Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi
CNNIndonesia.comJakarta, CNN Indonesia --
Operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran tak berjalan mulus. Dua tujuan utama Amerika Serikat dan Israel dalam perang ini belum kesampaian, jika tak bisa dibilang gagal total.
Hingga hari ke-38 perang, tidak ada bukti serangan AS dan Israel berhasil memusnahkan depot-depot uranium yang dicurigai digunakan untuk program nuklir Iran.
Kerusakan infrastruktur Iran akibat serangan AS dan Israel, paling minimal hanya memperlambat kapasitas pengayaan uranium Negeri Para Mullah tersebut, bukan menghentikannya secara total.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koalisi AS dan Israel juga gagal mewujudkan pergantian rezim (rezim change). Pemimpin tertinggi Iran, Imam Ali Khamenei, memang berhasil dibunuh. Namun, kematiannya tak memancing eskalasi demo antipemerintah sebagaimana diharapkan. Sebaliknya, Iran hanya butuh sekitar satu pekan untuk menunjuk pemimpin tertinggi baru.
Jika kematian Khamenei adalah tragedi, maka penunjukan Mojtaba --anak kandung Khamenei-- sebagai pengganti ayahnya adalah sebuah satir politik tingkat tinggi yang dipersembahkan Iran kepada AS dan rezim zionis.
Pemilihan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran dalam waktu relatif cepat, tak sekadar menunjukkan kapasitas personalnya sebagai seorang rahbar. Lewat penunjukan ini, Iran seolah juga ingin menegaskan bahwa mereka memiliki 'seribu Khamenei' yang siap memimpin republik Islam, kapan pun dibutuhkan.
Iran juga tak terlihat goyah ketika elite-elite mereka yang lain ikut terbunuh dalam pertempuran. Intensitas serangan Iran relatif terjaga dengan menarget aset-aset strategis Amerika Serikat dan Israel, baik di Tel Aviv maupun di negara-negara Teluk. Kerusakan terhadap AS dan Israel akan semakin terasa jika Iran mampu konsisten melancarkan serangan yang terkalkulasi.
Pukulan lain bagi AS dan Israel adalah penutupan Selat Hormuz. Blokade salah satu jalur vital energi dunia ini telah menciptakan gejolak pasar energi.
Ketakutan krisis energi merebak di sejumlah negara akibat tersumbatnya distribusi minyak dunia di Selat Hormuz. Negara-negara yang bahkan tak berkepentingan dengan kampanye AS dan Israel di Iran, langsung menerapkan kebijakan efisiensi energi.
Kritik terhadap Trump dan Netanyahu bermunculan, termasuk dari negara-negara NATO, sekutu terdekat AS.
Sementara itu di dalam negeri, Presiden Trump menghadapi tekanan politik tak kalah serius. Demonstrasi besar No King merebak di banyak kota. Anggaran tambahan yang dibutuhkan Pentagon untuk membiayai perang, masih tertahan di kongres.
Dalih Trump dalam kampanye militer di Iran ikut diragukan. Ada banyak inkonsistensi antara apa yang diucapkan Trump dengan apa yang disampaikan sejumlah pejabat militer dan intelijen AS mengenai ancaman Iran yang sesungguhnya.
Tekanan juga dialami Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Perang Iran menelanjangi mitos iron dome Israel. Tak sedikit fasilitas penting Israel hancur. Kerusakan terjadi di Tel Aviv dan kota-kota penting lain, menghadirkan ketakutan bagi warga Israel.
Sejumlah analis memperkirakan Netanyahu tak akan mampu mempertahankan jabatannya jika gagal dalam kampanye militer di Iran.
Opsi terbatas dan konsekuensinya
Dari berbagai kesulitan dan tekanan politik yang dihadapi Trump dan Netanyahu, perang Iran kini hanya menyisakan sedikit opsi bagi mereka.
Salah satu opsi adalah melanjutkan perang hingga AS dan Israel berhasil menggulingkan rezim dan memusnahkan kapasitas uranium Iran.
Opsi ini cukup rasional. Sebab, hanya dengan melanjutkan dan memenangkan perang, AS dan Israel berpeluang membangun Iran baru yang mereka inginkan.
Membangun Iran baru yang 'demokratis' tanpa kepemimpinan para mullah adalah kebutuhan bagi AS, terutama Israel. Sebuah 'Iran baru' berarti akan memutus sumber dukungan terhadap Hizbullah, Hamas, dan Houthi. Iran yang baru juga akan menciptakan kawasan yang lebih kooperatif bagi agenda-agenda Israel di Palestina dan Timur Tengah.
Tak kalah, bagi kelompok zionis sayap kanan, sebuah Iran baru artinya menghapus ancaman eksistensial yang dihadapi Israel.
Jelas opsi melanjutkan perang menawarkan janji-janji yang menggiurkan bagi AS dan Israel. Persoalannya, siapa bisa menjamin opsi ini mendatangkan kemenangan bagi AS dan Israel? Tanpa melibatkan nuklir atau negara-negara sekutu, jangan-jangan, opsi ini hanya akan membawa AS dan Israel ke dalam perang berkepanjangan.
Opsi lain bagi Trump dan Netanyahu adalah menghentikan kampanye militer di Iran. Jalan ini bisa diambil secara sepihak, lewat meja perundingan atau desakan terhadap Iran untuk menyudahi perang yang tak pernah mereka mulai.
Jika opsi ini yang diupayakan, artinya, Trump dan Netanyahu harus rela melihat Iran kembali dipimpin oleh para imam dalam waktu yang tak singkat.
Ada risiko besar, terutama bagi Israel, apabila para mullah tetap memimpin Iran. Sejumlah analis meyakini jika Republik Islam Iran mampu bertahan dalam perang eksistensial ini, tak ada alasan lagi bagi para elite Iran untuk menahan program nuklirnya.
Setelah porak-poranda dibombardir AS dan Israel, mewujudkan program uranium untuk nuklir adalah pilihan paling rasional untuk mencegah terulangnya serangan serupa di masa depan.
Tentu saja, Iran dengan kemampuan nuklir adalah momok bagi Amerika Serikat dan Israel, juga bagi kawasan.
Iran dengan nuklir akan menjadi ancaman bagi Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Bagi Israel, Iran dengan nuklir mempersempit ruang gerak dan proyek zionisme di Palestina dan Timur Tengah. Yang lebih menakutkan, terutama bagi kelompok konservatif, Iran dengan nuklir akan dianggap sebagai ancaman eksistensial terhadap Israel.
Timur Tengah baru
Kepemilikan nuklir Iran juga diyakini sebagian analis akan memicu kesalingcurigaan (security dillema) yang pada akhirnya mendorong perlombaan nuklir di kawasan.
Arab Saudi sudah sejak jauh hari menegaskan ambisi nuklir seandainya Iran berhasil memiliki senjata pemusnah massal.
Dalam skenario tersebut, bukan tak mungkin negara-negara lain mengikuti langkah Saudi. Proliferasi nuklir bisa merebak di Timur Tengah.
Timur Tengah yang dihuni negara-negara nuklir tentu saja menakutkan. Namun, bayangan ini tidak sepenuhnya buruk.
Bagaimanapun, kawasan ini membutuhkan arsitektur keamanan baru dalam menciptakan stabilitas tanpa harus bergantung pada otoritas Amerika Serikat dan Israel.
Selama ini, Timur Tengah sebagai salah satu titik vital stabilitas perekonomian dan keamanan dunia, justru menjadi kawasan yang paling rapuh.
Sepanjang sejarah kawasan ini diwarnai konflik bersenjata, baik perang antar negara, konflik perbatasan, terorisme, hingga perang mengatasnamakan agama.
Negara-negara utama di kawasan ini tak mampu menciptakan stabilitas yang kokoh. Negara-negara utama seperti Turki, Israel, Iran, Irak, dan Arab Saudi, malah terjebak pada permusuhan dan saling curiga.
Tak dipungkiri, campur tangan Amerika Serikat sedikit banyak mampu menyokong stabilitas kawasan. Namun, stabilitas Timur Tengah di bawah otoritas Amerika Serikat adalah stabilitas semu dan tak kalah rapuh. Sebab tidak jarang Amerika Serikat justru menjadi pemicu destabilitas kawasan, sebagaimana terjadi di Irak, Libya, dan Suriah baru-baru ini.
Keberpihakan Amerika Serikat terhadap Israel ikut menambah kecurigaan dan sentimen negatif dari sejumlah negara.
Dalam payung stabilitas semu itu, proliferasi nuklir di nuklir di Timur Tengah mungkin bisa menawarkan sebuah alternatif yang lebih baik.
Dalam hubungan internasional, nuklir tak hanya melulu bicara soal ancaman dan potensi katastropik. Kepemilikan nuklir memiliki logika tersendiri yang bisa menciptakan stabilitas.
Penganut realisme politik melihat nuklir sebagai pilihan rasional bagi negara di tengah sistem yang anarkis. Kepemilikan nuklir bisa menjamin kedaulatan negara, mengimbangi kekuatan militer musuh dan menjaga mereka dari invasi musuh. Dengan kata lain, kepemilikan nuklir menjadi sebuah strategi pencegahan (deterrence) yang dapat diandalkan.
Stabilitas dalam kerangka kepemilikan nuklir, bekerja dari asumsi bahwa perang nuklir akan memicu pemusnahan total negara-negara yang terlibat. Dengan daya rusak nuklir yang demikian besar, setiap negara akan berpikir ulang sebelum memulai suatu perang atau menyerang negara nuklir.
Perang Dingin menjadi contoh terbaik bagaimana kepemilikan nuklir mencegah Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat konflik terbuka. Dalam perjalanannya, kedua negara bahkan menginisiasi perjanjian pelucutan senjata, termasuk nuklir (detente).
Apa yang dialami Amerika Serikat dan Uni Soviet bisa saja terulang di Timur Tengah jika Trump dan Netanyahu mengambil opsi menghentikan perang. Pertanyaannya, siapkah Israel dan Amerika Serikat melihat Timur Tengah baru, yakni Timur Tengah yang terproliferasi?
(bac/bac)
Add
as a preferred source on Google

15 hours ago
2















































