Trump Sesumbar Mau Kelola Selat Hormuz Bersama Ayatollah Iran

11 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sesumbar ingin mengelola Selat Hormuz bersama pemimpin tertinggi Iran atau Ayatollah.

Ketika diwawancara oleh wartawan di Florida, AS, pada Senin (23/3) waktu setempat, Trump mengatakan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka jika negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran berjalan sukses.

Ia mengungkap keinginan Selat Hormuz dikendalikan bersama Ayatollah Iran, meskipun ia tidak memberikan jawaban yang jelas siapa Ayatollah yang dimaksud.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mungkin saya. Mungkin saya dan Ayatollah, siapapun Ayatollah itu, siapapun Ayatollah berikutnya," kata Trump dilansir dari Reuters.

Trump pun menyoroti serangan dalam konflik AS-Israel melawan Iran telah menargetkan sebagian besar kepemimpinan senior Iran. Dia bilang akan ada perubahan rezim yang sangat serius.

"Secara otomatis akan ada perubahan rezim," kata Trump.

Selama akhir pekan kemarin, AS dan Iran disebut terus melakukan diskusi dalam rangka mengurangi ketegangan.

Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" mengenai penyelesaian masalah di Timur Tengah.

Menurut Trump, orang-orang yang ada di pertemuan tersebut adalah individu yang mampu diajak berdiskusi secara masuk akal.

"Kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid. Orang-orang di dalam tahu siapa mereka, mereka sangat dihormati, dan mungkin salah satu dari mereka akan persis seperti yang kita cari," ujar Trump.

AS telah menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan setelah tercipta sebuah "percakapan produktif" menurut Trump. Pernyataan Trump tentang penundaan serangan mengakibatkan reaksi cepat dari pasar, salah satunya harga minyak mentah Brent turun tajam.

Di sisi lain, menurut kantor berita Fars dari Iran yang mengutip sebuah sumber, Teheran mengaku tidak ada komunikasi langsung atau tidak langsung dengan AS sebelum penundaan penyerangan tersebut.

Adapun Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dunia yang dilalui 20 persen minyak dan gas alam cair global, ditutup sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari di Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Pada Sabtu (21/3) waktu setempat, Trump memperingatkan bahwa pembangkit listrik Iran akan dihancurkan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz untuk semua pelayaran dalam waktu 48 jam.

Namun, Trump memutuskan untuk menunda pelaksanaan ancamannya terhadap Iran.

Trump menegaskan menunda ancaman serangan AS terhadap pembangkit listrik Iran. Dia menantikan langkah selanjutnya, sehingga memutuskan menunda pelaksanaan ancamannya selama lima hari ke depan.

(dhz/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi