Dianggap Lebih Sehat, Kenapa ASI Berwarna Kuning?

1 hour ago 2

CNN Indonesia

Senin, 18 Mei 2026 10:45 WIB

ASI berwarna kuning selama ini dianggap lebih sehat sehingga para ibu terlalu fokus pada warna. Padahal, warna kuning bukan segalanya. Ilustrasi. Kenapa ASI bisa berwarna kuning? Dokter jelaskan warna ASI dapat berubah secara alami. (Azhar Hanifah)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian orang menganggap ASI berwarna kuning lebih sehat buat si kecil dibanding ASI berwarna putih. Kenapa ASI bisa berwarna kuning? Dokter pun berikan penjelasan.

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Naomi Esthernita Fauzia Dewanto menjelaskan warna ASI dapat berubah secara alami. Salah satu penyebabnya adalah kandungan beta karoten dari makanan tertentu, seperti wortel atau labu, yang bisa membuat ASI tampak lebih kekuningan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang secara ilmiah membuat kuning itu beta karoten yang tinggi," ujar Naomi pada CNNIndonesia.com, Rabu (13/5).

Dokter Spesialis Anak itu menjelaskan bahwa ASI yang biasanya tampak lebih kuning dan kental adalah kolostrum, yakni ASI pertama yang keluar pada tiga hingga lima hari awal setelah persalinan.

Kolostrum mengandung imunoglobulin atau zat kekebalan tubuh dalam jumlah tinggi. Namun, setelah fase tersebut, ASI akan berubah menjadi ASI transisi lalu ASI matur yang biasanya tampak lebih putih dan encer.

Dalam satu sesi menyusui pun, ASI bisa berubah. ASI awal atau foremilk cenderung lebih encer, sedangkan ASI akhir atau hindmilk biasanya lebih kental karena kandungan lemaknya lebih tinggi.

"ASI itu dinamis. Komposisinya berubah inter dan intra individual," ujarnya.

Sederhananya, komposisi ASI antara satu ibu dan ibu lainnya tidak selalu sama. Bahkan pada ibu yang sama, kandungan ASI pagi, siang, dan malam dapat berubah mengikuti kebutuhan bayi.

Naomi mengatakan ASI bukan hanya berisi nutrisi, tetapi juga berbagai zat bioaktif seperti lactoferrin, human milk oligosaccharide (HMO), probiotik, hingga hormon pertumbuhan yang membantu mendukung daya tahan tubuh dan tumbuh kembang bayi.

Hanya saja, anggapan bahwa ASI berwarna kuning lebih sehat membuat ibu berupaya agar memiliki ASI berwarna kuning. Saat ASI warnanya tidak kuning, muncul kekhawatiran si kecil tidak mendapat nutrisi optimal.

Memompa ASI membantu menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan bayi. Aktivitas ini juga merangsang payudara untuk terus memproduksi ASI.Ilustrasi. Dokter mengingatkan warna ASI bisa berubah secara alami. Saat ASI tidak berwarna kuning, sebenarnya ibu tidak perlu khawatir. (Belinda Safitri)


Akan tetapi Naomi menegaskan warna bukan ukuran utama kualitas ASI. Menurutnya, ibu tidak perlu sengaja mengejar warna ASI agar tetap kuning.

"Yang dicari bukan warna kuningnya, tetapi nutrisinya," katanya.

Ibu lebih disarankan menjaga pola makan bergizi seimbang, cukup istirahat, cukup cairan, dan kondisi mental yang baik selama menyusui.

Menurut Naomi, stres juga dapat memengaruhi produksi ASI karena hormon stres bisa menekan hormon prolaktin yang berperan dalam pembentukan ASI.

"Kalau stres, hormon stres menekan hormon prolaktin. Jadi hormon ASI-nya ketekan," kata Naomi.

Ia menegaskan ASI yang diproduksi ibu pada dasarnya sudah menyesuaikan kebutuhan masing-masing bayi. Karena itu, fokus utama bukan mengejar warna kuning, melainkan memastikan ibu tetap sehat dan proses menyusui berjalan baik.

(anm/els)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi