Musim Kemarau Mulai Bikin Panas, BMKG Ungkap Deret Ancamannya

6 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap risiko kekeringan pada musim kemarau 2026 yang telah dimulai pada April. Salah satu pemicu kekeringan ini adalah fenomena El Nino.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, berdasarkan analisis terbaru BMKG, musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada periode April hingga September dengan karakteristik yang lebih kering dari normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal, sehingga curah hujan berada pada kategori rendah. Artinya, kondisi tahun ini akan lebih kering dibandingkan normal," kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Karhutla yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan di Jakarta, Senin (6/4).

Ia menambahkan musim kemarau tahun ini juga diperkirakan datang lebih awal dan berdurasi lebih panjang.

Selain itu, terdapat potensi penguatan fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 yang dapat semakin meningkatkan risiko terjadinya karhutla.

BMKG juga mencatat peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) sejak awal tahun. Hingga awal April 2026, jumlah hotspot telah mencapai lebih dari 1.600 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut dinamika iklim global, khususnya fenomena ENSO, menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.

"Pemanasan di wilayah Nino 3.4 berpotensi berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat, yang dapat menekan pembentukan awan hujan di Indonesia dan menyebabkan penurunan curah hujan," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa periode kritis potensi karhutla diperkirakan terjadi mulai Mei hingga September, dengan puncak pada Agustus hingga September, seiring meluasnya wilayah dengan curah hujan di bawah normal.

Meski potensi kekeringan sudah di depan mata, BMKG melihat adanya potensi hujan di beberapa wilayah rawan dalam sepekan ke depan.

"Dalam sepekan ke depan masih terdapat potensi hujan di beberapa wilayah rawan, sehingga ini menjadi window of opportunity untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sebelum kondisi semakin kering," terang Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.

Menurutnya, pemanfaatan informasi cuaca jangka pendek semacam ini menjadi hal penting dalam mendukung langkah mitigasi di lapangan.

Lebih lanjut, BMKG juga terus memperkuat pemantauan hotspot secara real-time melalui data satelit yang diperbarui setiap lima menit, serta menyediakan sistem peringatan dini berbasis indeks kerawanan kebakaran hutan dan lahan.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi