ular keluar dari telinga atau banaspati lewat di atas rumah.
Satu bagian yang sebenarnya cukup seram dari cerita ini adalah di bagian gua, di mana penggunaan figuran untuk lelembut sangat on point. Sayangnya, Jujur dan Azhar kurang konsisten mempertahankan itu saat membutuhkan para lelembut untuk menebar teror.
Selain itu, "misteri" yang melingkupi kisah Reza Rahadian dalam film ini terlalu mudah untuk ditebak. Bagian cerita tersebut sebenarnya masih bisa untuk dibuat twist dan drama yang lebih emosional sehingga akan memperkaya aspek humanis dari film ini, selain daripada pesan aktivisme politis soal kekuasaan dan konflik agraria yang sudah ada.
Gagasan tersebut juga akan cocok dengan keberadaan Reza Rahadian yang tak perlu diragukan dalam mengeksekusi tuntutan naskah yang dramatis dan humanis. Itu pun dibuktikan Reza dengan adegan one take close up yang diambil Azhar.
Review Suzzanna,Santet Dosa di Atas Dosa: "misteri" yang melingkupi kisah Reza Rahadian dalam film ini terlalu mudah untuk ditebak.: (dok. Soraya Intercine Films via YouTube)
Naskah Jujur Prananto ini mungkin memang lebih banyak sebagai penghormatan untuk kisah horor klasik Suzzanna, yang juga terlihat dari tampilan Clift Sangra, alih-alih mencoba memberikan terlalu banyak sisipan kebaruan yang mungkin dikhawatirkan mengaburkan niat tribut.
Namun rasanya bukan hal yang tercela untuk membawa 'roh' Suzzanna pada sesuatu cerita yang baru. Karena karisma Sang Ratu Horor yang legendaris memang terlalu sayang bila hanya sekadar jadi nostalgia generasi tua dan terabaikan oleh generasi baru Indonesia yang sibuk dengan istilah aura farming.
(end)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
3










































