Waspada Satwa Liar Masuk Permukiman saat El Nino Melanda

16 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar mengingatkan potensi risiko hewan liar, termasuk predator, yang turun gunung atau keluar dari hutan menuju ke permukiman warga imbas fenomena el nino.

Hal tersebut disampaikan Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University merespons penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal fenomena El Nino tahun ini. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Abdul Haris, dikutip dari detikEdu pada Jumat (1/5)kondisi tersebut menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan, yang berujung pada lingkungan yang semakin kering.

Peningkatan suhu dan kekeringan, katanya, berdampak langsung pada ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar.

"Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar," ujarnya.

Produktivitas tumbuhan sebagai sumber pakan-seperti buah, daun, dan vegetasi bawah hutan, ikut menurun selama kemarau panjang. Jika berlangsung lama, hal itu berdampak pada satwa di alam liar.

Ketika sumber makanan dan air di habitat alami menipis, satwa liar cenderung memperluas wilayah jelajahnya. Mereka dapat keluar dari kawasan hutan menuju area perkebunan, lahan pertanian, bahkan permukiman warga.

"Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar," kata Mustari.

Situasi ini kerap memicu kerusakan tanaman, gangguan terhadap warga, hingga ancaman bagi keselamatan satwa itu sendiri.

Selain kekeringan, fenomena el nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga merusak habitat satwa serta mengganggu rantai makanan.

"Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang," ujarnya.

Mustari menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui perlindungan habitat alami, pengawasan wilayah rawan kebakaran, serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Baca berita lengkapnya di sini.

(dka)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi