Jakarta, CNN Indonesia --
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkap penjajakan ekspor beras Indonesia ke Malaysia sebesar 200 ribu ton kini telah masuk tahap negosiasi harga.
Jika terealisasi, nilai transaksi pengiriman beras tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun.
"Informasi penjajakan ke Malaysia sekarang lagi tahap negosiasi harga," kata Rizal di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rizal, pembahasan harga berlangsung dinamis karena Malaysia saat ini tak hanya melirik Indonesia, tetapi juga tengah berburu pasokan dari negara produsen beras lain di kawasan seperti Thailand dan Vietnam.
"Karena memang sekarang beberapa negara juga sudah banyak rebutan untuk beli beras, mengimpor beras dari Thailand, Vietnam, dan mudah-mudahan Malaysia ini akan mengimpor beras ke kita," ujarnya.
Rizal menambahkan komunikasi dagang antara kedua negara sudah bergerak lebih jauh. Pemerintah, kata dia, kini telah memasuki putaran kedua pembicaraan.
"Sudah melakukan negosiasi tahap kedua," katanya.
Ia memperkirakan potensi nilai ekspor tersebut bisa menembus Rp2 triliun dengan asumsi harga jual beras berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram.
"Kalau 200 ribu ton itu tinggal dikalikan aja, Rp10 ribu lah contohnya. Berarti kan sekitar Rp2 triliun," ucapnya.
Adapun cadangan beras pemerintah saat ini tercatat sudah mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Rizal sebelumnya juga menegaskan kondisi stok yang besar membuat peluang ekspor dinilai tidak akan mengganggu kebutuhan domestik maupun stabilitas harga beras nasional.
Selain Malaysia, pemerintah juga telah membuka peluang ekspor ke sejumlah negara lain seperti Filipina dan Papua Nugini. Bahkan pada awal 2026, Indonesia sudah merealisasikan ekspor perdana beras ke Arab Saudi sebanyak 2.280 ton.
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
7

















































