Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Operasi Epic Fury di Iran kini telah usai.
Dalam konferensi pers pada Selasa (5/5), Rubio menyebut operasi militer tersebut selesai karena semua tujuan utama Washington sudah tercapai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Operasi itu sudah selesai. Epic Fury, sebagaimana diberitahukan Presiden kepada Kongres, kami telah menuntaskan tahap tersebut. Kami telah mencapai tujuan operasi itu. Kini kami beralih ke Project Freedom," ujar Rubio.
Project Freedom merupakan inisiatif Presiden AS Donald Trump untuk mengawal kapal-kapal melintasi Selat Hormuz yang masih diblokade Iran. Namun, baru sehari dijalankan, proyek ini dihentikan sementara dengan alasan Trump ingin membuat kesepakatan dengan Iran.
Apa itu Operasi Epic Fury?
Operasi Epic Fury merupakan operasi militer AS terhadap Iran yang diluncurkan pada 28 Februari lalu.
Menteri Pertahanan atau Menteri Perang Pete Hegseth saat itu mengatakan misi Epic Fury yakni menghancurkan rudal ofensif Iran, angkatan laut Iran, serta infrastruktur keamanan lainnya. Tujuan akhir operasi ini memastikan Iran "tidak akan pernah memiliki senjata nuklir."
Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS, Operasi Epic Fury dilakukan atas permintaan dan untuk membela Israel selaku sekutu dekat AS.
"Serta, untuk menjalankan hak inheren Amerika Serikat untuk membela diri," demikian pernyataan Kemlu AS.
Kemlu AS mengeklaim AS bertindak sesuai batasan hukum internasional saat meluncurkan operasi ini. Penilaian hukum itu disebut didasarkan pada fakta bahwa Iran telah melakukan "agresi jahat" selama berpuluh-puluh tahun, khususnya terhadap AS, Israel, dan negara-negara Timur Tengah.
"Pertama, Iran bertanggung jawab atas serangan bersenjata yang tak terhitung jumlahnya terhadap Amerika Serikat, baik melalui militernya sendiri maupun melalui mitra dan proksinya," demikian pernyataan Kemlu AS.
"Sebagai konteks, permusuhan Iran terhadap Amerika Serikat dimulai dengan Revolusi 1979, penjarahan Kedutaan Besar AS di Teheran, dan penyiksaan serta penganiayaan terhadap sandera Amerika selama 444 hari."
Kedua, rezim Iran disebut terus mempertahankan sikap bahwa Israel harus dimusnahkan. Demi mencapai tujuan itu, Iran disebut mengorganisir, mendanai, dan mendukung serangan teroris terhadap Yahudi, Israel, dan kepentingan Israel di seluruh dunia.
Ketiga, dukungan Iran yang luas dan jangka panjang terhadap kelompok milisi Hizbullah, Hamas, Houthi, dan lainnya disebut telah memungkinkan mereka meluncurkan serangan yang mendestabilisasi Israel, AS, Argentina, dan negara-negara lain.
Alasan-alasan ini yang menjadi dasar bagi AS menjalankan Operasi Epic Fury terhadap Iran, hingga menewaskan lebih dari 3.000 orang di negara itu.
Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari sendiri melumpuhkan jantung rezim Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas bersama sejumlah keluarganya.
Tewasnya Khamenei memicu ledakan amarah di Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung meluncurkan serangan balasan yang menyeret negara-negara Timur Tengah.
Selat Hormuz turut menjadi korban dalam perang. IRGC memblokade jalur vital yang bertanggung jawab atas 20 persen pasokan minyak dan gas dunia tersebut.
Selain karena tewasnya Khamenei, amarah Iran salah satunya juga disebabkan oleh serangan AS di Minab. Serangan AS menghantam sekolah perempuan yang berdekatan dengan pangkalan militer Iran. Sekitar 170 orang tewas, mayoritas anak-anak, dalam serangan tersebut.
(blq/rds)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
1

















































